Kaji PTSBH

Kaji PTSBH

--

Satu lagi: gagasan besar muncul dari Presiden Prabowo. Pasti perlu anggaran besar lagi: sekolah gratis sampai tingkat perguruan tinggi.

Yang serba-gratis pasti disambut gegap gempita. Pun oleh saya. Kalau pilihannya hanya satu: MBG atau sekolah gratis (sampai universitas), saya pasti pilih yang kedua. Tidak dua-duanya. Itu karena saya tahu anggaran negara terbatas. Seandainya kita punya uang yang berlimpah-limpah pasti saya juga pilih dua-duanya. Masalahnya uang kita cekak.

Saya benar-benar tidak tahu: akan dicarikan uang dari mana untuk program besar yang mulia itu. Kalau saja ada dokter yang memeriksa pasien bernama Indonesia, kesimpulannya sudah jelas: terjadi bleeding di tubuh pasien itu. Maka dokter akan berusaha keras menyetop perdarahan itu lebih dulu sebelum mengobati penyakit lainnya.

Tapi belum lagi bleeding yang lama berhasil di-stop sudah direncanakan pendarahan baru. Dokternya bisa panik.

Tidak. Ada yang perlu dipuji kali ini: Presiden Prabowo tidak langsung memutuskan agar yang gratis itu harus mulai dijalankan minggu depan. Harus dikaji dulu. Ditunjuk menteri pendidikan tinggi untuk mengkajinya.

Tinggal apakah sang menteri berani mengatakan ''tidak''.

Saya menyarankan agar sang menteri jangan mengatakan ''tidak''. Tapi juga jangan begitu saja mengatakan ''siap, laksanakan!''. Ada kata lain yang bisa dipilih. Anda sudah tahu kalimat apa yang sebaiknya dipilih untuk disampaikan ke presiden.

Banyak sekali kalimat penghindar yang sangat tepat. Misalnya ''Bapak Presiden, soal itu masih dikaji oleh tim''.

Kalau gagasan itu dilaksanakan yang heboh pertama pasti perguruan tinggi swasta. Sekarang saja, dengan adanya PTNBH –perguruan tinggi negeri berbadan hukum– swasta sudah menjerit: jumlah mahasiswa mereka menurun.

Padahal ada hitungan matematis bahwa PT yang mahasiswanya kurang dari 5.000 belum bisa hidup mandiri. Padahal begitu banyak yang punya mahasiswa di bawah 2.000 –bahkan di bawah 1.000.

Mungkin akan ada pemikiran lain: kuliahnya gratis tapi berkuota. PTNBH hanya boleh punya mahasiswa maksimum 30.000. Orientasinya diubah: dari adu banyak mahasiswa ke kualitas. PTNBH juga hanya diperbolehkan punya prodi sains dan teknologi plus akuntansi. Syarat lain lagi: mahasiswanya harus dari desil 5 sampai 10 (atau desil 1 sampai 5 versi pemerintah).

Yang sulit adalah UT: Universitas Terbuka. Selama ini UT jadi pilihan utama karena murahnya. Mahasiswa UT mencapai 600.000 orang –dan punya ambisi mencapai satu juta. Dengan gagasan baru itu UT langsung kalah dengan UTG. Bahkan bisa saja keberadaan UT tidak relevan lagi. Semua bisa masuk PTN..

Karena itu harus ada pembatasan: hanya orang dari lima desil termiskin bisa kuliah di PTNBH. Kalau itu bisa dilakukan pada dasarnya ini terobosan terbesar dalam mengatasi kesenjangan kaya miskin. Cocok dengan pemikiran sosialistis Presiden Prabowo.

Toh dengan gratis, relevansi pembentukan PTNBH sudah hilang. Bukankah PTN Berbadan Hukum itu dilahirkan agar mereka kian mandiri dari pembiayaan pemerintah. Dengan gratis maka semua hal tergantung pemerintah.

Yang kelak akan muncul justru PTSBH. Seharusnya swasta tidak perlu menjerit. Kalau toh menjerit itu justru jeritan suka cita. Bukankah di Indonesia sudah terbentuk citra bahwa sesuatu yang gratis itu mutunya rendah –kecuali istri.

Saatnya PTS menggenjot kualitas. PTS bisa belajar dari SMA-SMA swasta unggulan. Kian banyak jumlahnya. Kian laris jualannya. Kian tinggi biaya sekolahnya.

Sekarang ini terlalu banyak PTS yang tidak tahu jalan menuju kualitas –karena sejak awal didirikannya memang tidak sungguh-sungguh ingin berorientasi ke kualitas.

Sudah waktunya PTS diperlakukan seperti bank: ''dipaksa'' merger. Dipaksa. Lewat mekanisme modal/kepemilikan aset.

Jelaslah sebelum diputuskan untuk menggratiskan masih begitu banyak yang harus diperhitungkan.

Maka menteri yang mendapat tugas mengkajinya punya alasan kuat untuk mengatakan ''masih dikaji''. (Dahlan Iskan)

Komentar Pilihan Dahlan Iskan Edisi 24 September 2026: Taruna Kelapa

djokoLodang

Selamat, CHDI. Sudah beberapa hari ini CHDI terbit tepat waktu. 04:00

Sugi

Orang hidup saling menghidupi. Orang mati (?) saling mematikan. Orang gila (?) saling menggilakan.

riansyah harun

Sekitar tahun 1980 an, di Gorontalo dan sekitarnya, dan mungkin saja di beberapa bagian Indonesia lainnya, lagi digiatkan dengan penanaman Pohon Kelapa jenis Hybrida. Pohonnya pendek, buahnya lebat, dan mudah dipetik. Entah kenapa pohon Hybrida itu gagal total. Akibatnya pohon kelapa yang sejak saya lahir sampai dengan saat ini, benar kata Pak Dahlan, tidak pernah diremajakan lagi. Ibarat mobil truk tua, walaupun sudah ngos ngosan dan minta diperbaiki, tetap saja di operasikan. Jika tidak ada orderan, truk itu hanya diistirahatkan begitu saja, tanpa ada perbaikan berarti. Akibatnya kalah gesit dengan mobil pendatang baru. Dan kitapun sudah pada tahu, yang kalah gesit itu, pasti akan mencari jalan keluar yang serba cepat. Seandainya kelapa itu bisa dipalsukan...., rasanya bisa. Sedangkan ijazah saja bisa palsu, apalagi hanya rasa kelapa yang membuat sakit kepala akibat kebanyakan makan santannya.

Ahmed Nurjubaedi

Rakyat Indonesia memang mestinya akrab dengan kelapa. Sebab mulai SD, sudah otomatis jadi anggota pramuka yang lambangnya tunas kelapa. Dan waktu berlatih pramuka sudah mendapat doktrin, bahwa menjadi pramuka itu harus seperti kelapa. Batangnya bisa jadi papan kayu maupun kayu bakar. Buah mudanya bisa jadi es kelapa. Kalau tua bisa jadi minyak kelapa. Juga santan. Sabut kelapa bisa jadi sapu dan keset. Batok kelapa bisa jadi irus, centong, sendok, garpu, atau mangkuk. Atau arang. Pelepahnya bisa jadi kayu bakar. Daunnya (janur) bisa dibuat ketupat. Lidinya bisa menjadi sapu. Air niranya bisa jadi gula kelapa. Air kelapa bisa jadi minuman segar, es degan yg begitu populer. Daging buahnya kalau diparut bisa jadi serundeng atau sambal kelapa. Juga bisa jadi manisan kelapa yg waktu saya kecil begitu populer sebagai kue lebaran. Saat ke Thailand, saya menjumpai olahan kelapa begitu melimpah di minimarket seperti sevel. Rasanya memang aneh kalau seolah saat ini kita kurang menyadari potensi besar kelapa, hingga jumlah pohon kelapa menurun. Saya jadi ingat dialog macam begini. Jack: Mona, kamu ngerti Joger? Mona: Opo, Jack? Jack: Iku lho, sing jual baju tulisane lucu-lucu. Mona: Opo, Jack? Jack: Oalah Mon, kon iku jare pinter kok klopa-klopo ae isoke!!!!

riansyah harun

Pariwisata, cap tikus, dan Torang samua Basudara, sepertinya 3 serangkai yang membuat ekonomi Manado terus bergeliat, kecuali cabe yang harus di "impor" dari Jawa. Para turis apalagi yang dari Luar Negeri, pasti senang. Karena semua bisa mereka nikmati, tanpa ada gangguan keamanan. Apalagi Manado itu terkenal dengan wanita yang banyak "i" nya. Sudah cantik, putih, tinggi langsing, dan ramah ramah lagi. Mau lihat keindahan alamnya dan cari istri...??? Datanglah ke Manado.

