Hasil Kunjungan Menag Nasaruddin Umar dari Italia, Indonesia Jadi Model Moderasi Beragama
Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar setibanya di Tanah Air usai menjalani rangkaian kunjungan kerja ke Italia dan Vatikan, Kamis, 29 Oktober 2026.-Dok/Istimewa-
Selain membuka peluang kolaborasi, Menag mengungkap bahwa gagasan ekoteologi dan diplomasi keagamaan yang disampaikan dalam forum internasional di Assisi mendapat perhatian dari penyelenggara. Ia mengatakan, penyelenggara menyampaikan apresiasi terhadap materi pidato Indonesia dan berencana menindaklanjutinya dalam agenda pertemuan mendatang.
“Jadi, statement kita tentang ekoteologi dan tentang religious diplomacy itu nanti juga akan dijadikan tema besar yang akan datang,” jelasnya.
Menag menyebut ketertarikan peserta forum tidak hanya tertuju pada gagasan diplomasi keagamaan, tetapi juga pada Pancasila sebagai landasan kehidupan berbangsa di tengah keberagaman. Menurutnya, kesempatan berbicara yang semula dialokasikan selama tujuh menit bahkan berkembang menjadi sekitar 30 menit karena peserta ingin mengetahui lebih jauh pengalaman Indonesia.
“Karena mereka itu tertarik, minta dijelaskan tentang Pancasila. Pancasila itu bisa menjadi bukan hanya nilai-nilai Indonesia, tetapi juga bisa menjadi nilai-nilai universal,” ungkapnya.
Menag menambahkan, sejumlah gagasan kerja sama antarumat beragama yang sebelumnya dibangun melalui Masjid Istiqlal juga mendapat perhatian untuk ditindaklanjuti. Ia menyebut April tahun depan sebagai salah satu momentum kelanjutan pembahasan tersebut.
Dalam kunjungan itu, Menag juga diterima oleh Menteri Luar Negeri Vatikan. Keduanya membahas hubungan Indonesia dan Vatikan, terutama dalam memperkuat kerja sama serta menyuarakan nilai-nilai kemanusiaan universal.
Menurut Menag, pihak Vatikan memandang Indonesia sebagai negara dengan populasi Muslim yang besar sekaligus memiliki pengalaman penting dalam menjaga kehidupan beragama yang moderat. Ia mengatakan, salah satu titik temu yang menghubungkan Indonesia dan Vatikan adalah komitmen untuk membela kelompok masyarakat yang mengalami penindasan tanpa membedakan latar belakang agama.
“Bahwa siapa pun yang tertindas itu harus dibela, dari kelompok agama mana pun,” tegasnya.
Menag berharap respons positif dari berbagai pihak selama kunjungan tersebut dapat ditindaklanjuti menjadi kerja sama yang konkret, baik dalam bidang dialog antaragama, pendidikan, maupun penguatan diplomasi keagamaan.
“Dan itulah, saya kira, connecting yang sangat bagus antara Indonesia dan Vatikan,” pungkasnya.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel
Sumber: