Cinta Alwi
--
Kali pertama melihat Banda, pekan lalu, perasaan saya campur aduk: siapa pemilik Banda. Sepertinya tetap Indonesia; –yakni Indonesia yang sibuk dengan MBG, Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih, rupiah yang melemah, saham yang berguguran, dan ekspor sawit batu bara.
Dermaga kapal ini masih mengingatkan saya situasi Kaltim 50 tahun yang lalu. Lautnya sendiri bersih dan tenang. Dermaga Banda tetap di teluk yang damai oleh perlindungan pulau besar di depannya: pulau Banda Besar. Masih diayomi pula pulau Gunung Api yang menjulang tidak tinggi di sebelahnya. Tapi kapal yang bersandar di situ juga tidak banyak. Hanya satu kapal cepat yang saya tumpangi tadi, satu kapal kayu pengangkut sembako dari Ambon dan beberapa perahu bermotor jurusan pulau-pulau sekitar Banda.
Warung dan toko di sekitar dermaga juga lengang. Beberapa ojek sepeda motor menunggu penumpang yang turun dari perahu. Ada satu pasar; di kiri kanan jalan menuju pelabuhan. Tapi pasar itu hanya terlihat lapaknya.
Pasar itu memang hanya hidup ketika ada kapal Pelni merapat ke pelabuhan di dekatnya. Penumpang yang transit beberapa jam di Banda boleh turun untuk beli makanan di pasar itu. Begitu kapal membuang sauh pasar pun tutup –sampai kedatangan Pelni berikutnya.

--
Tidak jauh dari pasar itulah rumah pembuangan Bung Sjahrir –Sutan Sjahrir yang kelak di akhir tahun 1945 menjadi perdana menteri Indonesia. Itu rumah kuno. Rumah Belanda. Tidak terawat. Saya melangkah masuk ke rumah itu. Seorang wanita tua duduk diam di kursi di pojok rumah. Dia tidak peduli sekitarnya. Pun tidak peduli ada orang masuk ke rumah itu.
Saya pun melihat-lihat foto masa lalu di dindingnya. Foto yang sudah tidak terlalu jelas. Teks fotonya pun kecil kecil. Tidak terbaca untuk tatapan mata orang setua saya. Pemasangan fotonya juga asal-asalan. Terasa foto itu juga tidak peduli apakah akan dilihat orang atau tidak.

--
Hanya foto-foto di ruangan depan yang besar itu yang bisa saya lihat. Pintu-pintu ke ruang belakang tertutup. Saya pun mendatangi ibu yang di pojok: "Apakah saya boleh ke ruang belakang?".
"Saya tinggal di situ," katanyi lirih.
"Dengan siapa tinggal di situ?"
"Dengan suami".
"Anak-anak?"
"Sudah tinggal di rumah mereka sendiri".
"Ibu pegawai di sini?"
"Bukan".
"Siapa yang menggaji ibu?"
"Tidak ada".
"Siapa yang menugaskan ibu tinggal di sini?"
"Bapak Des Alwi, almarhum".
Saya tidak bisa mengorek informasi selanjutnya. Ibu itu terlihat lemah, dan tidak peduli. Tapi saya tahu siapa Des Alwi. Pernah berjumpa dan bicara-bicara dengannya.
Anda juga sudah tahu siapa Des Alwi: tokoh utama dan satu-satunya asal Banda.
Saat duo Bung –Bung Hatta dan Bung Sjahrir– dibuang ke Banda, Des Alwi masih seorang anak berumur delapan tahun. Ia menarik perhatian duo Bung. Diajari ilmu pengetahuan. Rasa kebangsaan. Nasionalisme. Anti penjajahan. Si Alwi diangkat anak oleh duo Bung.
Saat penjajah Jepang mulai masuk ke Maluku, duo Bung dipulangkan ke Jakarta. Alwi sudah berumur 14 tahun. Ia diajak serta ke Jakarta.
Dua tahun kemudian Alwi-lah yang mendapat tugas memonitor perkembangan Perang Dunia II lewat radio gelap. Alwi yang menjaga agar radio itu berada di tempat yang aman dari mata-mata penjajah.