Em Ha

Supel sekali Eyang Agus. Punya kepala, pusing. Tak punya kepala, mengerikan. Hati dengan kepala beserta buah dan isinya. Tak terkontrol, jadi Kepala Keluarga.

Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺

KELAPA DAN KEPALA.. Kelapa dan kepala. Cuma beda satu huruf. Tetapi nasibnya bisa jauh berbeda. Kelapa punya tempurung. Kepala juga punya tempurung. Kelapa dipecah untuk diambil isinya. Kepala kadang perlu “dipecah” dulu pikirannya agar keluar isinya. Kelapa menghasilkan santan. Kepala menghasilkan gagasan. Kelapa diperas. Kepala juga kadang diperas. Bedanya, kelapa yang diperas keluar santan. Kepala yang diperas bisa keluar ide. Kelapa punya mata. Kepala juga punya mata. Kelapa punya tiga “mata”, meski tidak bisa melihat. Kepala punya dua mata, tetapi belum tentu melihat persoalan dengan jernih. Kelapa bisa tua. Kepala juga bisa tua. Bedanya, kelapa tua masih berguna untuk santan. Kepala tua pun mestinya begitu: Makin banyak pengalaman, makin banyak manfaat. Karena itu saya memahami ketika Pak Dahlan menulis, “Kepala, eh Kelapa...” Salah sebut sedikit ternyata bisa menjadi bahan renungan. Kelapa mengajarkan satu hal kepada kepala: Jangan hanya tinggi. Harus berbuah. Dan kepala mengajarkan kelapa: Jangan cuma melambai. Harus punya isi. Kalau keduanya bertemu, jadilah kepala yang berisi dan kelapa yang bernilai.

Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺

KELAPA DAN KEPALA.. Kelapa dan kepala. Cuma beda satu huruf. Tetapi nasibnya bisa jauh berbeda. Kelapa punya tempurung. Kepala juga punya tempurung. Kelapa dipecah untuk diambil isinya. Kepala kadang perlu “dipecah” dulu pikirannya agar keluar isinya. Kelapa menghasilkan santan. Kepala menghasilkan gagasan. Kelapa diperas. Kepala juga kadang diperas. Bedanya, kelapa yang diperas keluar santan. Kepala yang diperas bisa keluar ide. Kelapa punya mata. Kepala juga punya mata. Kelapa punya tiga “mata”, meski tidak bisa melihat. Kepala punya dua mata, tetapi belum tentu melihat persoalan dengan jernih. Kelapa bisa tua. Kepala juga bisa tua. Bedanya, kelapa tua masih berguna untuk santan. Kepala tua pun mestinya begitu: Makin banyak pengalaman, makin banyak manfaat. Karena itu saya memahami ketika Pak Dahlan menulis, “Kepala, eh Kelapa...” Salah sebut sedikit ternyata bisa menjadi bahan renungan. Kelapa mengajarkan satu hal kepada kepala: Jangan hanya tinggi. Harus berbuah. Dan kepala mengajarkan kelapa: Jangan cuma melambai. Harus punya isi. Kalau keduanya bertemu, jadilah kepala yang berisi dan kelapa yang bernilai.

rid kc

Ternyata berkebun kelapa menjanjikan sekali. Dulu saya menanam kelapa kopyor dan 3 tahun udah berbuah. Harga jual per buah Rp. 20.000, memang sangat menjanjikan. Satu tandan kadang ada 5-6 kelapa kopyor. Selebihnya kelapa biasa. Masalahnya hama wawung. Hama wawung inilah yang menjadi musuh petani kelapa. Dari 21 pohon kelapa yang saya miliki, semuanya mati diserang wawung. Sampai saat ini belum menemukan obat hama wawung itu.

Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺

TARUNA KELAPA.. Saya tertarik pada dua kata di ujung tulisan Pak Dahlan: t Taruna Kelapa. Bukan sekadar anak muda yang menanam kelapa. Lebih dari itu. Mereka harus menjadi generasi yang melihat kelapa sebagai industri masa depan. Selama ini kita seperti hanya melihat kelapa sebagai pohon. Padahal hampir seluruh bagiannya bisa menjadi uang. Airnya, santannya, tempurungnya, sabutnya, dagingnya. Bahkan limbahnya pun punya pasar. Masalahnya, pohonnya justru makin tua. Yang muda tidak segera menggantikan. Ketika harga kelapa kembali bagus, kita malah kekurangan bahan baku. Di sinilah ancamannya. Tiongkok tidak hanya membeli kelapa. Kalau mereka berhasil membangun kebun sendiri, lengkap dengan standardisasi dan teknologi pengolahan, kita bisa kehilangan keunggulan sebagai pemasok. Maka taruna kelapa harus punya tiga kemampuan: menanam, mengolah, dan menjual. Menanam untuk menjaga bahan baku. Mengolah untuk menciptakan nilai tambah. Menjual untuk menaklukkan pasar dunia. Kalau SMA Taruna mencetak manusia unggul, taruna kelapa harus mencetak masa depan perkebunan kelapa. Jangan sampai kita punya pasar kelapa terbesar, tetapi kelapanya justru ditanam orang lain.

Hasyim Muhammad Abdul Haq

Saya tak begitu percaya sama koperasi yang katanya soko guru perekonomian nasional. Menurut saya koperasi itu hanya utopia. Bisa dibilang sejauh ini tidak tampak pengaruhnya koperasi ke perekenomian Indonesia. Saya lebih memilih ucapan Deng Xiaoping, "Tidak peduli kucing itu hitam atau putih, asalkan bisa menangkap tikus." Jadi, kita nggak perlu harus memaksakan diri membangun koperasi. Yang penting jalan dengan baik, untungnya banyak, bisa menyejahterakan (para) pemiliknya sekaligus karyawannya, ya bentuk usaha itu yang kita jalankan. Mau bentuknya koperasi, yayasan, PT, CV, atau apapun badan hukumnya, semua itu tugas utamanya adalah: cari untung supaya institusinya bisa jalan dan berkembang. Yayasan yang kaya raya banyak. Apalagi CV dan PT. Jauh lebih banyak yang kaya raya. Jadi ngapain memaksakan diri berbetuk koperasi? Misalkan Kopdes bentuknya dibuat jadi PT tapi warga desa dimasukkan sebagai pemegang saham, kan sama saja bisa memakmurkan rakyat? Kenapa harus koperasi?

Payjoo Azhari

Sekedar contoh, harga cabai di Melawi 250rb/kg, Minyak Kita 22rb/kg padahal Melawi penghasil sawit(CPO), kayaknya warganya tenang2 saja, mungkin gak ada yg namanya inflasi di kabupaten Melawi

Momon Atun

Selama bank Indonesia masi main suku bunga bank 5%.. Mau seluruh Sulut menanam cabai juga harganya bakal tergerus inflasi (naik meskipun barang melimpah) karena apa? Rupiah yg loyo,, ditambah dollar yg ugal ugalan (ibarat main bola y jadi wasit ya jadi gelandang y jadi kiper- bermian di luar system keuangan normal) .. Ibarat sakit panu, yg di obati ketombe di kepala, selama itulah rupiah inflasi gk turun turun meskipun purbaya menjabat lagi

Mbah Mars

Harga cabai di Sulut Rp. 150.000/kg. Sementara hasil kebun kelapa melimpah. Kesimpulannya: orang Manado harus belajar makan bubur yg diberi kuah santan melimpah. Adapun cita rasa pedasnya cukup dari harga cabai yg meroket di pasar. Atau bisa juga dari pedasnya mulut istri di tanggal tua.

Mbah Mars

Hallo Cak Mul ? menurut pean, lebih keras mana tempurung kepala dengan tempurung kelapa ? Kalau menurut saya kok lebih keras tempurung kepala. Tempurung kelapa dikepruk pakai batu pasti pecah. Sedang tempurung kepala sangat keras. Sudah diberi data lengkap tetap ngotot. Keras kepala kan, Cak ?

Jokosp Sp

"Penerapan Bank Indonesia dalam pengendalian inflasi biasanya dengan penerapan kerangka Flexible Inflation Targeting Frame Work (Flexible ITF)", kata WA Mbak Sipit. Cara utamanya adalah melalui Instrumen Kebijakan Moneter: 1.Menaikkan suku bunga moneter untuk meredam permintaan agregat dan mengarahkan ekspektasi inflasi. 2.Menjual surat berharga untuk mengurangi jumlah uang beredar di masyarakat. 3.Menaikkan batas cadangan kas bank umum agar penyaluran kredit lebih terkontrol. 4.Menjaga stabilitas rupiah guna menekan harga barang impor (imported inflation). Yang ini yang terus gagal sampai hari ini nilai rupiah terus melorot ke dalam jurang sangat dalam. Sebenarnya ada program yang disebut Koordinasi dan Sinergi (TPID/ TPIP), tapi ini tidak pernah terdengar di masyarakat apalagi pelaksanannya seperti sampai beli cabe di suatu daerah untuk dijual dan disupply di daerah lainnya yang sedang mengalami inflasi. Cerita Pak DI ini seperti "BOMBASTIS" yang dibesar-besarkan. Toh selama ini inflasi di suatu daerah tetap saja jadi inflasi karena masih belum jalan sistem distribusi dan stock yang dikendalikan negara, kecuali beras lewat Bulognya. Lainnya masih dikendalikan oleh swasta. TPID/TPIP ada disebut Strategi 4K: menjalankan pilar ketergantungan harga, ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi, komunikasi efektif. Ada lagi GNPIP atau gerakan nasional pengendalian inflasi pangan yang tugasnya bersinergi dengan pemerintah untuk pengamanan pasokan komoditas yang bergejolak. -->....

Juve Zhang

Konon "Santan" yg diguyur ke perhelatan ormas terbesar kemarin tembus 480 ember Pertamax...sebuah nominal yg tidak mengejutkan jika hasil tambang nanti tembus 700 triliun Rupiah....Santan yg diguyur ke perhelatan 480 ember Pertamax tentu akan balik modal nanti setelah tambang Cuan Koper koper besar plus bunga nya lipat ganda... Zaman modern semua perlu "santan" buat menambah nikmat masakan....

heru pujihastono

Sekitar saya pedagang dawet juga terkendala pasokan kelapa, utk gula dawet. Kalau pas laris harga batok kelapa pun laku meski minim. Merah putih ternyata lupa thd pramuka ( simbol kelapa) atau sebaliknya yg pramuka sdh bosan nanam kelapa. " Pulau kelapa yg sangat subur..." Kalau Ndak sadar - sadar bisa berubah nyanyian itu : " pulau (limbah) plastik....." Anugerah geografis ini dilupakan, yg ada di benak menggerus realita ( Budi daya nyiur). Rindu : Sumatera kirim beruk ( monyet pemetik kelapa) ke daerah lain supaya kalau yg jatuh pemanjat nya bukan manusia. Ongkos rehab vertebrae lumbal / tulang belakang mahal. Bisa bertruk- Truk kelapa.

Sumartan

Pisang goreng dicocol sambal roa, nikmatnya..

Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺

ANDA PINGIN TAHU ILUSTRASI DESIL ANDA? Agar gampang dipahami, kita pakai ilustrasi keluarga yang hanya terdiri dari 1 orang. Karena hanya 1 orang, maka pengeluaran keluarga = pengeluaran per kapita. KELOMPOK BAWAH: 1) Desil 1: < Rp500 ribu. 2) Desil 2: Rp500–700 ribu. 3) Desil 3: Rp700–900 ribu. 4) Desil 4: Rp900 ribu – Rp1,2 juta. KELOMPOK MENENGAH: 5) Desil 5: Rp1,2–1,5 juta. 6) Desil 6: Rp1,5–2 juta. 7) Desil 7: Rp2–2,7 juta. KELOMPOK ATAS: 8) Desil 8: Rp2,7–3,5 juta. 9) Desil 9: Rp3,5–5,5 juta. 10) Desil 10: > Rp5,5 juta. CONTOH: Seseorang tinggal sendiri dan mengeluarkan Rp4 juta per bulan. Karena anggota keluarganya hanya 1 orang: Rp4 juta ÷ 1 = Rp4 juta per kapita. Dalam ilustrasi ini, berarti berada pada rentang Desil 9. CATATAN: 1) Angka di atas hanya ilustrasi, bukan batas resmi Desil BPS. 2) Desil resmi BPS tidak ditentukan hanya berdasarkan pengeluaran. Pemeringkatan DTSEN menggunakan berbagai indikator sosial-ekonomi. 3) Jadi, rumusnya mudah. Tetapi menentukan Desil resminya tidak sesederhana membagi pengeluaran. 4) Itulah bedanya menghitung pengeluaran per kapita dengan menentukan Desil BPS.

Irary Sadar

Makanya, yang orang presiden dari Manado itu, pikirannya jangan Sawit, Sawit saja. Pohon Kepala eh, Kelapa juga harus tetap dikembangkan terus. Jangan kejadian di pertengahan tahun 2025 yang lalu terulang kembali. Produk Santan KARA (dan santan kemasan lainnya) sembunyi, sulit didapat. Di supermarket jadi barang langka. Kalaupun ada itupun harganya naik dua kali lipat. Di sinyalir ini akibat krisis bahan baku yang susah didapat. Tingginya ekspor kelapa mentah bulat dan meningkatnya produk berbahan olahan Kelapa bikin pasokan terbagi antara ekspor dan kebutuhan dalam negeri. Pabriknya yang di Riau sempat merumahkan karyawannya karena operasi menurun, dan ibu-ibu pada ngomel karena untuk membuat hidangan hari raya saat itu, Santan Kara jadi mahal. Nasib, nasib...

Runner

Menanam cabe di rumah. Sudah berlangsung sejak beberapa tahun yang lalu. Penyebabnya sih sepele. Makan tahu isi dan bakwan goreng tanpa cabe rawit utuh, nikmatnya tinggal 50%. Sering kejadian gorengan ada, cabe rawit gak ada. Maka ambil keputusan, tanam cabe rawit dibeberapa pot di rumah. Hasilnya kok berlebih ya ?. Sekalian untuk masakan lainnya.

Irary Sadar

Katanya jangan terlalu pintar mengoreksi kebijakan dan 'proyek' pemerintah. Nanti Anda-Anda dikatakan 'G O B L * K'. Mau..?

Bahtiar HS

Oalah, baru tahu dari CHD hari ini kalau Sulawesi Utara lagi perlu cabai! Lagi krisis cabai di sana sehingga membuat inflasi tinggi. Padahal cabai di pekarangan saya yang sauplik di depan rumah (berem) lagi banyak buahnya. Sementara yang suka cabai hanya saya. Itu pun nggak tiap hari. Makanya kami tawarkan siapa saja yang lewat depan rumah, monggo kalau mau panen cabai saya. Tp ya sampai sekarang masih banyak dan jadinya pada merah-merah semua sekarang. Bentar lagi berjatuhan. Tahu gitu, cabai itu bisa saya ekspor ke Sulawesi Utara, Bah!

Imam Mashuri

Tulisan pak Dahlan hari ini keren. Punya hook yang sangat bagus. Ada tiga unsur sekaligus: Bank Indonesia + cabai + dua ton dari Jawa Timur ke Manado. Bikin pembaca langsung punya pertanyaan: “Lho, apa hubungan Bank Indonesia dengan cabai?” Dan pertanyaan itu langsung dijawab: “Karena harga cabai di Manado sudah mencoreng wajah inflasi di daerah itu.” Ini teknik open loop - answer yang efektif. Kalo kita bedah strukturnya, terdiri dari 3 bab, yakni: cabai manado, ekonomi sulut, masa depan kelapa. Dengan struktur tersebut, pak dahlan sedang cerita ekonomi yang menggunakan cabai sebagai pintu masuk menuju persoalan kelapa dan masa depan Sulawesi Utara. Endingnya apalagi, sangat memorable. Taruna kelapa jadi metafora baru yang bisa mengikat seluruh pembahasan. Keren deh pokoknya. Dan satu lagi, humor yang paling mengena dan bikin ketawa adalah bagian vitamin C tinggi - jus cabai. Apakah teman-teman juga? Haha

Tivibox

Jangan hanya menciptakan SMA Taruna Nusantara di sana. Juga harus tercipta jutaan taruna kelapa di bumi Kawanua. Saya pikir ini semacam saran atau semacam ultimatum dari bapak mantan sesuatu. Pohon kelapa disana semakin berkurang. Kebutuhan meningkat dari tahun ke tahun. Solusinya tanam jutaan bibit kelapa sekarang. Buat perkebunan baru. Hasilnya memang baru bisa dipetik bertahun-tahun kemudian. Tidak apa. Setidaknya sudah ada usaha untuk menanam dan mengembangkan tanaman kelapa. Tiap akhir pekan, kerahkan anak-anak SMA Taruna Nusantara untuk menanam kelapa. Itu sebagai pengalaman permulaan. Ketika nanti ada diantara mereka yang meniti karir di akademi militer atau kepolisian, sudah punya pengalaman bercocok tanam. Jadi tak hanya tanam jagung atau singkong. Tapi yang lebih besar. Kelapa.

Er Gham 2

Buah kelapa yang masih bulat dan utuh saja bisa diekspor. Sedangkan masih banyak pulau kecil di seantero nusantara yang belum dimanfaatkan. Hanya ditumbuhi ilalang dan semak belukar. Ada sih pohon kelapanya, namun hanya sedikit sekali. Tumbuh liar di beberapa lahan pantai nya. Jika pemdanya berinisiatif, bisa kerjasama dengan penduduk setempat untuk tanam kelapa. Tidak perlu dipupuk, hanya perlu usaha saja buat panen. Atau gandeng swasta. Karena memang butuh perahu dan bahan bakar untuk mengunjungi pulau pulau kecil tersebut. Ada ribuan pulau kecil yang belum produktif.

Hasyim Muhammad Abdul Haq

Lihat aja komentar di CHDI ini, setiap hari ada ratusan komentar. Itu sudah memenuhi syarat jadi media sosial sendiri. Begitu ada apps, komentar ini bisa jauh lebih banyak tiap harinya. Sebuah apps itu biasanya bingung bagaimana caranya agar setiap hari ada interaksi dari pemakai. Nah? Disway Apps ini sudah pasti ada ratusan orang tiap harinya berkomentar. Apa lagi yang ditunggu?

dm ikan

Jadi tertarik budi daya cabai, semoga jadi cabai beneran, bukan cabai-cabai-an. Sambil berharap juga, semoga komoditas cabai artifisial tersebut tidak perlu mendapatkan pasokan dari daerah lain seiring dengan ekspansi Tiongkok dalam pembukaan perkebunan kelapa secara masif...(hehehe).

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel

Sumber:

Komentar: 154

  • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
  • Leong Putu
    Leong Putu
  • Leong Putu
    Leong Putu
  • Leong Putu
    Leong Putu
    • Leong Putu
      Leong Putu
    • Leong Putu
      Leong Putu
    • Leong Putu
      Leong Putu
    • Leong Putu
      Leong Putu
    • Leong Putu
      Leong Putu
  • dm ikan
    dm ikan
    • dm ikan
      dm ikan
    • dm ikan
      dm ikan
  • Murid SD Inpres
    Murid SD Inpres
  • Johannes Kitono
    Johannes Kitono
  • Em Ha
    Em Ha
    • mario handoko
      mario handoko
  • Johannes Kitono
    Johannes Kitono
  • Juve Zhang
    Juve Zhang
  • heru santoso
    heru santoso
  • Murid SD Inpres
    Murid SD Inpres
    • Murid SD Inpres
      Murid SD Inpres
    • Murid SD Inpres
      Murid SD Inpres
  • Liam Then
    Liam Then
    • Liam Then
      Liam Then
  • Er Gham 2
    Er Gham 2
  • yea aina
    yea aina
  • heru santoso
    heru santoso
  • Er Gham 2
    Er Gham 2
  • Er Gham 2
    Er Gham 2
  • yea aina
    yea aina
    • yea aina
      yea aina
  • Er Gham 2
    Er Gham 2
  • Irary Sadar
    Irary Sadar
  • HONDA CBR150R
    HONDA CBR150R
  • HONDA CBR150R
    HONDA CBR150R
  • Liáng - βιολί ζήτα
    Liáng - βιολί ζήτα
  • Juve Zhang
    Juve Zhang
    • Jokosp Sp
      Jokosp Sp
  • Fauzan Samsuri
    Fauzan Samsuri
  • Mpok Dipa
    Mpok Dipa
  • Johannes Kitono
    Johannes Kitono
  • COMET 01
    COMET 01
  • Runner
    Runner
  • mas piet
    mas piet
  • Ella Wliet
    Ella Wliet
  • Andrea X
    Andrea X
  • Johannes Kitono
    Johannes Kitono
  • Irary Sadar
    Irary Sadar
  • Jo Neka
    Jo Neka
    • pak tani
      pak tani
  • Irary Sadar
    Irary Sadar
    • Jo Neka
      Jo Neka
  • istianatul muflihah
    istianatul muflihah
    • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
      Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    • Irary Sadar
      Irary Sadar
    • heru santoso
      heru santoso
  • pak tani
    pak tani
    • pak tani
      pak tani
  • Beny Arifin
    Beny Arifin
    • pak tani
      pak tani
    • Kujang Amburadul
      Kujang Amburadul
  • Beny Arifin
    Beny Arifin
  • dm ikan
    dm ikan
  • Kujang Amburadul
    Kujang Amburadul
  • Lagarenze 1301
    Lagarenze 1301
    • Irary Sadar
      Irary Sadar
  • Jo Neka
    Jo Neka
    • Juve Zhang
      Juve Zhang
  • istianatul muflihah
    istianatul muflihah
  • Juve Zhang
    Juve Zhang
    • Kujang Amburadul
      Kujang Amburadul
  • DeniK
    DeniK
  • Captain Bejo
    Captain Bejo
  • Jokosp Sp
    Jokosp Sp
    • Juve Zhang
      Juve Zhang
    • Jokosp Sp
      Jokosp Sp
    • mario handoko
      mario handoko
  • David Kurniawan
    David Kurniawan
    • DeniK
      DeniK
  • # Darko
    # Darko
    • DeniK
      DeniK
  • Juve Zhang
    Juve Zhang
  • Muh Nursalim
    Muh Nursalim
  • Herry Isnurdono
    Herry Isnurdono
  • Juve Zhang
    Juve Zhang
  • Jokosp Sp
    Jokosp Sp
  • Juve Zhang
    Juve Zhang
    • Wilwa
      Wilwa
  • Achmad Faisol
    Achmad Faisol
  • Juve Zhang
    Juve Zhang
  • Jokosp Sp
    Jokosp Sp
    • Juve Zhang
      Juve Zhang
    • Jo Neka
      Jo Neka
  • Juve Zhang
    Juve Zhang
    • Hartini Hartini
      Hartini Hartini
  • Momon Atun
    Momon Atun
  • ikhwan guru sejarah
    ikhwan guru sejarah
    • Jokosp Sp
      Jokosp Sp
    • ikhwan guru sejarah
      ikhwan guru sejarah
  • agus budiarto
    agus budiarto
  • Momon Atun
    Momon Atun
  • Denny Herbert
    Denny Herbert
  • Maman Lagi
    Maman Lagi
  • xiaomi fiveplus
    xiaomi fiveplus
    • ikhwan guru sejarah
      ikhwan guru sejarah
    • Momon Atun
      Momon Atun
  • Mpok Dipa
    Mpok Dipa
    • Mpok Dipa
      Mpok Dipa
    • Momon Atun
      Momon Atun
  • alasroban
    alasroban
  • Turrachman Rachman
    Turrachman Rachman
  • djokoLodang
    djokoLodang
  • Thamrin Dahlan YPTD
    Thamrin Dahlan YPTD
    • Momon Atun
      Momon Atun
    • mario handoko
      mario handoko
  • heru pujihastono
    heru pujihastono
    • Wilwa
      Wilwa
  • Achmad Faisol
    Achmad Faisol
  • heru pujihastono
    heru pujihastono
  • DeniK
    DeniK
  • Achmad Faisol
    Achmad Faisol
  • heru pujihastono
    heru pujihastono
  • riansyah harun
    riansyah harun
    • Momon Atun
      Momon Atun
  • Ahmed Nurjubaedi
    Ahmed Nurjubaedi
  • Sony Hariyanto
    Sony Hariyanto
    • Momon Atun
      Momon Atun
    • Irary Sadar
      Irary Sadar
  • riansyah harun
    riansyah harun
  • hikends
    hikends
  • rid kc
    rid kc
  • Sugi
    Sugi
  • Hasyim Muhammad Abdul Haq
    Hasyim Muhammad Abdul Haq
    • MULIYANTO KRISTA
      MULIYANTO KRISTA
    • Jokosp Sp
      Jokosp Sp
    • Captain Bejo
      Captain Bejo
  • my Ando
    my Ando
  • Edi Sampana
    Edi Sampana
  • Edi Sampana
    Edi Sampana
    • my Ando
      my Ando
  • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
  • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
  • MZ ARIFIN UMAR ZAIN
    MZ ARIFIN UMAR ZAIN
  • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
  • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
  • djokoLodang
    djokoLodang
  • djokoLodang
    djokoLodang
  • Echa Yeni
    Echa Yeni
  • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    • Maman Lagi
      Maman Lagi
  • Tivibox
    Tivibox
  • Tivibox
    Tivibox
  • ra tepak pol
    ra tepak pol
    • bitrik sulaiman
      bitrik sulaiman