Akal adalah instrumen manusia untuk membedakan baik dan buruk, mempertimbangkan akibat, mengendalikan keinginan, dan mengambil keputusan.
Ketika akal dirusak, yang ikut terancam bukan hanya individu, tetapi seluruh tatanan kehidupannya.
BACA JUGA:Jelang MotoGP Indonesia 2026: Polda NTB Perketat Verifikasi Stiker Parkir VIP di Sirkuit Mandalika
Mirasantika dan Gejala Zaman
Yang membuat “Mirasantika” semakin relevan adalah kenyataan bahwa masyarakat hari ini hidup dalam budaya yang semakin kuat mengejar sensasi.
Kita hidup di zaman ketika segala sesuatu ingin dibuat cepat.
Cepat kaya.
Cepat terkenal.
Cepat bahagia.
Cepat puas.
Bahkan kesedihan pun ingin segera dihilangkan.
Dalam masyarakat seperti ini, zat yang menawarkan “jalan pintas menuju kenikmatan” mempunyai ruang yang cukup besar.
Di sinilah masalah narkotika dan miras perlu dibaca bukan hanya sebagai masalah hukum, tetapi juga sebagai 'gejala kebudayaan'.
Ada masyarakat yang kehilangan ruang untuk berbicara tentang kesepian.
Ada anak muda yang tidak tahu kepada siapa harus mengadu.
Ada tekanan akademik.
Ada tekanan pekerjaan.