Jaga Rupiah dan Tingkat Inflasi, Bank Indonesia Turunkan GWM 2 Persen
Penurunan GWM dilakukan secara terukur sehingga kondisi likuiditas menjadi seimbang dengan level BI Rate serta inflasi sesuai target dan pertumbuhan ekonomi.-dok Disway-
JAKARTA, DISWAY.ID-- Sebagai bagian dari upayanya dalam menghadapi terpaan gejolak global yang masih kian memanas dari waktu ke waktu, Bank Indonesia (BI) mengungkapkan rencananya untuk tetap memperkuat intervensi Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) serta penurunan Giro Wajib Minimum (GWM) sebesar 2 persen, yang akan mulai dijalankan pada November 2026 nanti.
Bukan tanpa alasan. Dalam penuturannya, Kepala Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso turut menyampaikan bahwa dengan meningkatnya dampak dari gejolak global, pencapaian target inflasi negara juga berpotensi untuk terganggu nantinya.
BACA JUGA:IHSG Bangkit 0,95 Persen ke Level 5.439, Saham Teknologi AS Justru Berguguran
"BI memperkuat strategi insentif DNDF agar meningkatkan daya tarik penempatan modal asing di aset keuangan domestik yg akhirnya dapat menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah," jelas Ramdan kepada awak media di Jakarta, pada Jumat (23/10).
Melanjutkan, Ramdan juga menekankan bahwa strategi ini sama sekali tidak ditujukan untuk menjadi subtitusi suku bunga acuan atau BI-Rate.
Menurutnya, kebijakan penurunan GWM dan kenaikan DF Rate ditujukan sebagai strategi harmonisasi dan sinkronisasi kebijakan operasi moneter, yang dilakukan agar stance BI yg tecermin dari BI Rate dapat selaras dengan kondisi likuiditas dan pergerakan suku bunga pasar uang.
"Strategi insentif ini merupakan komplementer BI Rate dalam menjaga inflasi agar tetap sesuai target. Kedepannya, Bank Indonesia akan terus mencermati prospek Perekonomian dan terus mengoptimalkan berbagai instrumen kebijakan moneter untuk memperkuat ketahanan eksternal," ujar Ramdan.
Di sisi lain, penurunan GWM dilakukan secara terukur sehingga kondisi likuiditas menjadi seimbang dengan level BI Rate serta inflasi sesuai target dan pertumbuhan ekonomi.
Secara keseluruhan, strategi harmonisasi dan sinkronisasi operasi moneter ini ditujukan untuk memperkuat efektivitas transmisi kebijakan moneter dalam mencapai sasaran akhir Inflasi yang dapat mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.
"Ke depan, Bank Indonesia akan terus mencermati prospek Perekonomian dan terus mengoptimalkan berbagai instrumen kebijakan moneter untuk memperkuat ketahanan eksternal," ujar Ramdan.
"Hal ini termasuk menempuh langkah-langkah penyesuaian yang diperlukan guna konsisten dalam menjaga stabilitas perekonomian," tutupnya.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel
Sumber: