Mabuk dapat dianggap sebagai ekspresi keberanian.
Sementara narkotika dapat masuk melalui bahasa yang lebih halus: relaksasi, eksperimen, pergaulan, kreativitas, atau sekadar “coba-coba”.
Bahasa memang luar biasa.
Ia dapat membuat sesuatu yang berbahaya terlihat biasa.
Karena itu, perjuangan melawan miras dan narkotika juga merupakan perjuangan melawan 'normalisasi budaya'.
Yang berbahaya bukan hanya ketika orang mulai menggunakan.
Yang lebih berbahaya adalah ketika masyarakat mulai mengatakan:
“Ah, itu biasa.”
Pada titik itulah alarm moral masyarakat mulai mati.
Hermeneutika Kecurigaan
Dalam hermeneutika Paul Ricoeur, teks dapat dibaca melalui apa yang sering disebut sebagai *hermeneutika kecurigaan*: kita tidak berhenti pada apa yang tampak di permukaan, tetapi berusaha membongkar kepentingan, struktur, dan realitas yang berada di baliknya.
“Mirasantika” dapat dibaca dengan cara demikian.
Di balik botol ada industri.
Di balik transaksi ada keuntungan.
Di balik keuntungan ada jaringan.
Di balik jaringan ada pasar.
Dan di balik pasar ada manusia yang menjadi konsumen sekaligus korban.