Radio itulah yang menyiarkan berita bahwa Jepang telah menyerah. Alwi melaporkan perkembangan itu ke Sjahrir. Lalu menyebar ke anak-anak muda aktivis kemerdekaan. Anak-anak muda itulah yang berkeinginan agar Indonesia merdeka --saat itu juga.
Merekalah yang berdiskusi: kalau Indonesia merdeka siapa presiden kita yang pertama. Mereka memilih tokoh ini: Amir Syarifuddin. Mereka mencari di mana Amir berada: tidak ditemukan. Akhirnya mereka tahu Amir sedang ditangkap Jepang dan dimasukkan penjara Lowokwaru, di Malang. Pemuda Arema sudah diinstruksikan agar mengeluarkan paksa Amir dari penjara tapi gagal.
Akhirnya anak-anak muda itu mencari calon presiden pilihan kedua: Sutan Sjahrir. Hanya saja Sjahrir menolak. Dirayu pun tidak mau. Sjahrir merasa masih terlalu muda. Baru 35 tahun. Tidak ada MK waktu itu.
Justru Sjahrir minta ke anak-anak muda itu agar presiden pertama kita Bung Karno saja. Mereka akhirnya mencari Bung Karno. Mereka sudah menduga: Bung Karno tidak setuju Indonesia merdeka saat itu juga. Bung Karno pilih menunggu janji Jepang yang kelak akan memerdekakan Indonesia.
Selebihnya Anda sudah tahu: para pemuda itu menculik Bung Karno dan Bung Hatta untuk dibawa ke Rengasdengklok, dipaksa menyatakan kemerdekaan Indonesia.
Kelak Des Alwi jadi pengusaha besar. Jadi diplomat. Jadi ahli sejarah --khususnya sejarah Banda dan Maluku. Ia pun disekolahkan di Belanda, jadi duta besar dan jadi tokoh nasional.
Tapi kecintaan utamanya tetap pada Banda. Ia bikin yayasan. Bikin perguruan tinggi. Merawat benda-benda bersejarah di sana. Merawat rumah yang pernah ditempati Bung Hatta, Bung Sjahrir, Dr Cipto Mangunkusumo dan Dr Iwa Kusuma Sumantri --dua nama terakhir dibuang ke Banda tahun 1927, jauh sebelum dua nama pertama.

--

--
Keduanya dibuang karena dianggap terlibat gerakan komunis yang melawan Belanda. Dr Cipto, orang Pecangaan, Jepara, adalah orang pertama yang berjuang agar Indonesia punya pemerintahan sendiri.
Dr Cipto sebenarnya akan segera dibebaskan kalau mau menandatangani pernyataan tidak akan bergerakbdi bidang politik. Dokter Cipto menolak. Ia menyatakan pilih mati di Banda daripada menandatanganinya. Dr Cipto tidak sempat melihat Indonesia merdeka. Ia meninggal di tahun 1943.
Des Alwi yang mengurus pelestarian semua rumah tokoh tersebut --sampai ia meninggal dunia di tahun 2010. (Dahlan Iskan)
Komentar Pilihan Dahlan Iskan Edisi 2 Mei 2026: Klarifikasi Bukan
Ali Maftuh
Klo nda salah purbaya kemarem katanya membawa stopmap yg berisi dàftar transfer pricing 10 perusahaan sawit besar, munurut saya itu klo benar harus diproses hukum, dan kalau itu benar dan terbukti prusahan2 sawit dan batubara yg memang kemungkinan besar seharusnya menolak kebijakan tersebut terpaksa akan ihlas mengikuti aturan yg dikeluarkan pemerintah, dan jika pelaporan hukum itu dilakukan dunia usaha akan mengerti arah kebijakan pemerintah memang dibuat untuk sebenarbenarnya melakukan bersih2 praktek ilegal yg telah lama terjadi. Dan ini membuktikan pemerintah fokus pada transparansi
Em Ha
Anda pasti tahu. Martias ribut. Sitorus ribut. Sukanto Tanoto ribut. Low Tuck Kwong ribut. Surya Dumai Group (First Resources) diusik. Asian Agri diusik. Bayan Resources diusik. Sudah lama sekali mereka 'Pesta Batu Bara'. Sudah lama sekali mereka dan kenkawannya 'Pesta Sawit' Culasnya mereka bisa menutupi seluruh anggaran MBG. Kongkalikong mereka bisa mendirikan KDMP seluruh desa Indonesia. Prabowo berhenti omon-omon Indonesia kaya, Indonesia Besar. Kalau tidak bisa menghentikan praktik bisnis mereka. Under pricing, transfer pricing. Praktik memperkecil pajak ekspor dan pengutan lainnya. Praktik memperkecil pph badan 22%. Hidup Prabowo. Hidup PT DSI. Maju terus pantang mundur.
Kujang Amburadul
Tulisan Abah pagi ini hanya 402 kata dibanding kemarin yang 889 kata. Keburu-buru kali. Makanya terasa pendek. Tapi jelas komentar yang muncul akan jauh lebih panjang. Perusuh tea atuh. Kayaknya sudah semakin jelas, ngurus negara nih salahnya dimana. Dan kesalahan ini sebenarnya sudah jelas sejak jaman dahulu kala, dari terpilihnya Presiden pertama. Kayak ban bocor yang lubangnya ternyata bukan cuma satu. Jadi permasalahan yang dibuka oleh Presiden sekarang itu adalah baru satu saja dari bejibun kesalahan, itupun mau coba-coba ditambal, eh baru dimulai di sebuah surat keputusanpun sudah salah pula. Dibilang salah ketik? Aaah bukan bung, itu salah maksud (maksud salah.. eh maksud saya, salah niat). Salah ketik bisa di tipp ex, tapi salah niat? Atau mungkin kopasnya yang salah? Sebelum kesalahan diralat sudah langsung dipaste saja. Mbuh.... pagi-pagi udah bikin pusing saja. Baiknya ngopi dulu.
WASITH channel
Alkisah, ada rombongan pengusaha korsel berkunjung ke Indonesia. Mereka berkeliling Negeri Nusantara nan indah permai. Mereka takjub dengan keindahan alam sekaligus potensinya yang sangat berharga. Namun mereka juga heran, mengapa masih banyak penduduknya yang miskin? Seharusnya bisa makmur sejahtera. Mereka sepakat menyimpulkan bahwa,"Negeri ini salah urus". Duh, Ironis bin kronis
Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
SENAT RESMI DAN SAH MINTA TRUMP MENGAKHIRI PERANG MELAWAN IRAN.. Akhirnya Senat Amerika bergerak juga. Tipis memang. Tapi sah. Resolusi yang mendesak Donald Trump mengakhiri perang melawan Iran lolos dengan skor 50 lawan 47. Empat senator Republik ikut menyeberang. Politik Washington mendadak terasa seperti ruang keluarga yang AC-nya mati. Resolusi ini dipimpin Senator Tim Kaine. Intinya sederhana: perang tidak boleh berjalan terus tanpa izin Kongres. Presiden boleh kuat. Tapi konstitusi harus lebih kuat. Yang menarik, seminggu sebelumnya resolusi serupa gagal satu suara. Kini berhasil lolos. Artinya dukungan terhadap perang mulai keropos. Bahkan di Partai Republik sendiri mulai muncul kegelisahan soal biaya perang, harga minyak, dan kekuasaan presiden yang dianggap terlalu jauh. Namun ini belum akhir cerita. Gedung Putih masih bisa bermanuver. DPR Amerika juga belum tentu mulus. Tapi pesan politiknya sudah telak: bahkan negara adidaya pun tetap harus minta izin kalau mau perang lama-lama.
Admin SDGs Sanankulon
Akhirnya menyerah juga, bah .... minta tolong, saya berinvestasi di desa bendo kec. Ponggok kab. Blitar tahun 2019, katanya jalan mau di aspal n listrik curah diganti dengan listrik legal. Tempat ini berpenduduk lumayan banyak. Belum ada jaringan listrik PLN. Jalan masih belum bagus. Tidak lama kemudian jalan diaspal. Tapi jaringan listrik belum ada Harapan datang, akhir 2025 ditancap tiang listrik plus pemasangan kabel. Tapi sampai sekarang SLO tidak muncul dan belum bisa penyambungan [nangis]. Memang nilai investasi baru ratusan juta, tapi bagi kami itu besar banget. Bah ... minta tolong percepatan. Masak 6 bulan lebih tiang n kabel sudah terpasang tapi belum bisa instalasi [mohon bangetttt]
pak tani
Contoh kebijakan tidak jelas : Produk A,B,atau C harus SNI. Cara dan prosedurnya bagaimana ? Pokoknya ada. Silahkan pakai konsultan Contoh kebijakan tidak konsisten : Mobil listrik bebas bayar pajak tahunan. Beberapa bulan kemudian : Mobil listrik akan dikenakan pajak. Beberapa hari kemudian : Pajak mobil listrik bisa dibebaskan, tergantung pemda masing2. Contoh kebijakan masih mentah : Pemerintah akan memudahkan import bahan baku atau produk pendukung produksi / manufaktur. Pelaksanaan : Tunggu revisi peraturan pemerintah. Contoh kebijakan karet : Batas pembayaran pajak pribadi paling lambat bulan Maret. Realita : diperpanjang sampai April. Yang belum bayar dan lapor tenang saja, siapa tahu ada amensty tax berjilid2. Jangan2....... kita belum siap untuk merdeka...? * Renungan untuk Agustus nanti *
Irary Sadar
Peraturan tumpang tindih, itu biasa. Peraturan tib-tiba berubah, itu biasa. Peraturan tebang pilih, itu biasa. Beda peraturan, beda aplikasinya, itu biasa. Peraturan abu-abu, multi tafsir, itu biasa. Peraturan beda yang dipidatokan, beda yang diklarifikasi, itu biasa. Itulah Konoha.
Warung Faiz
Tenang bapack2..ibuck2..nanti akan dibuat sebuah badan,namanya Badan Klarifikasi Nasional disingkat BUKAN..
Juve Zhang
Kemarin CEO Danagtara bilang kita akan beli putus hasil batu bara dan sawit.... artinya ekspor urusan DSI.sekarang ubah lagi hanya catat volume penjualan....sekelas CEO saja bingung apalagi rakyat jelantah....beli putus itu DSI harus likuid uangnya....apa kuat beli komoditas begitu gede....mudah saja cetak di Ferrari saja....beres semua persoalan toh dalam negeri transaksi pake Rp....itu pikiran sederhana cetak Ferari andalan kita kata Menkeu zaman dulu dan itu Nikmat gampang ....memang Argentina pun gak ribet pake terbitkan Oreo...mereka langsung saja cetak uang peso.... terbitkan OREO jika gak ada yg beli ya solusi nya cetak uang oleh bank sentral dan dibelikan OREO yg gak laku dijual....simple dan Joss uang beredar jadi kebanyakan akhirnya jadi kertas tissue....kalau di Argentina peso jadi kertas toilet....di konon HAH masih kertas tissue.... Amsiong
Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
ARTI DAN MAKSUD KATA: UNDER INVOICING DAN TRANSFER PRICING, DALAM EKSPOR.. 1) Under invoicing itu sederhana. Harga barang di dokumen ekspor dibuat lebih murah dari harga sebenarnya. Misal batu bara dijual USD 100 per ton. Di kertas hanya ditulis USD 70. Selisih USD 30 “parkir” entah di mana. Pajak dan devisa yang masuk ke negara pun ikut mengecil. 2) Transfer pricing lebih canggih lagi. Biasanya melibatkan perusahaan yang masih satu grup. Contohnya, perusahaan di Indonesia menjual sawit murah ke anak perusahaan sendiri di luar negeri. Setelah sampai luar negeri, barang itu dijual lagi dengan harga sebenarnya. Laba besar akhirnya muncul di negara lain. Bukan di Indonesia. Secara teori, transfer pricing tidak selalu ilegal. Perusahaan global memang perlu menentukan harga antar anak usaha. Yang jadi masalah kalau harga itu sengaja diatur untuk mengurangi pajak atau memindahkan keuntungan. Karena itulah negara-negara kaya sumber daya sangat sensitif pada dua istilah ini. Kebocorannya tidak terlihat seperti pencurian biasa. Tidak ada maling lompat pagar. Tidak ada brankas dibobol. Yang berpindah hanya angka di layar komputer. Tetapi nilainya bisa triliunan rupiah.
Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
BAGAIMANA MENGATASI UNDER INVOICING DAN TRANSFER PRICING DALAM EKSPOR, YANG BISA DILAKUKAN OLEH REGULATOR DAN NEGARA..? Cara mengatasinya sebenarnya bukan misteri ekonomi tingkat dewa. Banyak negara sudah melakukannya. Kuncinya ada pada data, transparansi, dan integrasi pengawasan. 1) Pertama, negara harus punya pembanding harga internasional secara real time. Harga sawit, batu bara, nikel, semua bisa dipantau harian. Kalau harga ekspor tiba-tiba terlalu murah dibanding harga pasar dunia, alarm otomatis harus berbunyi. 2) Kedua, data ekspor, pajak, perbankan, dan pelabuhan harus tersambung. Jangan masing-masing berjalan seperti kerajaan kecil. Di era digital, kebocoran besar sering terjadi justru di sela antar lembaga. 3) Ketiga, wajib ada audit transfer pricing yang kuat. Banyak negara memakai prinsip arm’s length. Artinya harga transaksi antar perusahaan grup harus wajar, seolah-olah transaksi dengan pihak independen. 4) Keempat, penegakan hukum harus konsisten. Bukan ramai di konferensi pers, lalu sunyi di pengadilan. ### Yang paling penting sebenarnya sederhana: regulator harus lebih pintar dari yang diawasi. Karena pelaku manipulasi modern tidak lagi membawa karung uang. Mereka membawa laptop, konsultan pajak, dan spreadsheet yang tampak sangat sopan.
Er Gham 2
VOC kantor pusat di Amsterdam. Punya kantor cabang di Batavia. VOC Batavia jual murah rempah ke VOC Amsterdam. Lalu VOC Amsterdam jual mahal rempahnya ke negara negara Europa. Kalau volume mungkin tetap sama sesuai pencatatan karena masih satu grup perusahaan. Penduduk di Pulau Banda dan Rhun yang tanam rempah tetap miskin. Hasil sumber alamnya dikeruk oleh VOC. Belum ada pasal 33 saat itu.
Kujang Amburadul
Mungkin Pak @Hasyim hari ini lupa absen. Saya kopas usulannya Pak, mewakili Bapak , agar tidak putus: CHDI seharusnya dibuatkan aplikasi untuk di HP. Sehingga mempermudah Perusuh untuk komentar, hapus komentar, nge-tag Perusuh lain, dapat notifikasi, bagi foto, bagi link, dll, seperti ketika kita berkomentar di Facebook. Sekarang, kita sulit tahu apakah komentar kita dikomentarin Perusuh lain atau tidak karena tak ada notifikasi. Kita harus scroll panjang lebar dulu menemukan komentar kita. Di HP saya ada 3 aplikasi buatan mas Azrul Ananda yaitu: Persebaya, DBL Play, dan Main Sepeda. Sang anak punya 3 apps, tapi sang bapak nggak dibuatin. Tega banget sih mas Azrul ini. Aplikasi bisa dinamakan Disway. Tapi isinya ada CHDI, ada berita Disway lainnya, ada Disway daerah, dan bisa juga ada Happy Wednesday juga biar mas Azrul kembali aktif menulis juga. Kalau ada aplikasi Disway, menurut saya pengunjung aplikasi yang ke CHDI setiap harinya bakal mengalahkan pengunjung 3 apps mas Azrul digabung jadi satu. Terima kasih.
Eyang Sabar56
Memang kalau sudah urusan duit, apalagi jumlah jumbo - pasti ribut. Maksud Presiden baik. Implementasinya yang paling ribut. Akar soalnya cuma satu : kepastian hukum. Kalau hal ini dijalankan secara murni dan konsekwen (minjam istilah orba), tidak penting bentuk badan/lembaga baru apapun namanya. Aturan yang sudah ada yang dioptimalkan. Masalahnya terlalu banyak aturan yang bahkan tumpang tindih.
Liam Then
Cara panggang sate yang benar : 1. Jangan pakai Api Unggun, itu kemah namanya. 2. Arang harus pas baranya 3. Bumbu dan daging tusuk sudah ready tersedia. 4.menurut analisa PPTS - Pusat Penelitian Teknologi Sate " : biasanya daging tusuknya lebih banyak dari bumbunya. 5. Proses paling utama adalah kegiatan memanggang sate, bukan mengaduk bumbu . 6. Waktu panggang, jangan sambil dimakan, itu laper namanya.
Liáng - βιολί ζήτα
iseng-iseng saja Pekerja Gig Saya sempat terkejut membaca tulisan jurnalis Bong Xin Ying..... yang diawali dengan kalimat : ** Datang bawa pacul, menanti dipilih: menyelami nasib pekerja gig yang kian menjamur di China ** ** Ribuan "pos pekerja gig" yang didukung pemerintah bermunculan di China, jadi pintu untuk lowongan pekerjaan kasar berupah rendah. Dalam seri pertama ini, CNA membahas bagaimana para pekerja berusia lanjut dan tidak memiliki pekerjaan tetap terpaksa terjun ke bidang ini. ** Namun, apa yang ditulis oleh Bong Xin Ying, ternyata senyata-nyatanya, dengan data dari Pemerintah Tiongkok sendiri, plus wawancara dengan para pekerja gig, juga foto-foto pos pekerja gig..... Pekerja Gig (Gig Worker), bahasa Chinese-nya 零工 (líng gōng), yaitu : pekerja lepas, pekerja harian, pekerja paruh waktu, atau pekerja sambilan. Jurnalis Bong Xin Ying (彭欣颖 Péng Xīnyǐng) yang berbasis di Tiongkok, dari CNA (Channel News Asia) menurunkan tulisan yang cukup panjang mengenai Pos Pekerja Gig atau 零工驿站 (líng gōng yì zhàn) di Tiongkok. Dua hari yang lalu, CNA Indonesia menurunkan tulisan Bong Xin Ying tersebut..... https://www.cna.id datang-bawa-pacul-menanti-dipilih-menyelami-nasib-pekerja-gig-yang-kian-menjamur-di-china [1/2]
siti asiyah
Kebanyakan kita berkutat pada pasal per pasal yang tertulis pada konstitusi. Abai dengan penjelasan konstitusi yang merupakan bagian tak terpisahkan dari konstitusi. Pada penjelasannya, konstitusi menguak mengapa dirinya dibuat memuat hal - hal pokok secara singkat dan supel. Penjelasan meyakini bahwa semangat para penyelenggara negara-lah yang akan menjadi daya dan ruh dari pelaksanaan pasal per pasal, se-sederhana apapun hukum dasar ditulis bilamana semangat para penyelenggara negara baik dan mulia, maka baik dan mulia-lah negara ini. Pun sebaliknya. Mengapa ada klarifikasi atas klarifikasi yang sudah diklarifikasi ??? Dimungkinkan pasti ada kejahatan dalam setiap percepatan maupun perlambatan. Semangat yang beda untuk hukum dasar yang sudah kita ketahui bersama pasal per pasalnya.
Gregorius Indiarto
Isi pidato yang jelas dan diartikan tidak jelas, itu sudah biasa, sering terjadi, karena sesuatu dan hal lain. Yang luar biasa adalah; yang pidato mempersilahkan/membolehkan isi pidatonya untuk diartikan tidak jelas. Ora kacek. Met siang, salam sehat, damai dan bahagia.
Leong Putu
"Ma...Pak Dahlan itu hebat ya, Ma? Sudah tua tapi naik kapal digoyang ombak yg hebat tetap gpp" "iya Pa...gak kayak pp, belum mama goyang, eehhh dah mutah-mutah" "Hmmm......."
M Riddu
Yang jelas makin banyak yang tidak jelas di negeri ini. Pimpinan tidak jelas alias ngawur bicaranya, lalu para bawahan memberikan penjelasan yang tidak jelas bahkan membuat makin tidak jelas. Begitu seterusnya. Ketidakjelaskan dijelaskan tanpa kejelasan. Satu-satu yang jelas di negeri ini: semuanya tanpa kejelasan dan ketikdakpastian. Berbelit dan pusing kan? Begitulah negeri ini.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel
Sumber:
Komentar: 95
Silahkan login untuk berkomentar