Masalah miras dan narkotika bukan persoalan individu semata. Ketika seseorang kecanduan, yang ikut menanggung akibatnya adalah orang tua, pasangan, anak, saudara, teman, lingkungan kerja, bahkan masyarakat.
Seorang pemuda kehilangan masa depan bukan hanya kehilangan dirinya sendiri. Keluarganya kehilangan harapan.
Seorang pekerja yang terjerat narkotika bukan hanya menghancurkan tubuhnya. Ia dapat menghancurkan produktivitas, ekonomi keluarga, dan kepercayaan orang-orang di sekitarnya.
Seorang anak yang tumbuh dalam keluarga yang rusak akibat kecanduan juga harus menanggung akibat dari kesalahan yang bukan dibuat olehnya.
Karena itu, hermeneutika terhadap “Mirasantika” membawa kita pada kesadaran bahwa *tubuh manusia memiliki dimensi sosial*. Apa yang dilakukan seseorang terhadap dirinya sendiri tidak selalu berhenti pada dirinya sendiri.
Kita sering mengatakan, “Ini hidup saya. Terserah saya.”
Kalimat itu terdengar sangat modern.
Tetapi kehidupan manusia tidak pernah sepenuhnya individual.
Kita hidup dalam keluarga, masyarakat, dan kebudayaan. Karena itu, kebebasan yang menghancurkan diri sendiri pada akhirnya dapat berubah menjadi beban bagi orang lain.
Al-Qur'an dan Logika Kehancuran
Spirit “Mirasantika” memiliki resonansi yang kuat dengan pandangan Al-Qur'an mengenai khamr.
Dalam QS. Al-Baqarah [2]: 219, Al-Qur'an mengakui bahwa khamr memiliki manfaat tertentu bagi manusia, tetapi menegaskan bahwa dosanya dan mudaratnya lebih besar daripada manfaatnya.
Ayat tersebut menarik jika dibaca dalam konteks masyarakat kontemporer.
Sebab persoalannya bukan apakah seseorang memperoleh kesenangan dari miras atau zat tertentu. Persoalannya adalah 'berapa harga yang harus dibayar setelah kesenangan itu selesai'.
Kenikmatan sesaat dapat dibandingkan dengan kerusakan yang berlangsung bertahun-tahun.
Uang habis.
Tubuh rusak.