BACA JUGA:Kopi Keliling Makin Menjamur, Ancaman atau Peluang Bagi Pemilik Coffee Shop?
Wisnu mengandalkan Pertalite untuk menunjang aktivitasnya sehari-hari sebagai pengemudi ojol.
Dalam sehari, ia mengeluarkan sekitar Rp50 ribu untuk BBM. Dengan biaya tersebut, tangki sepeda motornya dapat terisi penuh.
Pengeluaran itu menjadi bagian dari biaya operasional yang harus diperhitungkan sebelum menghitung pendapatan bersih.
Wisnu biasanya mulai bekerja sejak pukul 06.00 hingga 11.00 WIB.
Setelah beristirahat pada siang hari, ia kembali mengaktifkan aplikasi sekitar pukul 15.00 WIB dan baru mengakhiri aktivitas sekitar pukul 21.00 WIB.
BACA JUGA:Anomali El Nino 2026, WALHI dan Pakar UGM Soroti Alih Fungsi Lahan Jadi Akar Krisis Air Bersih
Jam kerja panjang tersebut dilakukan demi mengejar target pendapatan harian.
Wisnu mengatakan pendapatan kotornya dalam sehari berada di kisaran Rp200 ribu hingga Rp250 ribu.
Namun, angka tersebut belum dikurangi berbagai kebutuhan operasional dan pengeluaran harian.
Setelah digunakan untuk BBM, makan, serta kebutuhan lainnya, pendapatan bersih yang dibawa pulang sekitar Rp150 ribu per hari.
“Pokoknya pendapatan per hari bisa Rp200 ribu sampai Rp250 ribu. Itu juga tergantung kita dari pagi ke mana,” kata Wisnu.
“Misal kotornya Rp250 ribu, terus dipakai buat bensin, makan, ngopi, ngerokok segala, bersih kayak pendapatan sehari pego lah (Rp150 ribu),” tambahnya.
BACA JUGA:Dampak Kekeringan El Nino, Petani Tebu di Ambang Kerugian, Apa yang Dilakukan Pemerintah?
Karena itu, bagi pengemudi ojol, kenaikan biaya BBM atau pembatasan akses terhadap BBM bersubsidi berpotensi langsung mengurangi penghasilan yang diterima setiap hari.
Komisi Aplikasi Turun, Order Ojol Justru Disebut Makin Sulit