Weda Bay
Presiden Prabowo dan Gubernur Maluku Utara Sherly Tjoanda Laos saat meresmikan ekspor perdana baterai EV di Pelabuhan Weda, Halmahera Tengah, Maluku Utara, 8 Oktober 2026.--
Bersejarah: Indonesia ekspor baterai mobil listrik. Kamis kemarin. Dari pulau terpencil Halmahera di Maluku Utara. Presiden Prabowo sendiri yang meluncurkan ekspor perdana itu: lewat pelabuhan Weda Bay.
Melihat video acara itu saya jadi kangen ke sana lagi. Tentu sudah berubah total. Weda Bay sudah jadi kawasan industri terkait hilirisasi nikel.
Dulu PT Antam membangun pelabuhan di Hili, Halmahera Timur. Pelabuhan yang amat ideal. Lokasinya di sebuah teluk yang sangat tenang. Seperti pelabuhan di dalam naungan dua capit kepiting yang kokoh. Tidak ada gelombang besar yang bisa menggoyang kapal besar yang bongkar-muat di pelabuhan itu. Hebatnya lagi draft pelabuhan itu sangat dalam: 20 meter. Tidak akan terjadi pendangkalan. Tidak ada sungai yang bermuara di situ. Zaman dulu jenis pelabuhan seperti itu disebut pelabuhan alam: tidak perlu membangun dermaga panjang yang menjorok ke tengah laut.
Berada di pelabuhan besar itu saya tercenung: pelabuhannya sudah jadi tapi industri smelternya belum ada. Lalu kapan pelabuhan ini tidak mubazir. PT Antam (BUMN) yang membangunnya memang punya cita-cita besar. Membangun smelter nikel di dekat pelabuhan itu. Tapi modalnya tidak cukup. Awalnya smelter itu akan dibangun dari hasil ekspor nikel-ore --tanah yang mengandung nikel. Tapi tiba-tiba Presiden SBY tegas: ekspor ore dilarang. Harus diolah. Antam langsung kehilangan darah segar. Proyek smelter pun tertunda --meski pelabuhannya sudah jadi.
Presiden Jokowi agresif menggalakkan hilirisasi. Termasuk di Weda Bay. Investor dari Tiongkok didatangkan. Proyek dikebut. Jenderal Luhut Panjaitan jadi panglima percepatan. Sukses.
Pelabuhan yang dibangun PT Antam entah bagaimana nasibnya sekarang. Seiring hilirisasi di Weda, dibangun pelabuhan baru: Weda Bay. Yang membangun dan mengelola adalah PT Indonesia Weda Bay Industrial Park (IWIP). Dikembangkan oleh konsorsium perusahaan swasta (Tsingshan Holding Group, Huayou Cobalt, dan Zhenshi Holding Group).
Kini proyek di Weda itu berhasil ekspor beneran --Prabowo yang meresmikannya.
Pidato Presiden Prabowo sangat singkat --dibanding biasanya. Ia memendekkan pidatonya dengan alasan kalau ia berpidato panjang bisa bahaya. "Kalian mau saya pidato tiga jam?" tanya Prabowo dari podium. "Mauuuu...." teriak sebagian yang harir. Mendengar itu Prabowo menukas: "bohoooong....".
Di awal pidato Prabowo juga disambut gelak tawa. Misalnya ketika ia menyebut nama Gubernur Maluku Utara Sherly Tjoanda Laos. Gemuruh tepuk tangan melebihi sambutan untuk nama-nama lain yang disebut presiden. Melihat itu Presiden nyeletuk: Pemilunya masih jauh.
Yang juga memikat adalah ucapan presiden yang sangat menghibur orang Indonesia Timur. "Orang Indonesia Timur itu makannya banyak," ujarnya disambut tawa riuh.
"Benar kan?" tanya presiden.
"Benaaar...," sambut hadirin.
"Saya tahu itu karena saya ini separo orang Indonesia Timur," katanya yang juga disambut tawa riuh. Tawa gembira. Di tentara juga begitu. Yang asal Indonesia Timur makannya lebih banyak.
Ada empat jenis yang diekspor dari Weda Bay.
Pertama, baterai lithium NMC (Nickel Manganese Cobalt). Bahan bakunya nikel, mangaan dan kobalt. Semua ada di Halmahera.
Kedua, baterai LFP --Lithium Fero Posphat. Bahan bakunya lithium, besi dan posphat. Tiga-tiganya tidak ditemukan di Halmahera.
Kenapa tidak ada bahan baku LFP tapi bisa produksi dan ekspor? Itu karena bahan bakunya didatangkan ke Halmahera dari negara lain. Bahwa itu diproduksi di Weda Bay karena di sana fasilitas untuk pengolahannya sudah ada. Infrastrukturnya lengkap. Ini yang disebut ”industri bisa menggeret industri yang lain”.
Selain ekspor dua jenis baterai tadi, Weda Bay juga ekspor bahan baku baterai. Meski tidak disebut tentunya ekspor itu ke Tiongkok.
Siapa tahu diam-diam Presiden Jokowi ngebet ingin ke Weda Bay --melihat hasil perjuangannya melakukan hilirisasi di mana-mana. (Dahlan Iskan)
Komentar Pilihan Dahlan Iskan Edisi 9 Oktober 2026: ali Lombok
Hasyim Muhammad Abdul Haq
Saya sering komentar di CHDI di saat subuh. Dan ketika saya ngecek siang hari, komentar saya sudah jauh di bawah. Scroll-nya capek. Dan jika saya mengomentari sebuah tulisan di bagian bawah itu, layar kita dikembalikan ke bagian tengah halaman. Jadi kita harus scroll lagi (capek lagi) ke bawah untuk mencari komentar yang baru saja kita kirim di bagian bawah. Kalau ada apps, kesulitan perusuh seperti ini akan bisa diatasi. Kita nggak lagi capek scroll.
Hasyim Muhammad Abdul Haq
Semua perusahaan APPS, pasti ingin dibuka setiap hari oleh user-nya. Apps yang dibuka setiap hari oleh user berarti apps itu istimewa di mata pemakai. Bahkan Shopee Pay pernah kasih bonus buat yang buka apps-nya tiap hari selama periode tertentu. Coba kita cek, apps apa yang kita buka tiap hari? Komunikasi (WA), Media sosial (FB, X, IG, Threads), video (Youtube, TikTok), musik (AppleMusic, Spotify), m-banking, browser untuk googling atau cari berita (Safari, Chrome), belanja online (Shopee, Tokopedia, Gojek, Grab) dll. Kalau saya pribadi, yang PASTI SETIAP HARI itu cuma WA, Twitter (X), m-banking, dan browser untuk cari berita, termasuk baca dan komentar di Disway. Saya buka YouTube dan dengerin musik itu tidak setiap hari. Jadi, salah satu yang tiap hari PASTI saya buka itu adalah apps browser untuk baca dan komentar di CHDI. Tentunya, saya akan beralih ke Disway Apps andai apps itu sudah ada. Saya juga yakin para perusuh bisa dipastikan buka Disway Apps tiap hari. Bahkan pagi siang malam. Tanpa perlu diiming-imingi hadiah. Lha kok apps-nya malah belum ada..
Sugi
Wah jauh sekali pesannya di Kanada. Padahal Seaplane itu ide yang sangat bagus. Apakah industri pesawat dalam negeri tidak dapat mengakomodir Bah? Semoga kelak ada anak bangsa yang mau memulainya. Apalagi peluang kita besar sekali sebagai negara maritim.
alasroban
Dulu sudah ada kayaknya prototype kerjasama PTDI & BPPT. Nama pesawat nya belibis kalau nggak salah. Terbang di atas perairan namun tidak terlalu tinggi terbang nya. Entah kemana nasib nya sekarang.
Leong Putu
Wkwkwk.... Tidak semudah itu Ferguso....! Pak Bos, tolong titipkan pesan ke pak Gub, walau kelak ijin seaplane keluar dengan lancarnya, sepertinya belum akan membuat wisatawan lokal dan mancanegara membanjiri Lombok. Infrastruktur wisata di Lombok sepertinya tidak pernah siap. Warga lokalnya sepertinya tidak pernah siap! Jangankan infrastruktur pariwisata, coba Pak Bos jalan-jalan keliling Lombok di malam hari sendirian, berani? Jangan naik mobil, sepedaan atau naik motor. Merasa amankah wisatawan manca? Satu itu aja, aman. Kalau itu sudah merata, baru bicara yg lain. Maaf jika salah.
Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
KALAU PESAWAT BISA MENDARAT DI LAUT, BIROKRASINYA KAPAN BISA MENDARAT? Selama ini, kalau mau ke Lombok dari Bali, kita naik pesawat. Pesawatnya naik dari bandara, lalu turun di bandara. Ternyata, untuk bertetangga saja kita perlu muter-muter. Kini ada gagasan lebih sederhana. Pesawatnya turun di laut. Lombok jadi dekat. Wisatawan senang. Bandara Ngurah Rai bisa sedikit bernapas. Yang menarik, pesawat dari Kanada itu tidak perlu mencari tanah untuk mendarat. Cukup air. Padahal, di Indonesia, mencari tanah saja kadang lebih sulit daripada mencari investor. Tetapi jangan-jangan nanti muncul persoalan baru. Pesawatnya sudah bisa mendarat di laut, tetapi penumpangnya bingung: imigrasi di mana, bea cukai di mana, bagasinya diambil di mana? Jangan sampai begitu turun, wisatawan langsung mendapat paket wisata tambahan: tur keliling kantor. Secara ekonomi, idenya masuk akal. Kapasitas bandara terbatas, permintaan penerbangan terus tumbuh. Memindahkan sebagian perjalanan ke moda lain bisa meningkatkan efisiensi. Tentu harus dihitung juga biaya, keselamatan, cuaca, dan jumlah penumpangnya. Satu harapan saya: jangan sampai seaplane lebih cepat mengapung daripada izinnya keluar. Kalau berhasil, Bali punya tetangga yang makin dekat. Lombok punya peluang yang makin besar. Dan birokrasi punya tantangan baru: membuktikan bahwa yang bisa bergerak cepat bukan hanya pesawatnya.
Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
PTDI BISA BIKIN SEAPLANE? Saya sering melihat pesawat jenis seaplane di televisi. Bisa mendarat di air. Bisa lepas landas dari air. Dulu saya menganggapnya pemandangan biasa di negara lain. Membaca CHDI hari ini, saya baru berpikir. Ternyata kita baru akan menghadirkannya di Lombok. Lho, Indonesia ini negara kepulauan. Pulau kita ribuan. Laut kita luas. Mestinya seaplane bukan barang aneh. Justru harusnya menjadi salah satu andalan transportasi nasional. Bayangkan kalau kita punya banyak seaplane. Pulau-pulau yang selama ini terasa jauh bisa lebih dekat. Mobilitas orang meningkat. Pariwisata tumbuh. Distribusi barang tertentu bisa lebih cepat. Waktu yang biasanya habis di perjalanan dapat berubah menjadi produktivitas. Tentu, tidak semua pulau cocok dilayani pesawat jenis ini. Cuaca, keselamatan, biaya, dan fasilitas tetap harus diperhitungkan. Tetapi potensi geografis kita jelas layak dimanfaatkan. Lebih menarik lagi kalau pesawatnya bukan hanya didatangkan dari Kanada. Mengapa tidak sekalian dibuat di Bandung? Kita punya industri dirgantara. Kita punya insinyur. Kita punya pasar kepulauan yang nyata. Jangan sampai laut kita luas, tetapi peluangnya justru terbang ke luar negeri. Lombok boleh menjadi titik awal. Semoga bukan titik akhir.
