Harga Minyak Dunia Tembus USD 92 per Barel, Bagaimana Nasib BBM Subsidi? Bahlil Buka Suara

Kamis 22-10-2026,11:30 WIB
Harga Minyak Dunia Tembus USD 92 per Barel, Bagaimana Nasib BBM Subsidi? Bahlil Buka Suara

Pengisian BBM subsidi di salah satu SPBU. -FOTO: Dokumentasi Pertamina Patra Niaga-

JAKARTA, DISWAY.ID - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia memastikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi tidak akan mengalami kenaikan meskipun harga minyak mentah dunia terus meningkat.

Pemerintah mengaku masih mampu menjaga stabilitas harga BBM subsidi di tengah tekanan harga energi global.

Kepastian tersebut menjadi kabar penting bagi masyarakat, terutama pengguna BBM bersubsidi yang mengandalkan bahan bakar dengan harga terjangkau untuk kebutuhan sehari-hari.

Pemerintah menyatakan akan terus memantau perkembangan harga minyak dunia dan dampaknya terhadap anggaran negara.

Bahlil menjelaskan, salah satu indikator yang menjadi perhatian pemerintah adalah Indonesian Crude Price (ICP), yakni harga rata-rata minyak mentah Indonesia. Saat ini, rata-rata ICP tercatat berada di kisaran USD 92 per barel.

BACA JUGA:IHSG Buka Perdagangan Menguat 0,22% ke 5.339,95, Indeks LQ45 ke Zona Hijau

Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan asumsi harga minyak mentah dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) yang ditetapkan sekitar USD 70 per barel. Selisih tersebut berpotensi menambah beban anggaran pemerintah, khususnya untuk membiayai subsidi energi.

Meski demikian, Bahlil menegaskan pemerintah tetap berkomitmen mempertahankan harga BBM bersubsidi agar tidak mengalami kenaikan.

“Pemerintah berkomitmen untuk tidak ada kenaikan BBM subsidi. Tidak ada kenaikan,” ujar Bahlil di Istana Negara, Jakarta, Kamis, 22 Oktober 2026.

Peningkatan harga minyak mentah dunia menjadi tantangan bagi pemerintah dalam menjaga keseimbangan anggaran negara. Ketika harga minyak naik, biaya pengadaan energi berpotensi meningkat dan kebutuhan anggaran untuk subsidi maupun kompensasi energi dapat ikut bertambah.

Karena itu, pemerintah terus mencermati pergerakan harga minyak sekaligus menghitung dampaknya terhadap kemampuan APBN dalam menopang kebijakan energi nasional.

Bahlil menilai, selama harga minyak mentah dunia masih berada di bawah USD 100 per barel, kondisi tersebut relatif masih dapat dikelola. Dengan situasi itu, pemerintah menilai upaya menjaga harga BBM bersubsidi tetap stabil masih memungkinkan.

“Kita targetkan kalau begini terus mungkin di bawah USD 100 per barel. Jadi, relatif oke untuk BBM subsidi tidak ada kenaikan,” katanya.

Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa perkembangan harga minyak dunia tetap menjadi salah satu faktor penting dalam perhitungan kebijakan subsidi energi.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel

Sumber: