Petir India

Petir India

Agrinas terlanjur memesan Mobil Pikap Impor Pabrikan Mahindra asal India dan 1.000 unit di antaranya telah berlabuh di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara-Istimewa-

Hujan memang masih turun dari langit, tapi petirnya datang dari bumi: Bumi DPR Senayan. "Impor mobil dari India agar ditunda dulu", ujar Wakil Ketua DPR Prof Dr Sufmi Dasco Ahmad, dua hari lalu.

Impor mobil? Dari India? Siapa yang impor? Untuk apa?

Saya benar-benar seperti tersambar petir. Tidak pernah dengar berita apa pun di sekitar impor mobil itu. Tiba-tiba ada berita minta ditunda. Selentingan pun belum pernah. Benar-benar ketat penjagaan informasi rencana impor itu. Tiba-tiba saja sudah begitu jauh: mobilnya sudah dipesan. Uang muka sudah dibayar: 30 persen.

Petir berikutnya: jumlah mobil yang dibeli itu ternyata besaaaaar sekali: 105.000 mobil. Berarti uang muka yang sudah dibayar sama dengan nilai harga penuh 35.000 mobil.

Setelah agak tersadar dari kekagetan saya ingat: harus sering memuji orang. Pasti ada orang hebat di baliknya. Salah satunya: manajer pemasaran pabrik mobil India itu. Ia/dia manajer yang hebat. Sangat berprestasi. Ia/dia pantas dapat bonus besar tahun ini. Atau naik jabatan.

Masih ada petir susulan yang menyambar kepala saya. Namanya: Joao Angelo de Sousa Mota. Saya kaget. Ternyata Joao-lah yang memutuskan membeli mobil sebanyak itu.

Yang membuat saya lebih kaget: ternyata Joao masih menjabat Direktur Utama PT Agrinas Pangan Nusantara. Perusahaan itulah yang melakukan transaksi dengan pabrik mobil India.

Saya pikir Joao sudah tidak di perusahaan itu lagi. Ia kan sudah mengajukan surat pengunduran diri. Ia mundur karena kecewa: sudah enam bulan menjabat dirut belum bisa berbuat apa-apa. Ia mengeluhkan birokrasi di Danantara yang masih sama dengan BUMN.

Waktu mundur itu saya melakukan wawancara dengan Joao. Lalu saya tulis di Disway (lihat disway 13 Agustus 2025: Petir Joao).

Sebagai anak perusahaan Danantara semua rencana kerja PT Agrinas Pangan Nusantara memang harus disetujui holding.

Joao tidak pernah mendapat persetujuan apa pun. Ia malu sudah enam bulan bergaji besar tapi tidak bekerja apa-apa. Padahal target pemerintah di bidang swasembada pangan begitu besar gemanya. PT Agrinas Pangan belum berbuat apa-apa. Ia pilih mundur.

Joao kenal Presiden Prabowo. Kenal dekat. Masih tetap berhubungan pun setelah Prabowo menjadi presiden. Joao adalah tokoh di Timor Timur --sekarang Timor Leste. Prabowo-muda pernah diterjunkan ke medan perang di sana.

Beberapa waktu setelah mundur itu saya menghubungi Joao lagi. Tidak tersambung. Lagi. Juga tidak terhubung.

Saya hanya ingin bertanya: siapa dirut PT Agrinas Pangan Nusantara yang menggantikannya. Ternyata sekaranglah jawabnya: Joao masih menjabat dirut di situ.

Rupanya Presiden Prabowo tahu ketika tiba-tiba Joao jadi berita besar: mundur dari jabatan dirut. Langka ada dirut mengundurkan diri. Apalagi motifnya karena malu tidak bisa melakukan apa-apa.

Berarti Joao dilarang mundur.

Ternyata, kini, begitu bisa bekerja Joao bekerja luar biasa. Luar biasa besarnya. Juga luar biasa cepatnya.

Besar: impor mobil sebanyak 105.000.

Cepat: sudah membayar uang muka 30 persen.

Bahkan ternyata lebih cepat dari itu: mobil pikap India tersebut sudah akan tiba. Minggu depan.


Mobil pikap buatan tata Motors, India. -Foto: Tata Motors-

Maka saya tidak bisa melanjutkan tulisan ini: petir beberapa kali itu membuat kepala saya sulit menyusun kalimat yang tidak menyakitkan siapa pun. Terlalu banyak pertanyaan di kepala. Semua tidak tersedia jawabnya.

Bagaimana proses terjadinya keputusan itu? Pakai tender atau e-katalog seperti chromebook?

Dari mana dapat uang muka 30 persen untuk mobil berjumlah 105.000?

Kalau dari APBN mengapa Menkeu Purbaya tidak mencak-mencak?

Maka, mestinya, bukan dari APBN.

Berarti dari Danantara? Pun pelunasannya nanti juga dari Danantara?

Sebegitu mudahkah Danantara mengeluarkan uang?

Jangan-jangan bukan dari Danantara --juga bukan dari APBN. Jangan-jangan ada orang baik hati yang menyumbang uang Rp 9 triliun untuk PT Agrinas --asal Joao jangan ngambek sampai minta berhenti begitu.

Lalu: mobil sebanyak itu akan dibagi ke siapa? Memang disebut-sebut akan dibagi ke Koperasi Desa Merah Putih. Apakah koperasinya sudah siap? Akan mengangkut apa?

Padahal mobilnya sudah akan tiba. Tidak mungkin disimpan begitu saja di gudang. Itu sangat bertentangan dengan disiplin keuangan: terkait ROI. Berarti segera pula dibagi ke koperasi. Sebelum lebaran ini.

Terlalu pusing saya memikirkan: akan dipakai mengangkut apa mobil itu. Agar hasil angkutnya bisa untuk biaya oprasional dan mengembalikan modal.

Masih ada pertanyaan ini: kalau PT Agrinas membagikan mobil itu ke Koperasi Desa Merah Putih, akad serah terimanya bagaimana? Hibah? Pinjaman? Setoran modal?

Benar-benar pusing.

Lalu: apa hubungan hukum PT Agrinas Pangan dengan Koperasi Desa Merah Putih hingga bisa membeli mobil untuk mereka?

Pusing.

Setidaknya saya terhibur: ternyata Joao masih tetap jadi dirut PT Angrinas Pangan Nusantara.(Dahlan Iskan)

Komentar Pilihan Dahlan Iskan Edisi 25 Februari 2025: WNI WNI

Murid SD Internasional

Tapi secantik apa pun wanita, yang paling utama adalah yang paling halus tutur katanya, lembut hatinya, manis budi pekertinya, dan memiliki sifat penyayang.

Herry Isnurdono

Abah DI pintar bhs Mandarin. Hatinya bukan lagi hati milik Abah DI. Tapi hati dari orang Tiongkok yg dicangkokkan ke tubuh Abah DI. Abah DI mondar mandir ke Tiongkok. Jalan2 atau kontrol ke dokter yg pernah merawatnya, atau sering berkelana ke kota2 di Tiongkok sana. Di Indonesia teman2 Abah DI banyak dari keturunan Tionghwa. Rata2 konglomerat. Jika boleh berkewarganegaraan ganda, pasti Abah DI akan memilih jadi WNI dan WN Tiongkok. Saya dan rakyat Indonesia sangat mendukung Abah DI jadi WN Tiongkok. Minimal Duta Besar Keliling Indonesia utk Tiongkok. Cuma utk tinggal di Tiongkok ada yg keberatan. Yaitu Ibu DI. Istrinya Abah DI sangat cinta Indonesia. Kalau Abah DI sangat cinta Negeri Tiongkok. Terutama gadis2nya. Sudah putih2 dan cantik2. Mungkin itu yg bikin Abah DI sangat cinta dengan gadis2 Tiongkok......eh...eh sangat cinta Negeri Tiongkok. Karena hatinya adalah hati orang Tiongkok.......

Joko Wito

Dulu, sudah lama sekali.Sebelum era medsos.Jawa Pos menfasilitasi warga negara belanda yang mencari orang tua kandungnya di Indonesia.Begitu menariknya berita waktu itu. Bahkan abah sendiri muncul dengan "Catatan dahlan iskan".Jiwa pembaca terbawa suasana haru campur bahagia ,pada akhir pertemuan. Perjuangannya jauh jauh mencari ibu kandungnya adalah bukti cinta.Cinta ibu kandungnya dan tanah kelahirannya.Setelah itu apa dia menetap di Indonesia? .. Dan yang paling penting.Andaikan dulu tidak diadopsi orang belanda, apakah semakmur,se pendidikan, se intelek dst, seperti sekarang?

Murid SD Internasional

Saya jadi ingat kisah viral tentang seorang pengemis. Wartawan: "Anda sudah berapa lama mengemis?" Pengemis: "Wo0o sejak 1971, waktu anda belum lahir" Wartawan: "Bagaimana dengan anak-anak Anda?" Pengemis: "Oh, anak-anak saya? Saya bersyukur, tiga anak saya yang sekarang, si sulung di UI, yang kedua di ITB, dan yang bungsu di UGM" Wartawan: "Luar biasa. Orang tuanya mengemis, tiga anaknya kuliah di tiga universitas terkemuka Indonesia" Pengemis: "Ih bukan, anak-anak saya enggak kuliah di sana" Wartawan: "Lha terus?" Pengemis: "Sama kayak saya. Mengemis".

Er Gham 2

Contoh lain: "Maaf teman teman. Saya tidak bisa ikut reuni nanti. Anak saya yang dokter di Sumedang mau datang. Sudah lama tidak bertemu. Kakaknya yang insinyur dan kerja di Singapura juga mau datang. Hanya si bungsu yang masih kuliah di ITB tidak bisa datang. Dia lagi nyiapin seminar internasional". Anda lihat? Dia sedang pamer 3 tas hermes.

Er Gham 2

Contoh lain: "Saya heran dengan menantu saya. Ngapain sih dia ikutan marathon Anyer ke Panarukan. Menyiksa during saja". Sebenarnya, dia mau mengatakan, " Saya punya menantu yang kuat dan sehat. Tahan penderitaan". Saya hebat dan beruntung.

Waris Muljono

Kebanggaan anaknya pak Iskan terhadap menantunya yg sepedaan 1500 km dipublikasikan tanpa merendahkan pihak lain. Sementara mba Dwi membanggakan "prestasi" anaknya di sosmed dgn merendahkan hal yg sensitif : identitas negara. Kita sering juga mendengar orang tua membanggakan anaknya dgn "merendahkan" suatu profesi tanpa yg direndahkan marah. Misalnya obrolan sesama tukang becak " syukur anakku lulus jadi dokter. Cukup aku aja yg jadi tukang becak. Anakku jangan sampai." Tukang becak teman ngobrolnya ga marah, malah ikut bangga. Siapapun yg mendengar obrolan itu jg ikut bangga dan salut. Tp coba jika ada yg mengungkapkan kebanggaannya begini : Untunglah anakku nikahnya sama orang suku A, cukup aku aja yg nikah sama suku B; atau Untung anakku nikahnya sama orang yg agama A, cukup aku aja yg nikah sama yg agama B. Pasti reaksi dr orang suku B atau agama B akan marah juga. Kl hanya berkata : anakku akan menikah dgn orang dr suku B atau agama B, pasti ga ada yg marah. Begitulah yg dipamerkan mba Dwi, pamer sambil "merendahkan" identitas orang lain. Salahnya lagi, dia pamernya ke netizen indonesia, yg suka keributan. Sy yakin, yg saat ini meributkan pernyataan mba dwi sebagian besar adl netizen yg bbrp waktu lalu juga "merendahkan" indonesia dgn meramaikan tagar indonesia gelap, juga tagar kabur aja dulu. Lha sekarang ada yg kabur beneran krn merasa indonesia gelap, kok netizen ribut jg huehueheueu.

Murid SD Internasional

Tepatkah memelintir jenama MBG Makan Bergizi Gratis menjadi Maling Berkedok Gizi seperti yang dilakukan Ketua BEM UGM sebagai bentuk kritik? Plus kepala negara Republik Indonesia dikata-katai "bodoh" pula. Seperti itukah contoh yang dewasa dalam mengkritik? Fir'aun, kurang keji bagaimana itu raja bengis menyembelih seluruh bayi laki-laki Bani Israel, tapi Allah dalam kitab suci al-Qur'an surat Thaha ayat 44 malah memerintahkan Nabi Musa dan Nabi Harun untuk menghadap Fir'aun dengan kata-kata yang lembut. Saya perlu mengingatkan, ketika Anda mengkritik dengan dibungkus sumpah-serapah, caci-maki, hujatan, umpatan, dan segala jenis katarsis emosi yang tidak disaring, percayalah, substansi kritik Anda akan tenggelam oleh bising / dengung amarah darah-tinggi Anda. Tentu. Saya tidak melarang Anda untuk meluapkan emosi dan amarah. Itu sah dalam demokrasi. Tapi maksud saya adalah, apakah dengan cara konfrontasi brutal dan negatif seperti itu pesan inti yang ingin Anda sampaikan, akan diterima dengan baik, dan bisa membuat target audiens Anda mengambil sikap persis seperti yang Anda inginkan? Kalau saya jadi Ketua BEM UGM, saya akan memilih jalur ini --> buat video TikTok durasi 10 detik berisi pernyataan: "Pak Presiden Prabowo, saya ingin pemerintahan Anda berhasil, izinkan saya beraudiensi dengan Anda selama 30 menit", lalu tembuskan ke Gerindra, tembuskan ke Kemkominfo, dan sebarkan masif ke seluruh platform sosial-media selama 3 bulan berturut-turut.

Er Gham 2

Dwi mungkin jengkel. Negara asalnya gak maju maju. Atau minimal rakyatnya sejahtera karena kaya akan sumber daya Alam. Kesel karena banyak garong di negerinya. Paling banyak koruptor nya. Tidak rela anaknya hidup berdampingan satu negeri dengan para koruptor dan garong.

siti asiyah

Kebetulan saya nggak ikutan heboh.Biasa saja.Negara kasih beasiswa warganya itu biasa.Warga negara berpindah negara dan kewarganegaraannya juga biasa saja sebab itu juga adalah hak-nya. Mestinya yang kita risau bila ada warga negara apatah lagi penyelenggara negara yang mengkhianati negaranya dengan melanggar aturan negara.Apalagi untuk negara sekaliber Indonesia, mestinya permasalahan utamanya : apa yang bisa kita banggakan dari ini negara ?? Lha wong untuk dapat beasiswa itu syaratnya juga gak mudah.Pilihannya ekstrim : Bila anda miskin, maka yang dapat beasiswa harus benar miskin dan diterima di PTN, meski miskin bila gak diterima di PTN ya gak dapat beasiswa Bidikmisi.Bilapun anda gak miskin maka bisa dapat beasiswa dengan sekian syarat dan prestasi serta lolos persaingan dan seleksi. Suatu hal yang sangat sangat biasa, yakin masih bangga dengan Indonesia ??

Er Gham 2

Jadi ingat, dulu juga ada kontrak kerja karena dapat pelatihan sebelumnya. Kalo gak salah, 10 tahun kontrak nya. Lupa. Tapi hanya 2,5 tahun kerja nya. Lho, kenapa putus? Perusahaannya bubar jalan. Wkwkwkwk.

Ciga Sama

Pamer berlebihan adalah keteledoran yang dipoles percaya diri. Ada orang jatuh karena jemarinya terlalu ringan memposting apa saja. Begitulah hidup. Takdir memilih seseorang menjadi contoh untuk dijadikan pelajaran. Ia mungkin tak menyadari, namanya kini "terabadikan" dalam sejarah Indonesia—dengan cara yang tak pernah ia rencanakan. Bahkan kelak, anak yang ia banggakan itu bisa saja membacanya dengan perasaan yang tak sederhana. Saya teringat pada Tsabit bin Qais. Ia takut namanya “diabadikan” dalam kitab suci dalam nada cela, seperti Abu Lahab yang disebut dalam Al-Qur'an melalui Surah Al-Lahab. Betapa berat menjadi nama yang kekal dalam keburukan. Dan sejak orang itu memposting videonya, ia telah "mengabadikan" namanya sendiri—tanpa sempat bertanya, kelak ia akan dikenang sebagai apa.

Murid SD Internasional

Mbah Mars, apakah Mbah Mars punya ternak wedhus puluhan / ratusan ekor? Jika iya, apakah masing-masing diberi nama yang bagus? Jika iya, bagaimana cara Mbah Mars mengabsen satu per satu nama wedhus tersebut tanpa keliru mukanya yang mana, secara dalam hal muka semuanya mirip dan sama?

Mbah Mars

Kok ya bisa-bisanya kepikiran judul tulisan WNI WNI. Badala...ternyata I yg depan Indonesia, I yg belakang Inggris. Saya belum pernah menemukan penulis sekreatif cucunya bapaknya Pak Iskan. Lihat pertama itu penasaran. Apa sih WNI WNI ? Itu mirip ayat² Al Quran yg dimulai dg huruf² hijaiyyah. Istilahnya fawatihus suwar (pembuka² surat) seperti nun, qaf, yaa siin, aliff laam miim dsb.

Mbah Mars

Suka keinggris-inggrisan Pak. Namanya Parjono minta dipanggil Jhon. Supiyah tapi ketika mengenalkan diri bilang Sofia. Ada lagi; Karto Jimin. Lha dalah, kondang disapa sebagai Jimmy Carter.

Mada Suradi

Di sekitar daerah ketintang dekat rumah abah DI, maka masjid Assalam di ketintang madya , adalah tempat yg nyaman buat tidur bagi Gojeker dan para penggemar gratisan. Wkwkwk Jadi aku tak peduli siapapun yg jadi pinter dan sukses karena bea siswa pemerintah , atau siapapun yg hebat menjadi pengusaha, pemikir ataupun gelandangan sekalipun. Karena malaikat tidak akan menanyai mu gelar doktormu , berapa banyak tumpukan mas batanganmu atau betapa indahnya khayalanmu. Aku bangga hidup di Indonesia… . Sambil menyanyi lagu country lama di jalanan Surabaya.. . “... Dusty roads… dusty roads … “

Mada Suradi

Aku tak peduli apakah aku WNI atau tidak. Apakah aku jawa, madura, tionghoa ataupun batak. Aku hanya menyusuri hidup yg 8 menit dengan bahagia apapun keadaannya. Setiap Hari kususuri tiap sudut, jalan di tengah debu , terik, hujan di kota surabaya sambil memeloti hp apakah hari ini ada seseorang yg mau diantar barangnya melalui aplikasi online. Kadang hasil mengambara tidak cukup membayar perawatan motor bebek butut th 2005 hasil dari hibah dari kantor setelah PHK. Hanya cukup makan untuk keluarga. Kalau mau servis motor , makan bakso atau mie ayam ataupun jalan jalan nunggu dapat orderan lukisan wajah dulu. Tapi aku bangga menjadi orang Indonesia, setiap hari aku bisa berpindah pindah istirahat di masjid masjid di susut sudut kota surabaya dari waru sampai tambak wedi,. Dari wonorejo timur sampai benowo bahkan sampai di kebomas. Bahkan kalau harus terjebak di padatnya jl tunjungan ketika masuk waktu sholat, ada mushola kecil di kampung heritage dengan bangunan bekas rumah peninggalan Belanda, atau pusing menemukan masjid di sekitar undaan , maka masjid peneleh jadi acuan. Masjid yang dibangun mbah Sunan Ampel di tahun 1400 an Masehi, yang masih mempertahan arsistektur kas Jawa dengan pilar pilar kayu yang menyanggah bangun masjid , serta jendela jendela dari kayu yang mengelilingi dinding ding masjid. Tentu masjid atau mushola yg recommended yg tidak ‘ ditarik bayar’ yang tidak dijaga tukang parkir. Tempat istirahat dan tidur plus toilet gratis.

