Anak Sembrono

Anak Sembrono

--

Meski sudah ditahan dan statusnya sudah tersangka, ada problem teknis untuk memeriksa Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo.

Ia memang sudah diberhentikan sebagai kapolri, tapi masih jenderal bintang empat yang aktif. Tidak akan ada pangkat yang lebih tinggi yang bisa memeriksanya di kasus penyadapan telepon Presiden Prabowo.

Maka kepala staf kepresidenan yang hanya menjabat satu bulan itu harus dipecat dulu dari anggota polisi. Itulah yang akan dilakukan --lewat persidangan kode etik kepolisian.

Sidangnya biasanya kilat: bisa satu hari. Begitu dewan kehormatan polisi memutuskan Jenderal Listyo Sigit melanggar kode etik polisi, rekomendasinya tegas: dipecat sebagai anggota polisi. Pangkat dilucuti. Ia bukan lagi jenderal --bahkan bukan lagi polisi. Pangkat serendah apa pun tidak sungkan memeriksanya sebagai tersangka perbuatan pidana.

Jangan-jangan sidang itu sudah dilakukan kemarin. Atau hari ini. Di kepolisian dewan kehormatan itu disebut Komisi Kode Etik Polri (KKEP).

KKEP tidak punya ketua permanen. Ketuanya baru ditunjuk ketika akan ada persidangan. Tugasnya pun selesai ketika keputusan sudah diambil.

Untuk menyidangkan Jenderal Listyo Sigit kelihatannya tidak ada pilihan lain: Irwasum sendiri yang akan ditunjuk sebagai ketua. Yang menjabat inspektur jenderal pengawasan umum (Irwasum) sekarang adalah Asep Edi Suheri, jenderal polisi bintang tiga.

Bisa juga kapolri menunjuk yang lain sesuai dengan kebutuhan. Misalnya di sidang etik Ferdy Sambo Agustus 2022 lalu. Ketuanya bukan Irwasum Agung Budi Maryoto. Yang ditunjuk adalah Kabaintelkam Polri Ahmad Dofiri --bintang tiga saat itu. Kelak di awal tahun 2026 Dofiri diangkat Presiden Prabowo menjadi anggota tim Reformasi Polri bersama Prof Jimly Assiddique (ketua) dan Prof Mahfud MD.

Jenderal Dofiri di sidang Sambo itu didampingi Gubernur PTIK Irjen Yazid Fanani, Wairwasum Irjen Tornagogo Sihombing, Kadiv Propam Irjen Syahardiantono, dan Irjen Rudolf Alberth Rodja.

Irwasum Agung Budi Maryoto, kala itu, baru jadi ketua pada sidang lanjutan ketika Sambo ternyata naik banding. Putusannya sama: dipecat.

Kalau saja Jenderal Listyo Sigit nanti juga akan banding berarti pemecatannya tidak bisa selesai dalam satu-dua minggu. Dalam kasus Sambo prosesnya satu bulan.

Semua itu gara-gara Polri punya hak sadap.

Seberapa besar sebenarnya manfaat hak penyadapan bagi Polri?

Rasanya DPR perlu membahas ini, setidaknya dalam sidang setengah kamar. Pun dengan Kejaksaan Agung. Kalau manfaatnya ternyata besar silakan saja. Tapi kalau hak sadap itu lebih banyak membawa kerusakan mungkin perlu ditata ulang.

Misalnya cukuplah BIN dan KPK yang diberi hak sadap: BIN untuk mengejar teroris dan musuh negara, KPK mengejar koruptor.

Selebihnya, untuk mengejar penjahat biasa, diserahkan kepada ahli intelijen konvensional dan reserse andal. Gara-gara hak sadap itu kita kehilangan orang hebat seperti Jenderal Listyo Sigit. Kita juga kehilangan orang hebat sekelas Jaksa Agung Muda Febrie Adriansyah --yang jangan-jangan juga hasil saling sadap.

Ketika masih menjadi wartawan dulu saya sering mendengar cerita seorang reserse yang tanpa alat sadap berhasil membongkar kejahatan besar. Bangganya luar biasa. Pun seorang intelijen yang harus melakukan penyamaran berkali-kali baru berhasil mengendus kejahatan besar.

Jangan-jangan setelah ada alat sadap kehebatan seperti itu akan berkurang --pilih jalan pintas: sadap.

Jangan sampai banyak instansi mendapat wewenang sadap yang ujungnya justru hanya membuat antarinstansi itu saling sadap.

Maka, kalau saya menjadi orang BNN, justru bangga hak sadap BNN dihapus di zaman Kapolri Listyo Sigit. Toh tanpa hak sadap BNN bisa menunjukkan prestasi tertingginya saat Suyudi Ario Seto, kapolri sekarang, menjadi kepala BNN, ketika hak sadap BNN sudah dicabut --alatnya ditarik ke mabes.

Ternyata sebagian alat sadap di mabes itu dipindahkan ke sebuah rumah di Widya Candra, dekat kompleks perumahan menteri --termasuk dekat rumah dinas Menteri Pertahanan Prabowo Subianto sebelum jadi presiden. Di rumah itulah "markas" penyadapan ke Presiden Prabowo dan lain-lain.

