Sufisme Islam dan Hadits-Hadits Nabi

Kamis 25-08-2022,11:46 WIB
Oleh: KH Imam Jazuli Lc MA*

KAUM Sufi tidak saja menyandarkan ajaran-ajaran mereka pada Alquran melain juga pada hadits-hadits Nabi. Ulama paling gigih dalam membela tasawuf adalah Imam al-Qusyairi. Ia dalam kitab Risalahnya menunjukkan bahwa Sufisme lahir dari Alquran dan Hadits, bukan ajaran bid'ah seperti yang diklaim kelompok Fuqaha' dan Mutakallimin.

Sufisme lahir sebagai gerakan kezuhudan yang sudah ada sejak masa Rasulullah SAW, Hasan al-Bashri, Abdul Wahid bin Zaid, Ibrahim bin Adham, Rabi'ah al-Adawiah, al-Ma'ruf al-Karkhi, Haris al-Muhasibi, Abu Yazid al-Bustomi, Junaid al-Baghdadi, Abu Manshur al-Hallar, dan kita bisa menyebut berbagai nama lain hingga abd 4 Hijriah. Tidak pantas menyebut tasawuf sebagai ajaran bid’ah. 

BACA JUGA:Belajar Tasawuf dari Abu Dzar al-Ghifari

Bahkan, ajaran Wahdatul Wujud (Manunggaling Kawula la Gusti) yang dikembangkan oleh Abu Yazid (w. 261 H.) dan a-Hallaj (w. 309 H.) adalah hasil pembacaan yang dawam dan perenungan yang dalam atas ayat: "maka ke arah mana saja kalian memalingkan wajah, di sana wajah Allah," (Qs. al-Baqarah:115). Teoritisasi dan konseptualisasi atas ayat tersebut maka munculkan istilah akademik, Unity of Being (wahdatul wujud).

Ajaran Manunggaling Kawula Lan Gusti yang sangat populer dalam setiap kajian dan pengajian tasawuf, sejatinya, juga dirumuskan dari pembacaan dan perenungan atas hadits Nabi. Antara lain: riwayat dari Abu Hurairah Radhiyallahu’anhu ia berkata bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam suatu hari keluar menuju khalayak, lalu datanglah Jibril dan ia berkata,”Apakah iman itu?” 

Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda, ”Iman adalah, Engkau beriman kepada Allah, para malaikat-Nya, pertemuan dengan-Nya, para rasul-Nya, dan engkau beriman dengan hari kebangkitan.” 

Jibril pun berkata,”Apakah Islam?” 

Rasulullah Shalallalahu Alaihi Wasallam bersabda, ”Islam adalah Engkau menyembah Allah dan tidak menyekutukan-Nya, mendirikan shalat, menunaikan zakat yang diwajibkan dan melaksanakan puasa Ramadhan.” 

Jibril pun berkata, ”Apakah ihsan?” 

Rasulullah Shallallahu Alalihi Wasallam bersabda,”Engkau beribadah kepada Allah seaakan akan Engkau melihat-Nya, dan jika engkau tidak melihat-Nya, sesungguhnya Ia melihatmu,” (HR. Al-Bukhari, Kitab al-Iman, Hadits No. 48).

Semua ajaran tasawuf didasarkan pada Hadits-hadits Rasulullah SAW. Seorang ulama sufi terkemuka, Abdul Qahir bin Abdullah as-Suhrawardi mengatakan: "kaum Sufi adalah orang yang paling banyak ambil bagian dalam mengikuti Rasullah saw., dan yang paling berhak untuk menghidupkan sunnahnya," (Suhrawardi, 'Awarif al-Ma'arif, Beirut, 1966: 229).

Dari salah, kita sebagai umat muslim perlu memandang Sufisme dari perspektif kaum Sufi sendiri. Tidak mungkin ajaran tasawuf menyalahi Alquran, sebagaimana tidak mungkin menyalahi sunnah. Dengan begitu, Sufisme pada dasarnya adalah syariat Islam itu sendiri, yang dibangun di atas pemahaman dan interpretasi yang holistik atas ayat Alquran dan Sunnah Rasul.

Memahami Sufisme dari sudut pandang non-Sufi sangatlah berbahaya. Sejarah sudah mencatat bahwa kematian Abu Manshur al-Hallaj jatuh di tangah kaum fuqaha’. Yaitu, setelah al-Hallaj berkonfrontasi dengan Abu Bakar Muhammad bin Dawud, seorang Qadhi di Baghdad. Muhammad bin Dawud ini adalah putra dari pendiri Mazhab Zhahiriah, Imam Dauw bin Ali al-Zhahiri. Putra Pendiri Mazhab Zhahiriah itu menuduh ajaran al-Hallaj berseberangan dengan Islam.

Al-Hallaj tidak melawan, karena salah satu sifat seorang sufi haruslah tawadhu', yang diambil dari sabda Rasulullah saw; "sesungguhnya Allah mewahyukan padaku agar kalian tawadhu' dan janganlah salah seorang di antara kalin melampaui batasnya pada orang lain, dan tidak bangga satu orang di atas orang lain," (HR. Muslim). Sementara Ibnu Dawud Dhahiri sudah melampaui batasnya sebagai seorang faqih, yang menghakimi seorang Sufi.

Sementara al-Hallaj di atas tiang gantungan, ketika seseorang bertanya apa arti tasawuf, menjawab: "(hakikat tasawuf) adalah apa yang engkau lihat sekarang ini." Ucapan sudah sangat populer di kalangan para pengkaji sufisme, khususnya pemikiran al-Hallaj. Saat itu, Al-Hallaj mengamalkan apa yang disabdakan oleh Rasulullah saw: “seorang mukmin yang bergaul dengan seluruh manusia dan sabar atas derita yang mereka timpakan padanya adalah jauh lebih baik dari orang mukmin yang tidak mau bergaul dan tidak sabar menerima penderitaan,” (HR. Ibnu Maja, No. 4032; Ahmad, No. 5022).

Kategori :