Di sinilah efek domino pertama dimulai. Untuk membangun satu menara apartemen saja, ratusan hingga ribuan tenaga kerja langsung akan terserap.
Mulai dari arsitek dan insinyur di tahap perencanaan, hingga mandor, tukang bangunan, ahli listrik, dan pekerja kasar di lapangan.
"Bayangkan sebuah proyek pembangunan kawasan perumahan skala besar. Di sana ada pekerja konstruksi. Tapi jangan berhenti di situ. Pabrik semen, pabrik baja ringan, produsen cat, hingga perajin kusen pintu dan jendela di desa-desa akan kebanjiran pesanan. Roda ekonomi di lebih dari 170 industri turunan ikut berputar," ucap Bambang.
Rantai ini terus berlanjut. Material bangunan tersebut perlu diangkut, yang berarti para pengusaha truk dan sopir akan mendapatkan lebih banyak pekerjaan.
Warung-warung makan di sekitar lokasi proyek akan ramai oleh para pekerja yang membelanjakan upah harian mereka.
Para pekerja yang menerima gaji akan memiliki daya beli untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Mulai dari membeli sembako, menyekolahkan anak, hingga membeli pakaian.
Publik Menanti Implementasi Nyata di Lapangan
Efek positif tidak berhenti di sektor manufaktur dan informal. Lembaga keuangan seperti perbankan akan ikut merasakan dampaknya.
Seperti peningkatan penyaluran Kredit Pemilikan Rumah (KPR) dan kredit konstruksi. Ini akan mendorong pertumbuhan di sektor finansial.
Selain itu, notaris, agen properti, konsultan pemasaran, hingga desainer interior akan mendapatkan lebih banyak klien.
Bahkan, setelah properti tersebut jadi dan dihuni, permintaan akan jasa seperti petugas keamanan, kebersihan, hingga penyedia layanan internet dan TV kabel akan meningkat.
Skema penyaluran dana ini juga akan melibatkan berbagai instrumen. Sebagian besar akan difokuskan untuk memperkuat program pembiayaan perumahan bersubsidi.
Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP), serta mengembangkan skema baru yang lebih inovatif untuk menjangkau pekerja informal yang selama ini kesulitan mengakses Kredit Pemilikan Rumah (KPR).
Terutama dalam hal percepatan perizinan dan dukungan infrastruktur dasar di kawasan perumahan baru.
"Jadi saya rasa sih ini satu terobosan. Karena kemarin ini kan program 3 juta rumah itu diserahkan ke Kementerian PKP. Dengan Kementerian yang baru ini mereka masih menyesuaikan," jelas Bambang.
"Jadi waktu itu kan kita pesimis. Karena nggak ada terobosan apapun. Tapi dengan adanya dana segar ini, lalu adanya KUR perumahan yang diharapkan Oktober ini udah bisa berjalan ya. Harusnya target untuk 3 juta rumah ini bisa mudah-mudahan bisa tersampai walaupun waktunya mungkin udah terlalu sempit," tambahnya.
Program pembangunan 3 juta rumah—terdiri dari 1 juta rumah di perkotaan dan 2 juta rumah di pedesaan—merupakan salah satu pilar utama dalam Asta Cita, delapan misi unggulan Prabowo Subianto.