Dacoll Bns
Jalur ke Buleleng/Singaraja dari arah Badung/Tabanan yg melewati bedugul sebenarnya sudah mulai diperbaiki, pak Dahlan. Selepas dari Baturiti ke arah danau bedugul dan sebaliknya sudah dibuat shortcut, kemudian dari danau Beratan/ Pancasari ke arah Pegayaman/Singaraja jg sudah ad setidaknya 3 shortcut yg pernah saya lewati dan viewnya luar biasa, terutama saat turun kabut menjelang maghrib, sesekali pak Dahlan perlu bawa Denza ke Bali untuk menikmati perjalanan darat dari Badung ke Buleleng, saya saat ada perjalanan kantor ke Singaraja naik motor pun biasanya sangat menikmati perjalanan tersebut
Lagarenze 1301
Santai Sejenak. Di Amerika, masih ada media yang terbit cetak. Di antaranya, The New York Post. Milik Rupert Murdoch. Pendukung Donald Trump. Pembaca bisa membeli koran ini antara lain lewat Newspaper Vending Boxes di sejumlah tempat. Seorang nenek tua pergi ke vending machine, memasukkan koin, mengambil koran, melirik sekilas halaman pertama, lalu langsung membuangnya. Keesokan hari, nenek itu pergi ke mesin itu lagi, membeli koran, melihat sekilas halaman depan, lalu langsung membuangnya. Begitulah terus berulang hari demi hari. Suatu pagi, seseorang bertanya kepada nenek dengan rasa ingin tahu: "Nenek, mengapa selalu langsung membuang koran tanpa membukanya? Padahal Nenek membelinya, lho." Nenek menjawab, "Oh, saya hanya mencaril berita duka cita." Orang itu terkejut, "Tapi, berita duka cita tidak ada di halaman depan." Nenek menjawab, "Berita duka cita yang saya tunggu-tunggu akan ada di halaman depan...."
mario handoko
selamat pagi bp dahlan. info untuk abah. bandara cengkareng pada saat diresmikan th 1985. memang hanya punya 2 landasan. masing2 sepanjang 3.660 meter dan 3.600 meter. namun pada th 2020. sudah diresmikan pemakaian landasan ke 3. yang memiliki panjang 3.000 meter. walaupun landasan ke 3 lebih pendek dari kakaknya. namun teoritis sudah cukup untuk dipakai mendarat / lepas landas boeing 747
Bahtiar HS
Entah mengapa, bicara tentang pesawat, ingatan saya selalu melayang ke sosok tak tergantikan. Prof BJ Habibie. Mudah2an beliau husnul khatimah dan berada di jannah-Nya. Konsep pesawat untuk keperluan negara Indonesia yang kepulauan ini sudah pasti ada dalam visi misi Habibie. Baik pesawat yg cocok utk penerbangan antar-pulau maupun yg bs mendarat di perairan (pesawat amfibi/seaplane). N250 Gatotkaca maupun R80 adalah 2 desain yg beliau siapkan diperuntukkan untuk penerbangan antar-pulau. Dg mesin turboprop (baling2) dan penumpang yg sedikit, pswt ini mampu lepas landas dan mendarat di landasan pacu yg pendek. Cocok utk penerbangan antar-pulau. Bahkan sejak awal, beliau sdh memikirkan seaplane dg melisensi pswt NC-212 Aviocar dari CASA Spanyol. Ini jadi cikal bakal pswt amfibi (seaplane) krn sayapnya yg tinggi (high-wings) yg cocok utk wilayah perairan. Di PTDI dan BRIN, ini menjadi pondasi pengembangan pswt N219 Amfibi (Seaplane). Pswt komuter berpenumpang 19 seat dg tambahan float utk bs mendarat di air. Bahkan kabarnya, pswt N219A ini sdh dipesan perush swasta di Bali utk mendukung pariwisata bahari (lihat Antara, 26 Ags 2026). Artinya sebenarnya Indonesia sdh bs memproduksi pswt seaplane spt yg dipesan Gub NTB Mamiq itu. Lha kenapa kok makai produksi Kanada? Sangat disayangken. Produksi anak bangsa tidak kalah dg produksi asing dan aseng. Kita hanya belum punya keberpihakan saja pd produk bangsa sendiri. Jangan2 itu yg dimaksud sebenarnya Pak P: Hai antek2 asing!
Pak De Kumis
"Melahirkan seaplane di Lombok juga lebih sulit --terutama perizinan dari pemerintah pusat". Kita sudah masuk era otonimi daerah cukup lama tetapi entah kenapa, urusan ijin di daerah kok masih tergantung pusat. Era otonomi daerah tapi daerah kok masih "nyusu" anggaran ke pusat. Aneh! Lalu apanya yang otonom?
Juve Zhang
Batubara diubah jadi BBM seperti cerita sang raja Gareng....ini mahal sekali belum tentu ekonomis... sebaiknya Batubara tetap buat PLTU karena ekspor juga besar kebutuhan dalam negeri besar...dalam lima atau enam dekade akan habis ... Indonesia ternyata harus impor nantinya ke Australia negara dengan cadangan batubara sangat besar dibandingkan jumlah penduduk yg 30 juta....hanya Australia yg akan jual tentu jual mahal....karena 5 dekade ke depan batubara di mana mana akan habis ....pun Tiongkok ygbesar cadangan akan habis ... Indonesia hanya punya 31 milyar Ton cadangan batubara penduduk 280juta lima dekade kedepan bisa tembus 450juta jiwa....saat itu Batubara sudah habis.... Australia cadangan batubara 150 milyar Ton penduduk 30 juta jiwa ini tempat beli Batubara kedepannya....
Liáng - βιολί ζήτα
Seaplane. Anda mungkin belum tahu, bahwa Seaplane sudah menjadi moda transportasi yang sangat umum di Skandinavia karena kondisi geografisnya yang dipenuhi fjord, ribuan pulau, dan garis pantainya yang sangat panjang. Fjord adalah teluk laut yang panjang, sempit, dan bertebing curam, yang menjorok jauh ke daratan. Fjord terpanjang di dunia, semuanya ada di Skandinavia, sebut saja : - Scoresby Sund (Greenland) 350an km. - Sognefjord (Norwegia) 200an km. - Hardangerfjord (Norwegia) 180an km. By the way, jika Anda dari kota Kopenhagen terburu-buru mesti ke kota Aarhus..... Anda dapat dengan mudah "duduk tjakep" di dalam Seaplane, tanpa harus melewati antrean panjang di Bandara Besar..... naik di dermaga Pelabuhan Kopenhagen dengan tujuan ke Pelabuhan Aarhus, waktu tempuhnya hanya sekitar ¾ jam, sedangkan menggunakan Kapal Feri dibutuhkan waktu sekitar 4jam. Menanggapi CHDI hari ini, saya lebih tertarik untuk mengamati Seaplane produksi Norwegia dan Tiongkok..... ○ Norwegia (Pionir Seaplane Listrik). Elfly Group dari Norwegia tengah mengembangkan Noemi (No Emission), sebuah rancangan Seaplane bertenaga listrik sepenuhnya. ○ Tiongkok (Produsen Seaplane Ukuran Fisik Terbesar). Tiongkok memproduksi AVIC AG600 Kunlong (鯤龍 kūn lóng) yang masih memegang rekor sebagai Seaplane terbesar dan terberat di dunia, hampir setara dengan ukuran Boeing 737.
Juve Zhang
Setiap anda beli sabun asepso sulfur C apapun merk-nya ..... shampoo anti ketombe... Anti miskin ..anti apapun... setiap beli Pepsodent ciptadent apapun merk-nya setiap beli minyak goreng apapun merk-nya anda sudah bayar pajak PPN 11%.... kemarin pak Jo Neka gak ikhlas pajak yg beliau bayar PPN 11% dipake gaji 76 juta ....saya kalau jadi pejabat ngeri kalau makan pajak yg dibayar seluruh rakyat Indonesia tapi gak ikhlas .... Takut jadi kanker....jadi serangan jantung dadakan...jadi gagal ginjal ...gagal hati....gagal jantung....gagal apapun organ tubuh kita....jadi anda yg makan pajak rakyat puluhan juta baca komentar pak Jo Neka kemarin saya ikut ngeri sama ketidak ikhlas an pak Jo Neka jangan jangan mayoritas rakyat sudah bayar PPN 11% gak ikhlas ..... Amsiong kalau dimakan....
Warok Ponorogo
Sebagai wong Ponorogo yang sudah 36 tahun ber KTP Bali ngerti betul jika landasan pacu bandara Ngurah Rai dipaksain memiliki landasan pacu dobel, dimana jarak antaranya 1 km. Sebagaimana diketahui, lebih dari separuh panjang landasan pacu Ngurah Rai adalah daratan hasil pengurukan atau reklamasi pantai. Kami di Bali menyebutnya pantai Jerman disisi selatan, sedangkan di sisi Utara, pantai Kuta. Untuk menghindari abrasi sepanjang landasan pacu, maka disisi kanan dan kirinya dipasang tripod, yang berfungsi sebagai pemecah ombak. Abrasi teratasi di kedua sisi landasan pacunya, tapi akibat samping sepanjang garis pantai di sisi selatan, dari pantai Jimbaran sampai pantai Kelan mengalami abrasi pantai. Demikian juga di sisi utara, pantai Kuta ikon wisata Bali. Dengan mengusung, Ajeg Bali dan konsep Tri Hita Karana, maka Seaplane Lombok adalah solusi saling menguntungkan bagi Bali dan Lombok.
Wilwa
@Juve. Trump pada dasarnya setengah Hitler.:) Ada power tertentu yang tak kasat mata namun hanya bisa dirasakan dengan hati yang mencegah sapiens macam Hitler berkuasa. Fenomena T dengan solar cell, electric vehicle, berbagai temuan menuju bumi tanpa polusi adalah sebuah manifestasi invicible power tersebut. Ada yang menyebutnya Tuhan. Ada yang menyebutnya Semesta. Ada yang menyebutnya Tan Keno Kinoyo Ngopo. Whatever. Saya pribadi tak terlalu peduli pada kata, bahasa. Yang pada adalah jari menunjuk bulan. Kata Master Zen Huineng. Saya percaya Karma dan Lahir Kembali. Tapi saya tak mau terikat pada satu established religion. Karena saya yakin itulah yang diinginkan Buddha. Filsuf teragung yang pernah hidup. Buddha hanya menunjukkan jalan dan kita sendiri yang harus menjalaninya. Yang revolusioner dari filosofi Buddha adalah kesetaraan. Semua orang bisa jadi Buddha. Sebaliknya juga bisa yaitu jadi Mara. Yang menentukan diri kita sendiri. Kalau dalam bahasa agama yang Anda Sudah Tahu ibaratnya semua orang bisa jadi tuhan atau sebaliknya jadi hantu.:) Ini selaras dengan Revolusi Perancis. Egalite. Atau Revolusi Amerika saat Jefferson bilang All men created equal. Semua sapiens diciptakan setara. Tanpa kasta. Kasta tuan/master dan kasta budak/slave. Itu pula inti yang dipikirkan Karl Marx. Sebuah utopia. Sama utopianya dengan ide surga. Atau kerajaan surga di bumi. Di mana tiada duka. Yang ada hanya suka. Tapi itulah mimpi dan harapan sapiens. A dream. American or Chinese etc
Johannes Kitono
Asmara Lumba Lumba. Ini nama Kapal Pesiar punya Johnny Wijaya, TIRA grup. Kapal Catamaran didesign khusus untuk Diving. Sehari 3 Dive termasuk night dive. Punya 18 cabin full AC termasuk Clinic Cabin yang ekonomi. Beta dan Guide Hendro Clinic Cabin fee USD 800,- /trip.Pagi pagi kapal berangkat dari Benoa menuju Gili Terawangan Lombok. Richard Cook, pelatih Diving asal Canada kasih aba aba turunkan jangkar. Dengan tertip divers nyelam bersama. Ikuti arus sambil menikmati taman laut yang indah. Pagi itu rombongan kakap merah cari makan.Terkadang ada Stingray muncul dari dasar laut dan "terbang". Ada 3 pasang ikan Napoleon.Mematuk matuk kepasir cari makan cacing laut.Fauna bawah laut damai tidak seperti politisi di Senayan.Sekitar 1,5 jam Dive 1 selesai dan naik ke Kapal. Istirahat di layani Chef ex Hilton.Sekitar jam 2 mulai dive 2 dilokasi berbeda.Ikan ikan dan coral warna warni ditembus sinar matahari.Terlihat Krapu gendut seperti nyangkut di karang. Diraba dengan tangan bersarung diam saja.Jinak sekali.Coach Richard kasih kode naik lagi ke kapal. Para divers rest dan siap untuk night dive.Harus punya senter Toshiba 5 baterai = 400 sinar lilin. Sop night dive harus diikuti agar tidak pulang nama. Coach tentukan titik turun dan tali jangkar diikat senter hidup. Pemandangan indah sekali. Ikan besar tidur di gua karang dengan mata terbuka.Pasangan Lobster menjelajah bebas diatas pasir. Pasti ditulis diver di log booknya. Pemandangan terindah dunia ada di laut NKRI. S S H B.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel
Sumber:
Komentar: 134
Silahkan login untuk berkomentar