Jeritan Sektor Riil dan Pekerja Lapangan di Tengah Tekanan Ekonomi
Kekayaan tiga orang terkaya di Indonesia menyusut-Unsplash/Towfiqu barbhuiya-
"Tidak memiliki tabungan karena tabungan sudah habis di akhir tahun kemarin," ungkapnya.
Di tengah kondisi tersebut, kebutuhan anak-anak menjadi salah satu hal yang tetap harus ia prioritaskan. Bahkan, untuk memastikan kebutuhan gizi anak terpenuhi, termasuk bekal sekolah dan vitamin, Mutiara mengandalkan layanan paylater.
Ia menggunakan fasilitas tersebut dengan limit mingguan Rp200.000. Bukan untuk memenuhi keinginan konsumtif, melainkan membantu mencukupi kebutuhan anak-anak di rumah.
"Punya paylater dengan limit Rp200 Ribu digunakan untuk mencukupi kebutuhan gizi anak anak dirumahe untuk bekal sekolah dan vitamin," jelasnya.
Kondisi keuangan yang semakin ketat juga memaksanya mengurangi pengeluaran untuk kegiatan tambahan anak atau extracurricular. Pos tersebut menjadi salah satu pengeluaran yang pertama kali ia pangkas ketika uang yang tersedia tidak lagi mencukupi.
Namun, penghematan memiliki batas. Ketika tabungan telah habis dan kebutuhan pokok tetap harus dibayar, Mutiara menghadapi pilihan yang tidak mudah untuk menjaga keuangan keluarganya tetap berjalan.
Bekerja Seharian, Tak Punya Ruang untuk Mencari Tambahan Uang
Mutiara menyadari bahwa menambah penghasilan dapat membantu memperbaiki kondisi keuangan keluarga. Ia pun sempat mempertimbangkan untuk mencari pekerjaan sampingan.
Sayangnya, waktu menjadi kendala. Setiap hari ia bekerja dari pukul 08.00 hingga 17.00. Jika harus kembali bekerja pada malam hari, waktu bersama anak-anak akan semakin berkurang.
“Iya, harusnya saya mencari kerja sampingan. Tapi di sisi lain, karena sudah kerja dari jam 8 sampai jam 5 sore, kalau malam masih kerja sampingan, anak-anak di rumah hanya dapat sisa tenaga saya. Jadi, saya urungkan niat itu,” ujarnya.
Pilihan itu membuatnya berada dalam situasi sulit. Tambahan penghasilan dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan keluarga, tetapi bekerja lebih lama berisiko mengurangi waktu dan tenaga yang bisa ia berikan kepada anak-anak.
Kekhawatiran Mutiara terhadap masa depan pekerjaan juga cukup besar. Meski telah memiliki sertifikasi brevet pajak, ia merasa masih perlu meningkatkan kompetensi agar memiliki nilai tambah di dunia kerja.
Ia menyoroti persyaratan ujian yang dinilainya rumit ketika harus memperoleh Surat Keterangan Terdaftar (SKT).
Di tengah tuntutan meningkatkan kemampuan profesional, kebutuhan rumah tangga tetap harus dipenuhi setiap bulan. Mutiara harus memikirkan keduanya ketika tabungan sudah tidak lagi tersedia sebagai penyangga keuangan.
Selain memenuhi kebutuhan anak-anak, Mutiara juga memikirkan kondisi orang tuanya yang menderita kanker stadium tiga.
Orang tuanya telah memiliki BPJS Kesehatan untuk pengobatan. Meski begitu, Mutiara mengaku khawatir terhadap pembiayaan pengobatan yang menurutnya memiliki batas tertentu.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel
Sumber: