Dinkes DKI Waspadai Peningkatan Kasus ISPA Imbas Asap Karhutla

Jumat 16-10-2026,22:03 WIB
Reporter: Cahyono |
Dinkes DKI Waspadai Peningkatan Kasus ISPA Imbas Asap Karhutla

Kepala Dinkes DKI Jakarta Ani Ruspitawati mewaspadai potensi peningkatan kasus ISPA di tengah memburuknya kualitas udara. -Cahyono-

JAKARTA, DISWAY.ID – Dinas Kesehatan (Dinkes) DKI Jakarta mewaspadai potensi peningkatan kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) di tengah memburuknya kualitas udara akibat asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Kepala Dinas Kesehatan DKI Jakarta Ani Ruspitawati mengatakan, tren kasus ISPA di Jakarta dipengaruhi oleh berbagai faktor, mulai dari kualitas udara, kondisi iklim, hingga tingginya mobilitas penduduk di wilayah aglomerasi Jakarta dan sekitarnya.

"Ada kemungkinan akan meningkat," kata Ani saat dikonfirmasi wartawan pada Jumat, 16 Oktober 2026.

BACA JUGA:Belanja Pemerintah Capai Rp929,4 Triliun, Produk Dalam Negeri Tembus Rp389,2 Triliun

Berdasarkan data Dinkes DKI Jakarta, jumlah kasus ISPA sepanjang 2026 mengalami fluktuasi.

Kasus ISPA tertinggi tercatat pada bulan Februari 2026, kemudian menurun hingga Juni 2026.

Namun, sambung Ani, jumlah kasus ISPA kembali meningkat pada Juli hingga September 2026.

Hingga September 2026, jumlah kasus ISPA di Jakarta tercatat mencapai 278.000 kasus.

Sementara itu, hingga 15 Oktober 2026, jumlah kasus ISPA tercatat sebanyak 39.320 kasus. Angka tersebut masih berpotensi meningkat.

Untuk mengantisipasi peningkatan kasus, Dinkes DKI Jakarta terus memperkuat pemantauan tren penyakit dan kesiapsiagaan fasilitas pelayanan kesehatan (faskes).

"Serta edukasi pencegahan melalui PHBS (perilaku hidup bersih dan sehat), etika batuk, dan penggunaan masker saat sakit atau berada di lingkungan padat," tambahnya.

Masyarakat juga diimbau menerapkan etika batuk serta menggunakan masker ketika sedang sakit atau berada di lingkungan padat.

BACA JUGA:3 Gedung Sekolah Rampung Direhab, Rano Soroti Kemanan bagi Siswa

Langkah tersebut dilakukan untuk meningkatkan kewaspadaan masyarakat terhadap risiko gangguan pernapasan, terutama di tengah kondisi kualitas udara yang memburuk.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel

Sumber: