Jeritan Sektor Riil dan Pekerja Lapangan di Tengah Tekanan Ekonomi
Kekayaan tiga orang terkaya di Indonesia menyusut-Unsplash/Towfiqu barbhuiya-
Kondisi tersebut menjadi tantangan tambahan bagi seseorang yang mengaku sudah tidak memiliki dana darurat. Ketika ada kebutuhan mendesak, ia tidak mempunyai simpanan yang bisa segera digunakan untuk mengantisipasinya.
"Dana darurat saya 0, ditambah saya masih memiliki orang tua yg sakit kanker stadium 3, memiliki BPJS tapi BPJS sekarang untuk pengobatan pakai limit," imbuhnya.
Mutiara menilai beban hidup pekerja berpenghasilan menengah belum sepenuhnya dipertimbangkan dalam sistem perpajakan saat ini.
“Tidak mempertimbangkan, malah membebani banget,” katanya.
Baginya, tekanan ekonomi bukan hanya soal besarnya penghasilan, tetapi juga berapa banyak uang yang tersisa setelah kebutuhan sehari-hari dipenuhi. Harga bahan pokok, biaya sekolah, listrik, dan air menjadi pengeluaran yang sulit dihindari.
Ia berharap pemerintah dapat lebih memperhatikan kenaikan berbagai kebutuhan tersebut agar masyarakat berpenghasilan menengah tidak semakin kesulitan mempertahankan daya beli.
“Harusnya harga bahan pokok, biaya sekolah, listrik dan air itu bisa disesuaikan, agar ekonomi kaum menengah enggak tercekik seperti ini,” tuturnya.
Daya Beli Melemah, UMKM Ikut Merasakan Dampaknya
Mutiara juga menyoroti perubahan perilaku belanja masyarakat. Menurut pengamatannya, masyarakat mulai menahan pengeluaran, sementara usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) tidak selalu ramai pembeli setiap hari.
Ia menduga kenaikan biaya operasional dan kebutuhan pokok turut membuat masyarakat lebih berhati-hati dalam membelanjakan uangnya.
“Harapannya mereka melihat sisi kaum menengah yang sekarang sudah mulai enggak mau belanja, atau bahkan UMKM saja dagangannya laku atau banyak peminat di tanggal tertentu saja. Itu karena harga-harga operasional dan kebutuhan pokok naik,” katanya.
Bagi Mutiara, persoalan daya beli terasa nyata dalam kehidupan sehari-hari. Penghasilan yang belum mencukupi membuatnya harus memangkas pengeluaran anak, menggunakan paylater untuk kebutuhan gizi, dan mengurungkan niat mencari pekerjaan tambahan karena tidak ingin anak-anak hanya mendapatkan sisa tenaga setelah ia bekerja seharian.
Di saat bersamaan, ia masih memikirkan orang tua yang sakit dan belum memiliki dana darurat untuk menghadapi keadaan tak terduga.
Ia berharap pemerintah memberi perhatian lebih besar kepada kelompok menengah yang harus berjuang memenuhi berbagai kebutuhan dengan penghasilan terbatas.
Sebab, ketika pengeluaran dasar terus menyerap pendapatan, kesempatan untuk membangun kembali tabungan dan memperkuat ketahanan keuangan keluarga menjadi semakin sulit.
"Harapannya mereka melihat sisi kaum menengah yang sekarang sudah mulai gak mau belanja atau bahkan umkm saja dagangan nya laku atau banyak peminat di tanggal tertentu saja itu karena harga harga operasional dan kebutuhan pokok naik," tuturnya.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel
Sumber: