Pulang Kotor
Bersama tamu dari Tiongkok melihat PLTS terapung di Waduk Cirata.--
Akhirnya saya bisa berlebaran bersama keluarga: berkat Lebarannya mundur ke tanggal 21 Maret. Padahal cucu-cucu sudah telanjur siap tanpa kakek –toh yang tukang bagi amplop adalah nenek mereka.
Padahal hari Kamis saya sudah kontak beberapa teman: ingin ikut salat Idulfitri di tempat mereka.
Pilihan pertama di Jagat Ars, dekat BSD Serpong. Pengasuh pesantren itu mantan pemimpin redaksi Harian Rakyat Merdeka: Dr Budi Rahman Hakim.
"Sejak puasa, pesantren Jagat libur," jawabnya. "Saya sendiri Lebaran di Sirna Rasa," tambahnya.
Sirna Rasa adalah pesantren dan padepokan di Ciamis, Jabar. Dekat danau Panjalu. Di situlah mursyid tarekat Nahsabandiyah Qadiriyah bermukim: Abah Aos. Beberapa kali saya ke sana. BRH adalah wakil mursyid tarekat itu.
Lalu saya ganti pilih Lebaran di pesantren DQ. Saya tidak hubungi pemiliknya. Saya ingin datang tanpa kabar. Akan jadi jamaah biasa seperti pada umumnya.
Kamis sore saya dapat WA dari pemilik Darul Quran: "sejak menjelang puasa pesantren libur," katanya. Saya lupa: semua pesantren libur di bulan puasa.
Tapi kenapa ia tahu saya akan ke DQ? Rupanya tamu di lobi hotel itu mendengar pembicaraan telepon saya dengan istri. Istri bertanya di mana hari Jumat akan salat Idulfitri –saya jawab di Darul Quran. Rupanya ia membocorkan "rahasia" itu.
Anda sudah tahu siapa pemilik Darul Quran: Ustaz Yusuf Mansyur. Benar. Ustaz YM diberitahu seseorang yang sedang berurusan di hotel itu. Ia seorang pengurus masjid yang sedang mencari kamar untuk tamunya dari Makkah. Sang tamu akan jadi pengkutbah di salat Idulfitri di masjidnya.
Saya sendiri bermalam di hotel itu bersama sembilan tamu: lima dari Xuzhou, dua dari Singapura, dua lagi baru tiba dari Osaka. Itu kali pertama saya bermalam di Swiss-Belhotel Serpong, dekat BSD, Tangerang Selatan –padahal Anda sudah tahu siapa pemilik hotel dan gedung perkantoran di pojok interchange tol BSD itu.
Akhirnya saya putuskan: akan ke masjid yang pengkutbahnya dari Makkah itu saja. Dekat. Kurang lima menit dari hotel. Berarti saya tidak jadi mengajak tamu-tamu saya menyaksikan satu bagian dari ritual Idulfitri.
Kalau saja ke Jagat Ars atau ke DQ saya akan ajak mereka. Biar tahu apa itu Idulfitri. Gantian. Saya bilang kepada mereka saya sudah sering Idulfitri di Tiongkok.
Malamnya saya dapat WA dari istri: pemerintah memutuskan Lebarannya hari Sabtu. "Berarti bisa Lebaran bersama anak cucu," kata istri.
Tentu bisa. Kalau ada takdir.
Berarti Jumat pagi saya bisa lebih pagi berangkat ke Cirata. Tidak harus menunggu selesai salat Idulfitri. Ada yang akan kami lihat di sana. Kan tidak harus selalu orang Indonesia yang belajar ke Tiongkok. PLTS terapung di waduk Cirata itu sangat menarik: pertama sebesar 200 MW di Asia Tenggara.
Saya sudah ukur jarak Swiss-Belhotel Serpong ke Cirata: tiga jam. Berarti cukup waktu untuk ke Surabaya dengan pesawat paling malam. Bahkan masih bisa satu acara lagi sepulang dari Cirata: mesong ke Grand Heaven di Pluit Jakarta. Jenazah Bambang Hartono sudah tiba dari Singapura. Akan disemayamkan di situ dua hari –sebelum disemayamkan di Kudus, pusat bisnis rokok Djarum.
Dari Kudus jenazah akan dibawa ke makam keluarga di Rembang. Di situ sudah lama disiapkan lubang untuk jenazah Bambang Hartono. Juga lubang untuk keluarga inti pemilik kerajaan bianis grup Djarum (Rokok Djarum, Bank BCA, elektronik Polytron dan banyak lagi).
Anda sudah tahu: Bambang Hartono "gila" bridge. Olahraga otak itu masuk ke tulang sumsumnya. Suatu saat Bambang menghubungi saya: agar saya mau menjadi ketua umum GABSI --asosiasi olahraga bridge di bawah KONI. Tentu saya tidak mau. Saya bukan orang Manado.
Tapi Bambang merayu sedemikian rupa. Bahwa saya tidak mengerti bridge banyak yang akan bantu. Misalnya TP Rachmat, tokoh bisnis di balik sukses Astra. Kami pun rapat bertiga. "Secara teknis kan banyak yang bisa bantu," kata TP Rachmat.
Tentu saya tahu di dunia bridge ada Eddy Manoppo bersaudara. Ada juga Bert Toar. Mereka juara-juara bridge Indonesia. Bridge-lah olahraga yang bisa membawa Indonesia ke forum dunia --di samping bulutangkis dan belakangan panjat tebing.
Maka saya jadwalkan pukul 16.00 ke Grand Heaven. Bersama rombongan dari Tiongkok itu. Dari sana sudah tidak jauh lagi ke bandara Cengkareng.
Dalam perjalanan ke Cirata kami sibuk cari tiket Jakarta-Surabaya untuk 10 orang. Kalau bisa pukul 18.00 atau setelah itu. Kami optimis sekali. Tepat di hari pertama Lebaran penerbangan biasanya justru lengang. Lupa kalau Lebarannya mundur.
Ternyata padat. Jangankan 10 orang. Untuk satu orang pun tidak ada kursi kosong. Jangankan yang jam 18.00. Yang pukul 20.00 pun penuh. Bahkan semuanya: sejak pagi.
Maka kami putuskan dari Cirata ke Cirebon. Jalan darat. Saya hubungi teman-teman di Cirebon: carikan mobil untuk 10 orang ke Surabaya. Mobil yang dari Jakarta hanya antar sampai Cirebon. Biar mereka bisa kembali ke Jakarta.
Kami pun janjian di rest area 207. Pindah mobil. Pindah bagasi. Pindah suasana kebatinan: siap menderita di jalan raya. Saya minta maaf kepada bos besar mereka: harus ikut school of suffering-nya AZA.
"Dari Cirebon masih berapa jam?" tanya bos besar itu.
"Kalau saya yang mengemudi biasanya lima jam," kata saya. "Cirebon-Semarang dua jam. Semarang-Surabaya tiga jam," kata saya lagi. "Tapi ini kan mobil komersial. Ukurannya besar pula. Mungkin bisa tujuh jam," tambah saya. Saya tidak berani melirik ekspresi wajahnya.
Toh mereka juga tahu: perusahaan transpor umumnya menetapkan peraturan untuk sopir mereka: tidak boleh lebih 100 km/jam.
Kami berencana berhenti satu kali: di rest area Salatiga. Saya sering menjadwalkan istirahat di situ: Bersih. Indah. Dan yang penting ada yang jual durian –di lantai atas. Pasti tamu-tamu saya lupa penderitaan. Ganti bahagia bersama durian Indonesia.
Saya harus pilih rest area yang bersih. Belakangan saya mulai sering mengeluh di banyak rest area: toiletnya sudah tidak bersih lagi. Sudah kotor. Tidak terawat. Bau.
Jangan-jangan sejak Anda merasa gembira toilet di rest area harus gratis. Sebagian Anda mungkin pilih bayar asal bersih. Daripada gratis tapi kotor. Hanya sedikit dari Anda yang berprinsip: bersih dan gratis.
Saya tidak tahu: siapa yang harus memutuskan soal toilet di rest area ini. Yang jelas saya tidak bisa lagi berbangga di depan tamu dari Tiongkok: kami boleh kalah di semua bidang tapi masih menang di kebersihan toilet. Kini di toilet rest area pun kita kalah.
