BI Waspadai Kenaikan Yield Obligasi AS dan Suku Bunga The Fed

Kamis 15-10-2026,13:13 WIB
BI Waspadai Kenaikan Yield Obligasi AS dan Suku Bunga The Fed

Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI, Erwin G.Hutapea-ist-

JAKARTA, DISWAY.ID-- Ancaman kenaikan yield obligasi AS secara intraday kini turut menimbulkan keresahan tersendiri bagi pasar modal domestik, terutama mengingat dampaknya terhadap potensi peningkatan suku bunga The Fed.  

Kekhawatiran serupa pun juga turut diutarakan oleh Bank Indonesia (BI).  

Dalam hal ini, Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI Erwin G. Hutapea, rilis data inflasi AS yang lebih tinggi dari perkiraan dan meningkat dari periode sebelumnya mendorong ekspektasi kenaikan suku bunga AS yang lebih agresif oleh The Fed.  

BACA JUGA:Harga Emas Antam Melemah Rp 13.000 ke Rp 2.561.000 per gram

“Selain itu, ketidakpastian penyelesaian konflik di Timur Tengah mendorong harga minyak tetap tinggi di atas USD105 per barel dan meningkatkan risiko fiskal ke depan,” ujar Erwin kepada media secara daring, pada Kamis (15/10).  

Selain itu di sisi lain, Indeks dolar AS (DXY) sempat meningkat tajam ke level tertinggi sejak Mei 2025, dan yield US Treasury tenor 2 tahun sempat naik 12 bps ke level 4,90 persen.  

Dengan perkembangan tersebut, Erwin menambahkan, memburuknya sentimen risk off tersebut juga turut berpotensi untuk mendorong penguatan USD.  

“Ini dapat mendorong penguatan USD serta tekanan arus keluar dana dari portofolio aset negara emerging markets di tengah kenaikan yield obligasi,” pungkas Erwin.  

Dalam menghadapi situasi tersebut, Erwin menegaskan bahwa BI akan terus hadir di pasar untuk memastikan mekanisme pasar berjalan dengan baik dan stabilitas nilai tukar Rupiah terjaga sesuai fundamentalnya, melalui sejumlah intervensi yang akan dilakukan secara konsisten.  

Beberapa intervensi tersebut sendiri adalah transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar offshore, transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik, disertai pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder.  

BACA JUGA:Dimash Qudaibergen Live in Indonesia 12 Desember 2026

Selain itu, Bank Indonesia mengelola struktur suku bunga di pasar uang dengan menjaga kecukupan likuiditas di pasar uang.  

“Koordinasi dan komunikasi dengan korporasi dan pelaku pasar terus dilakukan secara intensif,” tutup Erwin.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel

Sumber: