"Kalau kita bandingkan antara UKT keseluruhan dan UKT program undangan berprestasi, berarti ini untuk yang lebih berprestasi, ada tingkat lebih tinggi dari UKT rendah."
Pada kedua jalur tersebut terdapat perbedaan sebesar 5 persen untuk UKT terendahnya.
"Dan kelompok UKT tinggi untuk undangan berprestasi, untuk masuk kuliah berprestasi, itu hanya 3,7%."
Dengan kata lain, lanjutnya, anak-anak akan mendapatkan kekhususan mendapatkan UKT serendah-rendahnya, berdasarkan kemampuan ekonominya.
Lebih lanjut, ia menghubungkan bagaimana penerapan UKT berkeadilan ini masih tetap menunjang pengembangan pendidikan lebih berkualitas.
Dalam hal ini, tentu perlu biaya yang tidak sedikit.
BACA JUGA:Terbaru, Segini Biaya Kuliah UKT dan IPI Kedokteran UI 2024
Namun demikian, kondisi saat ini adalah UKT masih menjadi pemasukan utama perguruan tinggi.
"Keadaan yang terjadi adalah pada sementara ini, pemasukan nomor satu untuk pendidikan tinggi, dengan kata lain, untuk menggaji dosen dengan layak, itu masih dari UKT."
Ia pun menegaskan perlunya melihat permasalahan dalam suatu sistem secara menyeluruh. Termasuk selisih antara Biaya Kuliah Tunggal (BKT) dengan UKT.
"Karena biaya kuliah tunggal adalah biaya yang diperlukan untuk melakukan kuliah itu dengan sebaik-baiknya. Sedangkan UKT adalah yang dibayarkan oleh mahasiswanya."
Ia menyebut terdapat selisih dengan BKT yang lebih besar dibanding UKT.
Lulusan Harvard University tersebut menegaskan BKT yang lebih tinggi dari UKT adalah sesuatu yang bagus, begitu pula sebaliknya.
"Kita tidak mau menjadi kebalikan, bahkan kita tidak mau menjadi sama. Kalau sama itu berarti semuanya dibayar at cost."
Sebagai contoh di Prodi Ilmu Hukum Universitas Indonesia yang selisih antara BKT dan UKT sebesar Rp5 juta dengan BKT lebih besar dibanding UKT.