Perkuat Ketahanan Pesisir Utara Jawa Hadapi Perubahan Iklim dengan 269.000 Mangrove

Kamis 24-09-2026,18:25 WIB
Perkuat Ketahanan Pesisir Utara Jawa Hadapi Perubahan Iklim dengan 269.000 Mangrove

PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk (PGN) dan grup, Subholding Gas Pertamina, melalui program Corporate Social Responsibility (CSR) Tanam Pantau, sejak 2024 sampai saat ini telah menanam lebih dari 269.000 bibit mangrove di sejumlah wilayah pesisir Pan--istimewa

JAWA TENGAH, DISWAY.ID – PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk (PGN) dan grup, Subholding Gas Pertamina, melalui program Corporate Social Responsibility (CSR) Tanam Pantau, sejak 2024 sampai saat ini telah menanam lebih dari 269.000 bibit mangrove di sejumlah wilayah pesisir Pantai Utara Jawa, meliputi Semarang, Kendal, Batang, Indramayu, Gresik, dan Bekasi.

Upaya ini dilakukan untuk memperkuat ekosistem sekaligus meningkatkan ketahanan kawasan pesisir dalam menghadapi dampak perubahan iklim.

Penguatan ketahanan kawasan pesisir menjadi bagian dari upaya PGN grup merespons tantangan perubahan lingkungan.

BACA JUGA:Gunakan CNG PGN, Hotel Platinum Yogyakarta Catat Efisiensi Biaya hingga 30%

Penanaman mangrove dilakukan untuk menjaga fungsi ekologis pesisir sekaligus mendukung kemampuan kawasan dan masyarakat dalam menghadapi perubahan lingkungan.

Pendekatan serupa juga diterapkan melalui inovasi di sektor pangan, salah satunya pengembangan Padi Biosalin bersama BRIN dan pemerintah daerah yang saat ini telah mencapai luasan 550 Hektare dari awal dimulai program di luasan 5 hektare pada akhir 2024.

Dari lahan tidak produktif menjadi lahan yang berhasil memanen 5 - 7 Ton gabah kering per hektare per masa tanam.

BACA JUGA:RSUP Dr Sardjito Beralih ke Layanan Gas Bumi PGN, Operasional Rumah Sakit Lebih Efisien dan Ramah Lingkungan

Kepala Bidang Pengelolaan Daerah Aliran Sungai, Rehabilitasi dan Konservasi Sumber Daya Alam, Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Provinsi Jawa Tengah, Pujiharini, mengatakan penanaman mangrove berperan dalam rehabilitasi ekosistem sekaligus memperkuat ketahanan kawasan pesisir menghadapi perubahan iklim.

“Kawasan pesisir memiliki tantangan yang semakin besar akibat perubahan lingkungan dan perubahan iklim. Upaya tersebut (penanaman mangrove) perlu dilakukan secara berkelanjutan dan disinergikan dengan pengelolaan kawasan Hulu sampai Hilir khususnya di Daerah Aliran Sungai agar manfaat ekologis mangrove dapat dirasakan dalam jangka panjang,” ujarnya.

Kepala DLH Kabupaten Batang, Rusmanto, menyebut pengelolaan dan pemulihan lingkungan pesisir membutuhkan sinergi antara pemerintah daerah, dunia usaha, lembaga riset, dan masyarakat.

BACA JUGA:PGN Perluas Pasar Gas Bumi, Direktur Komersial Raih Best CMO Award 2026

Kolaborasi tersebut diperlukan agar penanaman mangrove dapat terintegrasi dengan pengelolaan kawasan pesisir di tingkat daerah.

“Pengelolaan kawasan pesisir tidak bisa dilakukan oleh pemerintah sendiri. Perlu kolaborasi dengan berbagai pihak agar kawasan pesisir tetap terjaga dan memberikan manfaat bagi masyarakat secara berkelanjutan. Sosialisasi dan pelibatan masyarakat pesisir juga pemahaman akan pentingnya tembok alami abrasi laut, adalah mitigasi awal agar mereka disadarkan akan bahaya hilangnya lahan mata pencaharian ke depan, jika penanaman mangrove tidak dilaksanakan,” tuturnya.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel

Sumber:

Berita Terkait