Denny Herbert

Prof Bagus Muljadi adalah representasi "otak cemerlang" Indonesia yang berkibar di Inggris. Alumnus Teknik Mesin ITB ini kini menjabat sebagai Assistant Professor di University of Nottingham. Namanya harum di dunia akademik internasional karena keahliannya di bidang mekanika fluida. Tak hanya mengajar, ia juga pernah menjadi Ketua Umum Ikatan Ilmuwan Indonesia Internasional (I-4), menjadikannya tokoh kunci yang menghubungkan ribuan ilmuwan diaspora dengan tanah air. Bagi Prof Bagus, nasionalisme tidak dibatasi oleh garis paspor, tapi oleh besarnya manfaat yang diberikan. "Nasionalisme Tanpa Batas Fisik" sebenarnya menyentuh isu klasik yang sering dibahas Abah Dahlan Iskan: Sumber Daya Manusia dan Birokrasi. Berikut poin-poin "pedas" ala Bagus Muljadi: * Stop Paksa Pulang: Prof Bagus berargumen bahwa memaksa semua penerima beasiswa pulang secara fisik adalah pola pikir lama. Jika di Indonesia ekosistem risetnya belum siap dan birokrasinya masih "ruwet", ilmu mereka justru akan tumpul. * Sirkulasi, Bukan Pelarian: Ia memperkenalkan istilah Brain Circulation. Diaspora di luar negeri adalah "agen intelijen ilmu" Indonesia. Mereka punya akses ke laboratorium canggih dan pendanaan global yang bisa disalurkan ke Indonesia.

Pangeran Jawa

Pada heboh episode next time, Anaknya mb Dwi dibesarkan dan dididik oleh kedua orang tuanya yg pinter dg penuh dendam positif. Dikuliahkan di Cambridge atau Oxford atau imperial college trs anak itu men- DO kan diri kmudian membangun start up besar level dunia dan JD CEOnya Satu kesempatan CEO tersebut dielu2an dan diundang ke Indonesia.. dan dia bercerita kl zaman dl saat presiden RI Prabowo, dia pernah di black list ..dan TDK bs JD PNS Indonesia.

Macca Madinah

Kalau sampai masuk daftar hitam pemerintah sini sih menurut ane lebay n reaktif. Sepertinya mlh hrs berterima ksh terjadi viral ini karena inti persoalannya adalah ttg pengawasan lpdp. Anak teman Abah DI itu justru patut ditiru dr awal sdh sadar diri dengan kewajiban dan tdk bermaksud mengelak. Ya kita gak tahu di masa depan, itu kan bidang ilmu si suami awalnya kelautan ya, mungkin itu juga yg buat dia saat ini hinggap di yuke, sama2 negara maritim. Mana tahu nanti kedua belah pihak (termasuk di sini) tergugah untuk saling berhubungan kembali, so dont burn the bridge. Si istri iku jarene arek jatim yow, lepasan sma kompleks sby. Pasti tar kangen rujak petis karo konco2ne. Ngemeng2 balik ke soal lpdp, mosok mereka pas awal kasus viral tidak terlalu yakin dg status si suami, ya mungkin pake bahasa hati2 ya. Memang sudahlah soal mereka berdua yg sdh mantap di enggres dengan anaknya wna yg barangkali kelak diharapkan menarik semua anggota kelg jd wna. Yang penting audit lpdp, mulai dari tujuannya dulu apakah skrg masih relevan tidak, bagaimana sih penentuan kriteria penerimanya, bagaimana proses seleksi kandidt, bagaimana membina dr jauh selama studi agar tdk kehilangan tujuan awal sesuai yg ditulis di esai lamaran, dan pastiles tentang monitoring pasca studi. Lpdp pasti sangat bermanfaat untuk membangun jembatan wn(indonesia) ke dunia internasional jd hrs ttp ada n terbuka utk umum, jgn asn/an doank!

Dinar Rusyan

Lorong Waktu. Setelah kulewati mesin waktu. Ku mencoba membuka arsip digital di tahun ini. Ah ini dia berita hangat di awal Romadhon 1447 H. Lagi lagi soal kekecewaan. Kecewa suatu warga negara yang tidak tinggal di negaranya. Ku coba tengok namanya. Ah dia memang ahli kelautan kebanggaan saya. Di 1470 H konsep benua biru sudah dikenal luas. Tapi si Ahli Kimia Ekologis ini memang meledak ledak gaya bicaranya. Yang jelas saya nggak ikut gaya itu. Misiku kali ini harus membuat kedamaian dunia. Jangan ada lagi kekecewaan. Adikku Galuh sudah menjadi korban di tahun ini. Aku Agen Mala dari Indonesia Masa Depan ingin mengubah itu. Setidaknya masih ada misi tambahan sih. (Semoga Perang Dunia Ketiga bisa ku ubah...ups..).. Wuzz dulu...

Sadewa 19

"Ustadz, katanya do'a orang terzalimi akan terkabul, tetapi kenapa doa saya tidak juga dikabulkan ?" Tanya seorang jamaah kepada ustadz. Sang Ustadz sedikit kaget dengan pertanyaan itu. Kemudian ia balik bertanya kepada jamaah tadi. "Kalau boleh tahu, siapa yg menzalimi Bapak ?" Jamaah : "Saya terzalimi oleh koruptor Ustadz. Mereka sudah merampok negeri ini, boro-boro uangnya dibalikin. Malah mereka yg bolak balik ke gedung parlemen anak cucunya juga aman". Jamaah menjawab dengan emosi. Ustadz terdiam sejenak mencoba menenangkan jamaah. Dengan kalem ustad kembali bertanya. Lalu apa yg bapak doakan untuk koruptor tadi ? Jamaah : "Saya doakan para koruptor itu, mati ditiang listrik. Mayatnya terbakar di dunia dan akherat. Anak cucunya sengsara tujuh turunan. Mereka layak karena sudah menyengsarakan rakyat.!!! Sang ustadz terkaget dengan do'a jamaah tadi. Lalu kemudian mengajak jamaah lain untuk mengaminkan doa tersebut. Mumpung di bulan Ramadhan, ayok jamaah, kita aminkan doa Bapak ini. Semoga negeri kita bebas dari korupsi. Do'a orang yg terzalimi, apalagi sedang berpuasa akan mudah terkabul. Serentak kemudian jutaan jamaah mengucapkan. AMIIN.

Juve Zhang

20 tahun kemudian pak Menkeu jalan jalan ke London melihat kumuh nya London banyak tenda trotoar jalanan dipenuhi oleh orang tak punya penghasilan....gak sengaja ada yg manggil pak Pur ...pak Pur main ke tenda saya....begitu pak Pur mampir dintenda si ibu ....pak Pur kaget kok ibu bisa bahasa Indonesia????....wkwkwk

riansyah harun

Sebenarnya pak Purbaya tidak harus marah besar seperti itu. Hanya saja beliau ikut "tersengat", karena pernah belajar di Luar Negeri, dengan biaya tabungan sendiri. Karena mau biaya rendah, maka beliau memilih bidang studi yang "ekonomis". Dan pilihan itulah yang membawanya saat ini menjadi sesuatu di Negaranya sendiri, Indonesia Tercinta. Yang bikin heboh luar biasa itu...., karena "ulah" netizen yang membuat semua orang "ikut tersengat". Dan banyak yang mengatakan, kalau netizen Indonesia itu memang ahli mengulik sesuatu. Dan itu harus kita akui. Mereka jauh lebih cepat dan jauh lebih agresif untuk mengungkap sesuatu. Tanpa bayar, tanpa pamrih, dan tanpa pesanan siapapun juga. Pokoknya hebatlah. Sayangnya netizen HP belum ada di zaman lampau. Rasanya di zaman lampau, beberapa kasus menimpa para ahli yang kembali ke Indonesia, namun belum bernasib baik, tidaklah diributkan. Mereka kerja di Luar Negeri sana sudah memegang hak paten yang diakui, dan mereka mau kembali karena panggilan nurani dan panggilan seseorang yang pernah menjadi sesuatu di waktu itu. Namun dengar dengar, yang punya hak paten yang keren tersebut, malah "hanya" menjadi orang biasa. Entah juga dimana keberadaan mereka saat ini. Coba kalau ada netizen yang menguliknya dan booming..., pasti akan lain ceritanya. Upppssss, zaman itu belum ada netizen. Yang ada baru SMS yang tidak ada gambarnya, yang tidak menarik untuk dicermati.

Kujang Amburadul

Salah satu sanksi bagi "pembelot" penerima LPDP adlh masuk dlm daftar hitam yakni tidak bisa masuk di pemerintahan. Nah pertanyaannya, apakah setiap alumni LPDP itu sudah pasti dapat slot menjadi pegawai pemerintah atau ASN? Dan juga wajib mengisinya. Kalau tidak, lalu mereka bekerja di swasta dan itu boleh dianggap mereka sudah "mengabdi" hanya karena perusahaan swasta nya ada di Indonesia, padal bisa jadi itu perusahaan asing yg ada disini. Lalu kalau dibalik, dia kerja di Inggris di sebuah perwakilan perusahaan Indonesia di sana, apakah statusnya sama? Maksudnya sama2 mengabdi. Karena perusahaannya dari negeri sendiri hanya saja lokasinya disana. Atau mungkin persyaratan harus pulang ke Indonesia ini, maksudnya bekerjanya harus berlokasi di Indonesia terlepas apapun bekerjanya? Nanti kalau setelah 2x masa kuliah + 1 tahun, baru boleh kerja di luar negeri. Ruwet dan gak jelas juga ya peraturannya? Itu menurut saya sih, atau sayanya yg pikiran ruwet karena di dompet tinggal lima lembar dua ribuan, plus lg puasa pula. Gak cukup buat beli takjil.

WIRA

Abah, saya jadi paham makna " Cinta itu tidak harus memiliki". Begitu pula mencintai suatu negara, tidak harus punya Paspor negaranya. Tanya saja WNI yang sudah jadi WNA, atau yang sudah pegang Permanent Resident. Selaras dengan makna Hubbul Wathan, cintailah tanah air mu, tanah kelahiranmu. Bukan negaramu, karena negara bisa berubah nama, bentuk pemerintahan dari presidensial sampai monarki bisa berganti kapan saja. Tapi tanah kelahiran tak pernah berubah. CMIW

Kujang Amburadul

Boleh usul juga ke pemerintah, bagaimana kalau sebagian dana LPDP di alihkan sebagai pinjaman kredit untuk beasiswa, ke sebuah lembaga baru Lembaga Pinjaman Dana Pendidikan. Nanti alumninya mengangsur setelah lulus dan dapat pekerjaan dimanapun. Adapun skema dan syarat nya, ya dibuatlah aturan yg jelas dan transparan. Bukankah di kita banyak lulusan (luar negeri pula), yg jago bikin peraturan?

dinar melayani

Ziiiit...Open the Time Travel. Bah...biar kupakai akun kak Mala. Enak sekali dia lari ninggalin jejak digital. Hmmm berita apa sih di jaman ini. Oooh bahas aku. Ah biarin cuek aja. Masa depan belum baik baik saja. Aku harus ada misi ini. Nemanin kak Mala. Laut, Sungai dan Pantai sedang tidak baik baik saja sejak nuklir sialan itu..... Entahlah padahal aku adalah seorang Galuh. nama dari Nusantara ku. Sayang mesin waktu ini nggak bisa mundur jauh lagi. Sudah ah....harus bergegas... Ziiitttt......

Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺

RANGKUMAN POIN-POIN LEGALITAS KONTRAK LPDP.. Berdasarkan penjelasan Hapsoro Adi Permana dalam diskusi DISMorning pagi ini, ini adalah butir-butir legalitas yang mengikat penerima beasiswa LPDP: 1). Kewajiban Kembali: Penerima beasiswa wajib kembali ke Indonesia segera setelah masa studi selesai. Terdapat klausul khusus yang mengizinkan penundaan kepulangan jika penerima melanjutkan studi ke jenjang lebih tinggi (misal: S2 ke S3) dengan persetujuan LPDP. 2). Masa Pengabdian (2n + 1): Durasi wajib kerja di Indonesia dihitung menggunakan rumus dua kali masa studi (n) ditambah satu tahun. Contohnya, jika kuliah 2 tahun, maka wajib mengabdi selama 5 tahun. 3). Sektor Pekerjaan: Kontrak tidak mewajibkan alumni bekerja di instansi pemerintah. Alumni dibebaskan mengabdi di sektor swasta selama berada di dalam negeri. 4). Sanksi Pelanggaran: Jika gagal memenuhi kewajiban pulang (batal pulang), penerima wajib mengembalikan 100% dana yang telah dikeluarkan negara (biaya pendidikan dan biaya hidup). 5). Denda dan Blacklist: Pelanggaran juga berisiko dikenakan denda, bunga, serta masuk dalam daftar hitam (blacklist) permanen yang menutup kesempatan bekerja di instansi pemerintah atau urusan negara lainnya.

Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺

LPDP: MODEL SINGAPURA DAN INDIA.. Negara maju tidak lagi terobsesi pada kepulangan fisik, melainkan pada kekuatan pengaruh global. Singapura (Model Bonded): 1). Sibgapura: Melalui Singapore Food Agency atau PSC Scholarship, mereka menerapkan ikatan dinas ketat. Namun, bedanya, Singapura telah menyiapkan karir eksklusif di sektor publik atau perusahaan linked-government (GLC). Mereka tidak sekadar menyuruh pulang untuk "cari kerja sendiri", tapi untuk mengisi posisi strategis yang sudah dijamin infrastrukturnya. 2). India: India adalah juara dunia dalam memanfaatkan Brain Drain menjadi Brain Gain. Mereka tidak memaksa alumni sekolah top (seperti IIT) pulang. Sebaliknya, India memfasilitasi diaspora mereka untuk menguasai posisi CEO di Silicon Valley. Hasilnya? Remitansi raksasa dan jaringan lobi politik-ekonomi yang membuat India disegani dunia tanpa perlu sanksi blacklist. ### Kita bisa milih satu. Bisa juga milih keduanya..

Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺

BEBERAPA BUMN JUGA MEWAJIBKAN PENGABDIAN 2N+1.. Beberapa BUMN juga mewajibkan pengabdian 2n+1. Baik untuk pendidikan di "dalam" maupun "luar negeri". Anak saya sehabis mengikuti pendidikan dalam negeri kena kewajiban 2n+1. Begitu habis, dapat kesempatan kuliah lanjutan ke "Oxford", dengan kewajiban pengabdian juga dan 2n+1 "lagi". Dia tanya saya. Ambil atau tidak pa? Saya jawab, ambil saja. Kesempatan langka. Kewajiban pengabdian 2n+1 itu tidak susah. Ha ha.. Bapakmu bolak balik sekolah. Kewajiban pengabdian itu bagi papa sebagai bentuk rasa terima kasih. Wong sudah disekolahkan. Bagi papa, sekolah (lagi) itu anugerah Bayar sendiri saja, dengan senang dan semangat, dijalani. Apalagi dibayari.. ## Semangat 45..!!

Achmad Faisol

begini saja dibikin repot... yang bersangkutan cukup minta maaf lalu berkata akan menjadi hub/membantu mahasiswa indonesia di negara ia tinggal... nanti akan diangkat sebagai "Duta LPDP"...

alasroban

Baru saja petani janging sedikit tersenyum karena harga jagung di patol 5500 / kg sama pak pentri pertanian. Lha kalau pasar di banjiri jagung impor bagaimana nasibnya jagung lokal nantinya ?

Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺

"CHDI KEMARIN": KALAU DI SANA BILANG MENANG, MAKA BERARTI DI SINI KALAH..? Pemerintah kita mungkin menyebutnya kerja sama strategis Tapi di Washington sana, nadanya pesta pora "kemenangan". Selasa kemarin, Kantor Perwakilan Dagang AS (USTR) terang-terangan membusungkan dada lewat media sosial X. Bagi tim Presiden Trump, kesepakatan yang diteken 19 Februari 2026 itu adalah "kemenangan mutlak" bagi industri dalam negeri mereka. Begitu kata berita. Angkanya tidak main-main, mencapai US33 miliar. USTR pamer telah berhasil mengunci komitmen belanja Indonesia untuk: 1). energi US15 miliar, 2). pesawat US13,5 miliar, 3). jagung-kedelai senilai US4,5 miliar. Amerika senang karena petani dan produsen mereka dapat akses karpet merah ke negara kita. Memang, dalam perdagangan internasional, tidak ada makan siang gratis. Tapi kalau semua belanjaan nilainya fantastis begini, kita seperti sedang memborong isi mal demi menyenangkan pemilik mall. Bukan untuk kita yang beli. ### Sebenarnya sedih..

Er Gham 2

Kok bangga anaknya jadi WNA. Cukup ibunya yang WNI. Padahal, kata seorang tokoh nasional, kita adalah bangsa paling bahagia di dunia. Aneh.

sinung nugroho

INTEGRITAS Pak DI seperti mengingatkan tentang makna integritas. Secara ilmiah, integritas adalah kualitas moral yang menunjukkan kesatuan utuh antara nilai, prinsip, dan tindakan. Dalam literatur akademik, integritas sering dikaitkan dengan: Etika (konsistensi antara norma moral dan perilaku nyata), Psikologi (karakter yang stabil, jujur, dan dapat dipercaya meski dalam tekanan), Ilmu sosial/organisasi (fondasi kepercayaan/trust yang menopang legitimasi sistem sosial dan professional). Dengan kata lain integritas adalah sistem nilai multidimensi yang menghubungkan moralitas, epistemologi, dan praktik sosial. Dalam kerja maupun masyarakat, integritas menjadi dasar kepercayaan, reputasi, dan keberlanjutan hubungan. Tanpa integritas, organisasi kehilangan legitimasi, dan masyarakat kehilangan kohesi. Integritas bukan hanya kejujuran, tetapi juga kohesi internal: seseorang bertindak sesuai nilai yang diyakini, tanpa kontradiksi antara ucapan dan perbuatan. Prinsip-Prinsip Ilmiah Integritas adalah: Kejujuran/honesty (menyampaikan fakta apa adanya), Konsistensi/consistency (ucapan dan tindakan selaras dengan nilai), Tanggung jawab/responsibility (siap menanggung konsekuensi dari Keputusan) , Keterbukaan/transparency ( memberi ruang verifikasi dan akuntabilitas), Keadilan/fairness ( menghargai hak dan kontribusi orang lain). Prinsip-prinsip ini menjadi standar dalam penelitian, organisasi, maupun kehidupan sosial.

Liáng - βιολί ζήτα

missing link para penerima beasiswa tentu saja memiliki kemampuan di atas rata-rata..... yang menjadi masalah adalah : apakah sekian banyak penerima beasiswa tersebut dapat ditampung (dipekerjakan) oleh Pemerintah sebagai pemberi beasiswa ?? ini masalah pelik..... masyarakat umumnya akan menilai : wah enak sekali para penerima beasiswa tersebut..... sudah dapat beasiswa, dapat pula pekerjaan ; sedangkan yang tidak dapat beasiswa, susah pula dapat pekerjaan..... setiap orang yang berpendidikan sangat tinggi dan memiliki kemampuan khusus..... cenderung akan bekerja sesuai dengan kemampuannya yang didapat dari bangku kuliah..... dan sepertinya wajar-wajar saja untuk menemukan "habitatnya". disinilah masalahnya..... sepertinya ada "mata rantai yang hilang" di dalam sistem kita sekarang ini..... dan..... sayang sekali, "mata rantai yang hilang itu sepertinya begitu sulit untuk ditemukan".....

istianatul muflihah

Lama tidak muncul di CHDI, Sedang mencoba hal baru. Jualan alpukat online. Ada alpukat aligator dan markus. Jenis buahnya jumbo. Yg pernah saya tamui beratnya ada yang 900 an gram. Kalau di tempat lain ada yg bisa di atas 1 kg. Pengalaman jualan tanpa ads (biaya iklan nol rupiah) membuat saya merenung. Kalau sebenarnya marketing tidak nol rupiah banget. Salah satu pembeli saya, namanya sebut saja Mba Iga dari Surabaya. Mengajak teman kantornya akhirnya beli bersama 18kg. Apakah ini nol rupiah? Kalau di tarik ke masa lalu tidak. Saya harus daftar kegiatan Putra Daerah Membangun ((((woww judulnya terasa aboot sekali))) saya harus masuk waiting list. Baru lolos. Ikut acara pembekalan di Jakarta 2 hari. Tahun 2018. Barulah saya ketemu Mba Iga di sana. Jadi, tidak ada marketing nol rupiah. Orang mau beli karena percaya. Justru itu aset yg tidak mudah dinilai. Terimakasih kawan kawan awak yang sudah ikut Pre Order. Terimakasih sudah meramaikan lapak pedagang partai mini ini. Nanti kalau sudah jadi partai besar, kita ke Senayan. Hahaha

HONDA CBR150R

Jelas harus pilih Indonesia dong biarpun kemarin ditawarin paspor papua nugini, kelihatan dari kerja pemerintah, 20 tahun lagi ya masih gini2 aja, standar. Orang lain sudah ke Mars kita masih melihat bulan.

Bahtiar HS

Nggak tahu ini nyambung atau nggak dengan topik Abah hari ini. Tapi di perusahaan yang saya pernah bekerja (sebelum diakuisisi asing), sebut saja PT XXX, sang owner welcome kepada kita semua yg kerja di situ untuk hengkang ke lain tempat dengan alasan apa saja. Perusahaan tidak akan menghalang2i sedemikian rupa. Karena sang owner percaya bahwa siapapun yg pernah bekerja dengan kita, bekerja dengan baik tentunya, lalu memutuskan untuk berpisah ke perusahaan atau tempat kerja lain, masih tetap sebagai bagian dari 'The XXX Family Network'. Masih merupakan jaringan kekeluargaan dengan PT XXX. Di tengah fenomena bahwa kita tidak lagi bs hidup sendiri, maka kolaborasi adalah suatu niscaya ketimbang alih-alih kompetisi. Dengan adanya "alumni" perusahaan yg ada di mana-mana, tidak secara langsung kita sudah membina "jejaring" yang dulu pernah bersama-sama dalam satu tim bekerja di PT XXX di banyak tempat di luar sana. Berhubungan dengan mereka dan perusahaan baru tempat mereka bekerja akan jauh lebih mudah, karena mereka tetap "family" kita. Apalagi ketika mereka bisa berprestasi di tempat yang baru, ada satu kebanggaan tersendiri bahwa alumni PT XXX sangat bs diandalkan di mana pun berada. Dan itu aset yang tdk kecil bagi perusahaan, yg secara tidak langsung akan menaikkan citra positifnya di dunia usaha. Buktinya, bbrp alumni yg kemudian pindah ke perush klien PT XXX, di kemudian hari ada banyak project yang bs dikerjakan di sana berkat link yg sdh kita kenal sebelumnya itu.

Warok Ponorogo

Paparan ini berdasar pengalaman anak ragil mendapatkan beasiswa LPDP jenjang S1. Lewat program beasiswa Indonesia maju (BIM) dimana rata2 diperuntukan anak SMA/MA berprestasi lewat kompetisi olimpiade sain nasional (OSN). Peraih medali olimpiade ini, dari emas sampai perunggu mendapat prioritas untuk mendaftar 50 top kampus dunia. Sebagai salah satu peraih medali ini, anak bontot waktu itu memilih University of Toronto Kanada, University New South Wales Australia dan University British Columbia. Ketiga tiganya diterima, dan akhirnya memilih UBC di Kanada. Sebagaima tulisan CHD hari ini, tentang viralnya ibu dari anak yg bangga anaknya jadi warga negara Inggris, sedangkan kedua orang tuanya penerima beasiswa LPDP untuk jenjang S2 ato S3. Baik program S1, S2 dan S3 salah satu poin pentung perjanjian awardee adalah kewajiban pulang ke Indonesia selesai tamat dan istilah abah pengabdian selama 2n+1, dimana n adalah lama studi dan untuk S1 adalah 4 tahun. Jadi selama 9 tahun harus mengabdikan ilmunya untuk kemajuan bangsa. Jika tidak bersedia, ada kewajiban untuk mengembalikan uang negara yg digunakan untuk kuliah ini. Salah satu poin penting penilaian ditolak atau diterimanya beasiswa LPDP ini adalah esai pelamar peogram rencana yang akan dilaksanakan jika sudah kembali ke Indonesia. Mungkin yg menjadi kegamangan penerima beasiswa ini sekembalinya ke Indonesia adalah tidak ada ikatan dinas dari pemerintah untuk menampungnya, beda dengan program Habibie dulu.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel

Sumber:

Komentar: 184

  • nico gunawan huang
    nico gunawan huang
  • Taufik Hidayat
    Taufik Hidayat
  • Leong Putu
    Leong Putu
    • Wilwa
      Wilwa
    • MULIYANTO KRISTA
      MULIYANTO KRISTA
  • Wilwa
    Wilwa
    • Wilwa
      Wilwa
  • Ojol Gacor
    Ojol Gacor
    • Ojol Gacor
      Ojol Gacor
  • yea aina
    yea aina
  • patriot kupang
    patriot kupang
  • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
  • Liam Then
    Liam Then
    • Macca Madinah
      Macca Madinah
    • Liam Then
      Liam Then
    • Achmad Faisol
      Achmad Faisol
    • Liam Then
      Liam Then
    • Achmad Faisol
      Achmad Faisol
  • Definisi Mewah
    Definisi Mewah
    • Liam Then
      Liam Then
  • Ciga Sama
    Ciga Sama
  • Yos Os Nursal
    Yos Os Nursal
  • Ciga Sama
    Ciga Sama
  • Mukidi Teguh
    Mukidi Teguh
  • Macca Madinah
    Macca Madinah
  • Johannes Kitono
    Johannes Kitono
  • Liam Then
    Liam Then
    • Liam Then
      Liam Then
    • Liam Then
      Liam Then
    • Liam Then
      Liam Then
    • pak tani
      pak tani
    • Liam Then
      Liam Then
    • Liam Then
      Liam Then
    • Liam Then
      Liam Then
    • Wilwa
      Wilwa
    • pak tani
      pak tani
    • Liam Then
      Liam Then
    • Liam Then
      Liam Then
    • Macca Madinah
      Macca Madinah
    • Macca Madinah
      Macca Madinah
    • Macca Madinah
      Macca Madinah
    • Macca Madinah
      Macca Madinah
    • Liam Then
      Liam Then
    • Roy Glenn
      Roy Glenn
  • Udin Salemo
    Udin Salemo
  • HONDA CBR150R
    HONDA CBR150R
  • Murid SD Internasional
    Murid SD Internasional
  • Hendro Purba
    Hendro Purba
  • pak tani
    pak tani
  • Gregorius Indiarto
    Gregorius Indiarto
  • Juve Zhang
    Juve Zhang
  • Liam Then
    Liam Then
    • Echa Yeni
      Echa Yeni
  • redy hardianto
    redy hardianto
  • David Kurniawan
    David Kurniawan
  • Irary Sadar
    Irary Sadar
  • pak tani
    pak tani
  • Irary Sadar
    Irary Sadar
  • Udin Salemo
    Udin Salemo
  • Macca Madinah
    Macca Madinah
  • Lukman Nugroho
    Lukman Nugroho
    • Kujang Amburadul
      Kujang Amburadul
  • Lukman Nugroho
    Lukman Nugroho
  • Galuh Dwipantara
    Galuh Dwipantara
    • Wilwa
      Wilwa
    • Liam Then
      Liam Then
    • Liam Then
      Liam Then
  • Re Hanno
    Re Hanno
  • pak tani
    pak tani
    • Wilwa
      Wilwa
    • Echa Yeni
      Echa Yeni
  • yea aina
    yea aina
  • mario handoko
    mario handoko
  • hoki wjy
    hoki wjy
  • Edi Susanto
    Edi Susanto
  • Edi Susanto
    Edi Susanto
  • Sogia Manom
    Sogia Manom
  • Wilwa
    Wilwa
    • Wilwa
      Wilwa
    • Wilwa
      Wilwa
    • Wilwa
      Wilwa
    • Wilwa
      Wilwa
    • Wilwa
      Wilwa
  • Ibnu Shonnan
    Ibnu Shonnan
  • istianatul muflihah
    istianatul muflihah
  • Juve Zhang
    Juve Zhang
    • MZ ARIFIN UMAR ZAIN
      MZ ARIFIN UMAR ZAIN
  • istianatul muflihah
    istianatul muflihah
    • Kujang Amburadul
      Kujang Amburadul
  • hanya yotup
    hanya yotup
  • Parto Dookar
    Parto Dookar
  • Achmad Faisol
    Achmad Faisol
  • Sadewa 19
    Sadewa 19
    • mario handoko
      mario handoko
  • riansyah harun
    riansyah harun
  • Ahmed Nurjubaedi
    Ahmed Nurjubaedi
  • Vikagora Prayogi
    Vikagora Prayogi
  • Juve Zhang
    Juve Zhang
  • Juve Zhang
    Juve Zhang
  • Echa Yeni
    Echa Yeni
  • Thamrin Dahlan YPTD
    Thamrin Dahlan YPTD
  • Someone Random
    Someone Random
  • Juve Zhang
    Juve Zhang
  • Juve Zhang
    Juve Zhang
    • Jokosp Sp
      Jokosp Sp
  • Juve Zhang
    Juve Zhang
  • praz ty
    praz ty
  • Kurniawan Roziq
    Kurniawan Roziq
  • Juve Zhang
    Juve Zhang
    • Jokosp Sp
      Jokosp Sp
  • dabudiarto71
    dabudiarto71
  • Juve Zhang
    Juve Zhang
  • andro solar
    andro solar
  • Murid SD Internasional
    Murid SD Internasional
    • Echa Yeni
      Echa Yeni
  • Em Ha
    Em Ha
  • Irfan Arief
    Irfan Arief
    • Echa Yeni
      Echa Yeni
  • Irfan Arief
    Irfan Arief
  • Edi Sampana
    Edi Sampana
    • Echa Yeni
      Echa Yeni
  • my Ando
    my Ando
  • Murid SD Internasional
    Murid SD Internasional
    • Echa Yeni
      Echa Yeni
    • Abu Syafiq
      Abu Syafiq
    • farmasi rsyasyfin
      farmasi rsyasyfin
    • Liam Then
      Liam Then
  • Tiga Pelita Berlian
    Tiga Pelita Berlian
    • Murid SD Internasional
      Murid SD Internasional
  • Joko Wito
    Joko Wito
  • Hamdi
    Hamdi
    • Kujang Amburadul
      Kujang Amburadul
    • pak tani
      pak tani
  • siti asiyah
    siti asiyah
    • Echa Yeni
      Echa Yeni
  • Sugi
    Sugi
  • Hasyim Muhammad Abdul Haq
    Hasyim Muhammad Abdul Haq
    • Murid SD Internasional
      Murid SD Internasional
    • Hasyim Muhammad Abdul Haq
      Hasyim Muhammad Abdul Haq
  • Herry Isnurdono
    Herry Isnurdono
    • Murid SD Internasional
      Murid SD Internasional
    • Jokosp Sp
      Jokosp Sp
  • MULYADI PEGE
    MULYADI PEGE
    • Echa Yeni
      Echa Yeni
  • DeniK
    DeniK
    • siti asiyah
      siti asiyah
  • Hasyim Muhammad Abdul Haq
    Hasyim Muhammad Abdul Haq
    • Echa Yeni
      Echa Yeni
  • Achmad Faisol
    Achmad Faisol
  • Joko Wito
    Joko Wito
  • djokoLodang
    djokoLodang
  • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
  • DeniK
    DeniK
  • Lègég Sunda
    Lègég Sunda
    • Echa Yeni
      Echa Yeni
  • Lègég Sunda
    Lègég Sunda
  • djokoLodang
    djokoLodang
    • Muhammed Khurmen
      Muhammed Khurmen
  • alasroban
    alasroban
  • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
  • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
  • Rachmat Yu
    Rachmat Yu
    • Echa Yeni
      Echa Yeni
  • bocah ilank
    bocah ilank
  • djokoLodang
    djokoLodang
  • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    • Echa Yeni
      Echa Yeni
  • djokoLodang
    djokoLodang
  • Hasyim Muhammad Abdul Haq
    Hasyim Muhammad Abdul Haq
    • Echa Yeni
      Echa Yeni
  • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
  • MULIYANTO KRISTA
    MULIYANTO KRISTA
    • Echa Yeni
      Echa Yeni
  • Echa Yeni
    Echa Yeni
    • Echa Yeni
      Echa Yeni
  • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
  • Jokosp Sp
    Jokosp Sp
    • Echa Yeni
      Echa Yeni
  • riansyah harun
    riansyah harun
  • MZ ARIFIN UMAR ZAIN
    MZ ARIFIN UMAR ZAIN
  • Jokosp Sp
    Jokosp Sp
  • Jokosp Sp
    Jokosp Sp
  • bitrik sulaiman
    bitrik sulaiman
  • bitrik sulaiman
    bitrik sulaiman