Miras tidak datang sambil membawa papan bertuliskan “kehancuran”. Narkotika juga tidak memperkenalkan dirinya dengan kalimat “aku akan menghancurkan masa depanmu”.
Sebaliknya, ia datang dengan janji kenikmatan.
Sedikit demi sedikit.
Awalnya mencoba.
Kemudian terbiasa.
Lalu membutuhkan.
Akhirnya diperbudak.
Di sinilah persoalannya bukan lagi sekadar zat. Persoalannya adalah 'ketika manusia kehilangan kemampuan mengendalikan keinginannya sendiri'.
Lirik “Mirasantika” kemudian bergerak dari pengalaman personal menuju akibat sosial:
“Gara-gara kamu orang bisa hancur, gara-gara kamu orang kehilangan masa depan.”
Kalimat tersebut sesungguhnya merupakan inti moral lagu.
BACA JUGA:Laba Tembus Rp5,3 Triliun, Mesin Pertumbuhan BSI Makin Moncer
Kehancuran yang dimaksud bukan hanya kehancuran tubuh. Ia dapat berarti kehancuran keluarga, ekonomi, pendidikan, pekerjaan, relasi sosial, harga diri, bahkan masa depan generasi.
Maka “Mirasantika” sesungguhnya sedang berbicara tentang satu persoalan besar manusia: *ketika kenikmatan sesaat dibayar dengan kehancuran jangka panjang.*
Dari “Aku” Menjadi “Kita”
Menariknya, lagu ini dimulai dari kata 'aku, tetapi akibatnya bergerak menuju 'orang'.
Di situlah pesan sosialnya muncul.