Sangat menyakitkan harus berhenti menulis di posisi kalah seperti itu. Ibarat suporter bola yang timnya kalah oleh gol di menit terakhir. Tulisan mohon maaf lahir batin di toilet rest area tidak akan mendapatkan maaf.(Dahlan Iskan)
Komentar Pilihan Dahlan Iskan Edisi 22 Maret 2026: Kubus Kubik
djokoLodang
-o--
Kubus Kubik.
BukBis.
*) Membaca judul CHDI hari ini --baru membaca judulnya, belum baca isinya-- ingatan saya langsung tertuju pada "Bukbis". Itu nama tokoh anak Dasamuka (Rahwana) --raja Alengka-- dalam komik wayang Ramayana yang dilukis R.A. Kosasih. Bacaan saya saat masih SD tahun 1960an.
Eh, ternyata Abah mengutip kisah wayang juga. Klop lah dengan imajinasi saya.
~Syahdan, Bukbis ini punya kesaktian yang tidak biasa. Sorot-matanya bisa menjadi sinar api, manakala ia menghendakinya.
Saat itu, Bukbis diberi tugas menghadang balatentara kera dari Ayodya yang sedang membangun tambak di lautan sebagai jalan pasukan Rama menuju Alengka. Walhasil, balatentara itu kalangkabut dibuatnya. Semua yang berhadapan dengan Bukbis bakal terbakar, kena sambaran api dari sorot-mata Bukbis.
Apa akal?
Hanoman pun minta advis kepada Wibisana, adik bungsu Rahwana yang membelot dan diusir dari Alengka karena memberi saran untuk mengembalikan Dewi Sinta kepada Rama.
Atas advis Wibisana, Hanoman mengambil kaca-cermin besar dari pesanggrahan Rama dan membawanya untuk mengahadapi Bukbis.
Saat Bukbis melayangkan sorot-matanya kepada Hanoman, Hanoman mengangkat kacanya.
Sinar api itu langsung memantul kembali ke arah Bukbis. Senjata makan tuan.
-0–
ahmad habibi
The cube..
Ingat film fiksinya Hollywood... Yg robot robot itu ya..
Memang yg serba wah.. Kadang tidak ato blom diijinkan oleh yg maha wah..
Karena kemungkinan menimbulkan rasa sombong pada diri mahluk manusia.
Yg sejatinya penuh dengan ketidak berdaya annya...
Salam sehat selalu .. Semoga perang Iran - Israel amerika segera berakhir
Ahmed Nurjubaedi
Saudi aka MBS memang hebat. Bisa menghilangkan pertanyaan kritis tentang the Cube ygmodelnya mirip Ka'bah. Saya melihatnya memang Ka'bah versi Abrahah jilid 2. Awalnya, mungkin tidak akan mengganggu eksistensi the real Ka'bah. Namun pelan-pelan, pasti akan berdampak pada hati umat Islam yg pergi haji. Yang kemungkinan besar akan disettingsekaligus berkunjung ke the Cube. Ziarah spiritual akan digandengkan dengan ziarah kemewahan. Bisa-bisa, para jamaah haji akan lebih merasa bangga pernah mengunjungi the Cube, alih-alih Ka'bah.
Maka doa Abdul Muthalib saat Abrahah hendak menghancurkan Ka'bah akan kembali bergema. Jika pada tahun Gajah burung Ababil yg diutus Allah, maka kali ini burung Ababilbisa menjelma apa saja. Apakah perang yang sekarang ini salah satu burung Ababil itu?
Ahmed Nurjubaedi
Saya mendapat pencerahan kemarin. Saat naik taksi online. Saat lewat tol, tiba-tiba pak sopir nyeletuk dengan pede. Jaman Pak Prabowo ini memang beda. Prioritasnya pangan. Melanjutkan Pak Jokowi yang infrastruktur. Ini sudah tepat. MBG dilakukan sebagai bentuk ketahanan pangan. Dunia sedang perang. Dengan adanya MBG, jika situasi kritis dan terjadi kesulitan pangan, tidak perlu dapur umum. Sudah ada dapur MBG yang tersebar di seluruh Indonesia. Pak Prabowo memang hebat.
Saya terdiam. Terkejut. Sungguh brilian pak sopir ini. Para intelektual top yang sekarang kritis terhadap MBG, memang tidak mampu membaca hal ini. Semuanya kalah dengan kejernihan pak sopir..... Oh....
djokoLodang
-o--
... Bentuk kubus seperti itu ibarat punakawan Gareng menantang Bathara Bayu.
Di lakon yang dimainkan dalang seperti Seno, Garengnya yang menang. ...
*) Wah, ternyata Abah penggemar dalang Seno juga.
Dalang yang kreatif dan banyak memunculkan ide-ide baru.
--0-
Gianto Kwee
Ujung lorong angin dipasang "Baling-baling" Untuk memutar Generator,
Jadilah Kubus punya Listrik Tenaga Angin !
Ikut berkhayal !
Achmad Faisol
tidak ada yang minta program mbg dihentikan, pak...
mbg untuk yang membutuhkan saja... itu yang disuarakan... negara lagi butuh uang banyak ini…
Juve Zhang
Kapal tanker jepang sudah minta ijin lewat selat Hormuz dan ACC Iran.... nampaknyaketegangan mereda...harga BBM dunia hanya permainan Saudi Arabia Rusia Iran Untuk naikan harga sehingga cuan Koper koper.... Amerika tak perlu minyak Timur Tengah jadi alasan selat Hormuz harus dibuka paksa hanya omongan kelas supir angkot....gak ada urusan minyak bumi kawasan teluk dengan A.....yg butuh minyak hanya negara Asia saja....jadi penyerangan ke Iran lebih karena dorongan Izrael... Izrael dan Iran musuh abadi.... Untungnya Iran punya rudal hipersonik bahkan yg balistik pun tidak bisa di blok Izrael...kawasan nuklir dimona kemarin di rudal Iran porak poranda...A sendiri sudah digeprek pangkalan rudal THAAD nya oleh Iran ada 4 biji pangkalan THAAD yg hancur ....A punya 11 pangkalan.di Korea Selatan dll....ini membuktikan Rudal Iran tak bisa dibendung oleh penangkal rudal THAAD jelas kerapuhan Pertahanan A membuat dunia tercengang ....anti Rudal THAAD sangat mahal 1 milyar USD sebuah tapi tak berfungsi ketika di rudal Iran jelas koplak level 4....dunia tidak melihat teknologi A canggih....melawan Iran saja bisa digeprek mudah....gimana melawan Rusia atau T...yg rudal nya lebih canggih....dunia sekarang melihat dengan jelas A sudah seperti nya tak ada lagi jenius yg bisa buat rudal hipersonik....mereka harus menculik ilmuwan Rusia Tiongkok agar bantu buat rudal hipersonik...kalau menculik Madura gak ada gunanya….
Rizal Falih
Tahun ini kami merayakan hari raya di kota Daeng. Sudah dua tahun istri dan anak-anak tidak pulang kampung. Meski, setengah tahun lalu, Ibu mertua cukup lama tinggal di Jakarta. Kondisi fisiknya memang sudah menurun. Semakin pikun. Dibawa berobat ke dokter pun tidak banyak perubahan. Sudah lupa nama anaknya sendiri.
Ada beberapa yang diingat. Terutama yang paling rajin mendampingi beliau. Karena yang lain sibuk. Ups. Alasan untuk tidak membersamai orang tua yang sudah sepuh. Sibuk kerja. Padahal waktu kecil, orang tua tidak pernah mengeluh, apalagi bilang sibuk. Meski anak-anaknya seringkali membuatnya harus banting tulang, demi mencukupi kebutuhan keluarga.
Begitulah siklus hidup manusia, kebanyakan. Kerja keras bagai kuda. Mencari sesuap nasi demi sebongkah berlian. Kaki jadi kepala, kepala jadi kaki. Berjuang supaya anak-anaknya bisa berhasil, bisa jadi orang sukses. Supaya tidak seperti orang tuanya. Namun, setelah sukses itu datang, orang tua dilupakan. Tidak semua begitu.
Rumah orang tua di kampung halaman adalah tempat yang paling nyaman bagi siapa pun. Menyimpan berjuta kisah. Pahit maupun manis. Beliau yang menyatukan keluarga. Membuat semua rindu untuk mudik di hari raya. Karena jika mereka sudah tiada. Mudik pun seperti hampa. Hingga akhirnya banyak yang tidak melakukanya lagi.
Mumpung hari raya, untuk Abah Dahlan dan semua perusuh Disway saya ucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri, mohon maaf lahir dan bathin, semoga kita semua kembali kepada fitrah.
Taufik Hidayat
Membaca cerita andai andai abah tentang bagian raksasa The Cibe yang bentuknya mirip kaba dengan ukuran 400x400x400 memang mengasyikan. Apalagi denga terowongan anginnya. Terowongan angin ini mengingatkan saya akan banyaknya bagunan pencakar lagit di Hong Kong yang juga bolong bolong dan bahkan kadang ada yang di masukkan oleh jalan layang. Konon lubang besar ini memiliki nama yang spesifik yaitu“ dragons gate“ Atau gerbang naga. ini sesuai dengan feng shui, yaitu naga dari pegunungan dapat terbang langsung ke laut. sebagai contoh misalnya Repulse Bay apartment Yang mempunyai lubang besar di tengah bangunannya.juga Bel-Ait Residence, The Arch dan Sorrento Tower. Semuanya adalah menara pencakar langit apartemen di Hong Kong yang memiliki nama-nama dalam bahasa Inggris namun dibangun dengan filosofi lokal yang kental. Nah kalau yang ditembus oleh jalan layang itu adalah gedung parkir Yau Ma Tei Car park building di Kowloon. Tapi gedung ini belum lama ini sudah dibongkar untuk dibangun West
Tapi di Arab apakah ada juga Feng Shui atau Hong Shui?
Muchammad Lutfi Asyari
Tulisan hari ini adalah tulisan terjelek dari yang paling jelek...tulisan penuh pesimistis...dan khayalan tingkat tinggi..
Kelihatan sekali kalau tulisan ini dibuat untuk mengakali kesibukan Abah,supaya Abah bisa beraktivitas padat…
Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
PANDANGAN GEOTEKNIK:
KUBUS 400 METER DAN TANAH YANG MENAHAN..
Bangunan 400×400×400 meter bukan sekadar arsitektur. Ia masalah Geoteknik. Di bawahnya, tanah menerima beban raksasa. Tekanan menyebar ke samping dan ke bawah. Jika tanah lunak, terjadi penurunan—settlement. Jika tidak merata, muncul retak. Bahkan miring.
Berat kubus bisa jutaan ton. Tekanan kontak bisa melampaui daya dukung tanah. Maka fondasi harus ekstrem. Biasanya pile foundation. Tiang pancang menembus tanah lemah hingga lapisan keras. Atau raft foundation raksasa, pelat beton sangat tebal yang “mengapung” di atas tanah.
Masalah lain: air tanah. Tekanan pori naik. Risiko likuifaksi saat gempa. Sistem drainase dan ground improvement jadi wajib. Kadang tanah disuntik semen. Kadang dibekukan sementara.
Contoh nyata? Burj Khalifa berdiri di tanah gurun lunak. Ia pakai tiang hingga 50 meter. Shanghai Tower gunakan raft setebal 6 meter plus ratusan tiang. Bahkan Kansai International Airport dibangun di pulau reklamasi—dan terus turun beberapa meter.
Kesimpulannya sederhana. Yang paling mahal bukan bangunannya. Tapi memastikan tanah tidak “menyerah”. Di situlah sains bekerja diam-diam.
Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
KAJIAN PSIKOLOGI:
UNTUK PENGHUNI KUBUS RAKSASA..
Di bawah, tanah menahan beban.
Di dalam gedung, manusia menahan rasa.
Ini wilayah Psikologi Lingkungan.
1) Ruang 400 meter tinggi, tapi tertutup. Cahaya matahari hanya di terbatas.
2). Tubuh punya jam biologis. Ritme sirkadian butuh terang alami. Tanpa itu, tidur kacau. Hormon melatonin terganggu. Produktivitas turun. Mood mudah jatuh. Risiko Seasonal Affective Disorder meningkat, meski bukan musim dingin.
3) Ruang besar tapi homogen juga memicu disorientasi. Orang sulit “merasa tempat”. Maka arsitek harus mencipta “langit buatan”. Skylight, taman vertikal, simulasi siang-malam. Bukan estetika. Ini terapi.
4) Siapa yang mau tinggal? Mereka yang bekerja di dalamnya. Karyawan ritel. Teknisi. Profesional urban yang terbiasa hidup indoor. Seperti di Mall of America atau kota bawah tanah RESO. Hidup efisien. Minim cuaca. Maksimal kontrol.
5) Namun ada harga sunyi. Kurang horizon. Kurang angin. Maka yang dicari bukan sekadar ruang. Tapi jeda. Keluar. Maka sesekali diperlukan tuk menyentuh matahari yang asli.
###
Provider perlu menyediakan fasulitas itu.
Tidak terlalu sulit..
Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
CERITA 1000%FIKTIF:
MUDIK..
Namanya Suyatno. Orang Jawa. Kerja di Bekasi. Setahun menabung rindu. Lalu berangkat lewat Jalan Tol Trans-Jawa.
Arus mudik padat. Ganjil genap membuatnya berangkat dini hari. Tetap saja merayap. Radio bicara satu arah nasional. Ia ikut arus. Pelan. Panjang. Sabar jadi mata uang.
Rest area penuh. Ia berhenti di bahu darurat. Makan nasi bungkus dingin. Air mineral hangat. Di sebelahnya, keluarga lain tertawa. Ada bayi menangis. Ada bapak memijat kaki. Semua ingin pulang. Semua sama.
Telepon dari ibu masuk. Suara serak. “Ati-ati, Le.” Ia diam. Jalan terasa lebih panjang. Tapi juga lebih dekat.
Saat arus balik, cerita berulang. Lebih lelah. Lebih sunyi. Oleh-oleh tinggal sisa. Dompet menipis. Tapi hati penuh. Ia bawa pulang doa.
Di kemacetan itu, Suyatno belajar. Jalan bukan sekadar aspal. Ia jembatan rasa. Antara kota dan desa. Antara anak dan orang tua. Macet boleh panjang. Rindu tak pernah habis.
###
Cerita cukup 200an kata.
Sesuai ketentuan IT CHDI..
Beny Arifin
Permukaan dinding bisa di kasih lubang angin. Lubang2 angin itu bisa dipusatkan di satu titik untuk memutar turbin jadi listrik. Itu mimpi saya sebelum dibangunkan istri saya.
Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
DUKA DARI KUDUS..
Kabar itu datang pelan.
Michael Budi Hartono berpulang.
Usia menutup bab panjang. Dari kota kretek Kudus, ia menulis takdirnya sendiri.
Ia bukan lahir dari elektronik. Bukan pula otomotif. Awalnya tembakau. Djarum adalah fondasi. Pabrik rokok jadi mesin uang. Dari sana, ia dan saudaranya merambah jauh.
Bank jadi pelabuhan berikutnya. Bank Central Asia diambil saat krisis. Di situ ia menunjukkan naluri. Membeli saat orang lain lari. Menahan saat badai datang.
Elektronik? Ada. Polytron lahir dari diversifikasi. Pabriknya berdiri. TV, kulkas, audio. Mobil? Masih embrio. Riset jalan. Ambisi belum selesai.
Kekayaannya menembus puluhan miliar dolar. Masuk jajaran orang terkaya Asia. Tapi ia tetap low profile. Bicara seperlunya. Bergerak seperlunya.
Dengan Dahlan Iskan, ia punya irisan. Sama-sama dari daerah.
Sama-sama percaya kerja keras. Tak banyak kata, lebih banyak karya.
Start-nya sederhana. End-nya megah. Tapi hidupnya bukan angka. Melainkan jejak. Dan hari ini, jejak itu terasa sunyi.
djokoLodang
-o--
Kakek: Aku berhasil! Aku sudah menyelesaikan jigsaw-puzzle 200 keping ini!!
Nenek: Hmmm...
+ Hanya itu yang kudapat? Hanya 'hmmm'?
Satu minggu kerja keras mencari kepingan puzzle yang melelahkan mata, dan yang kudapathanya "hmm"?
- Kau benar,... maaf...
Yang ingin kukatakan tadi adalah "..terima kasih,... dan ... astaga! ... akhirnya kuperolehkembali mejaku ...".
--0-
Leong Putu
Kalau uang ada, alasan bisa dicari-carikan, bisa diada-adakan.
Lek ra gableg duwit, ojo kakehan alasan! Upsss ojo kakehan program, ding.
Wkwk
Achmad Faisol
pasti sudah ada manajemen projek untuk hal sebesar ini...
pak DI ga usah khawatir tentang konstruksi... apalagi saudi bukan keturunan bandung bondowoso...
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel
Sumber:
Komentar: 84
Silahkan login untuk berkomentar