Aksi Mahasiswa ke Bundaran HI, Massa Kompak Tanggalkan Jas Almamater

Rabu 28-10-2026,14:55 WIB
 Aksi Mahasiswa ke Bundaran HI, Massa Kompak Tanggalkan Jas Almamater

Ketua BEM UI Yatalathof Ma'shum Imawan saat memberikan keterangan persnya-M Luthfi-

JAKARTA, DISWAY.ID-- Ketua BEM UI Yatalathof Ma’shum Imawan mengungkapkan persiapan aksi menuju Bundaran HI sudah matang. Di titik kumpul Fakultas FISIP UI Depok saja, klaimnya, tercatat ada 2.000 massa yang akan berangkat.

Massa tersebut terdiri dari mahasiswa, petani, guru, dan unsur masyarakat sekitar. Bahkan ada perwakilan dari se-Pulau Jawa hingga Kalimantan.

Dalam pantauan langsung di lokasi, puluhan kendaraan jenis angkot dan bus dipersiapkan oleh para mahasiswa untuk menuju kawasan Bundaran HI.

BACA JUGA:Awas! Demo Mahasiswa di Bundaran HI Mulai Pukul 14.00 WIB, Ini Daftar Jalan yang Perlu Dihindari

“Jauh-jauh mereka berangkat dari Kalimantan karena telah melakukan aksi berjilid-jilid tapi tidak pernah ada hasil. Karena pemimpin daerahnya hanyalah kacung bagi pemimpin pusat,” ujar Yatalathof, Rabu, 28 Oktober 2026.

Yatalathof menyebut aksi kali ini berbeda karena mahasiswa kompak menanggalkan almamater masing-masing.

“Kami ingin mencoba suatu kebaruan dalam gerakan, karena banyak kebuntuan yang terjadi. Kami ingin mencoba apakah kita bisa mendobrak suatu hal yang telah dibikin temboknya setelah sekian lama negara ini berdiri,” katanya.

Ribuan massa ditargetkan untuk menguasai Bundaran HI karena dinilai sebagai ruang publik untuk merebut kembali kedaulatan.

Terkait hambatan, ia mengaku intimidasi sudah banyak terjadi jelang aksi, namun tidak akan menghentikan gerakan. Jika ada pelarangan seperti aksi sebelumnya, pihaknya akan melawan.

BACA JUGA:GIIAS Makassar 2026 Hadirkan 6 Merek Baru, Ada Apa Saja?

“Larangan itu tidak mempunyai landasan hukum yang jelas, oleh karena itu kita akan melawan,” tegas Yatalathof.

Ia juga membenarkan isu adanya dosen yang memberikan nilai tambahan bagi mahasiswa yang ikut aksi.

“Betul, ada beberapa dosen seperti itu. Mari kita suarakan kepada dosen-dosen lainnya yang berintelektual agar mereka mempunyai tanggung jawab untuk membebaskan mahasiswanya,” tutup Yatalathof.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel

Sumber:

Berita Terkait