Ketika Polri punya pimpinan baru ketahuan: sebagian alatnya tidak berada di tempat. Misalnya mobile transmitter LIMS. Itu alat kecil. Hanya separo ukuran CPU biasa. Warna merah.

Alat inilah yang bisa "menyadap" hubungan komunikasi lewat operator antara satu pemilik telepon dengan pemilik telepon lainnya.

Mungkin para penyadap sudah merasa ini bukan kejahatan --ibarat sesudah berkali-kali korupsi merasa bukan korupsi lagi.

Sebagai sebuah kejahatan ini terlalu sembrono: memindahkan barang milik Mabes Polri ke rumah pribadi.

Semborno adalah anak kandung kebiasaan.(Dahlan Iskan)

Komentar Pilihan Dahlan Iskan Edisi 6 November 2026: Sejarah Pertanda

Beny Arifin

Dari sidang kemarin saya 80% yakin Jokowi pernah kuliah di UGM. Tapi memang kelihatan sekali bukan aktivis atau mahasiswa gaul yang temennya banyak. Diperkuat dia tidak pernah datang di reuni resmi UGM yang didatangi alumni yang jadi pejabat2 publik. Soal ijazah. Fungsi foto di ijazah setahu saya sebagai identitas visual pemiliknya. Foto Jokowi mungkin jadi foto orang Indonesia terbanyak yang dijadikan meme. Tapi saya selalu bisa mengenali bahwa itu foto Jokowi walaupun sudah diubah jadi bentuk patung, arca, jadi foto wanita, bahkan maaf maaf diubah jadi kodok pun saya tetap bisa mengenali itu Jokowi dari hidung atau mulut asli nya. Tapi di foto ijazah memang saya 99% yakin itu bukan Jokowi. Dan kalau benar itu Jokowi, keahlian menyamarnya sudah level makeup artist hollywood. Bollywood jelas kalah jauh.

Enggar Estiko Handoko

Betapa cepatnya perkembangan AI sekarang. Berawal dari keresahan saya yang mana saya adalah pembaca disway setia yang selalu membaca seluruh tulisan Pak Dahlan dari awal (tapi tidak pernah komen). Namun karena kesibukan 1,5 tahun terakhir, saya tidak bisa rutin baca tulisan abah tiap hari, ada saja artikel yg tertinggal. Karna ingin catch up membaca artikel yg belum kebaca namun bingung yg mana yg belum kebaca, akhirnya saya minta AI untuk membuatkan sebuah web yg mengakomodasi itu dengan fitur : Bisa bookmark, tandai sudah/belum dibaca, pencarian keyword, dan bisa dibaca pakai dark mode biar enak dimata. AI membuatkan itu hanya dalam 15 menit, dia scrapping semua tulisan abah dari awal yg ada di internet (termasuk series Ganti Hati, Manufacturing Hope, dan Ganti Hati), dan membuatkannya dalam 1 dashboard. Kalau user login pakai akun google nanti bisa simpan dan bookmark serta tandai artikel mana2 yg sudah dan belum dibaca. Jadilah web https://disway.enggars.com Sebelumnya mohon maaf saya tidak tahu copyright tulisan abah apa boleh dijadikan 1 kayak gitu, karna ini hanyalah proyek pribadi iseng2 pakai AI buat scrapping semua tulisan abah dan jadiin 1. Bila redaksi disway keberatan boleh kontak saya.

Ahmed Nurjubaedi

Bagi penggemar Sherlock Holmes Dan Agatha Christi seperti saya, terbongkarnya penyadapan presiden Prabowo terlalu sederhana jika dengan serta merta Jokowi yang menjadi tertunjuk aktor dibalik layar. Seperti yang kebanyakan orang pikirkan. Bahkan Abah DI pun terkesan demikian (Abah DI hanya pura2 demikian?). Untuk multi mencari kebenaran, salah satu prinsip mendasar yang dipertanyakan oleh Sherlock atau Poirot adalah: siapa yg paling diuntungkan dari kejadian ini? Sherlock melakukan deduksi, mengumpulkan fakta2 di lapangan, kadang sampai bertaruh nyawa. Poirot melakukan pengamatan psikologis dan induksi dengan sel abu-abu di dalam kepalanya. Dan kasus nan ruwet pun terbongkar. Ah. Perisriwa ini mengingatkan saya pada peristiwa ketika Ken Arok menebas leher Kebo Ijo, saat mendapati keris Mpu Gandring (yang diketahui umum dimiliki Kebo Ijo) menancap di dada Tunggul Ametung dan merenggut nyawa sang akuwu Tumapel. Hanya kurang dari 2 tahun kemudian, Ken Arok berhasil merebut tahta Kediri dan mendirikan klan Rajasa cikal bakal Majapahit. Seperti di belahan bumi lain, intrik kekuasaan di tlatah Jawa seringkali rumit. Juga sadis. Ah... Mingkar mingkuring ukara.....

Hasyim Muhammad Abdul Haq

Dulu tuduhannya Jokowi nggak bakal berani datang ke persidangan. Dulu minta Jokowi tunjukkan ijazah di depan publik. Dan kemarin ternyata Jokowi hadir. Di 2 persidangan sekaligus. Menunjukkan ijazah di forum resmi di depan hakim di persidangan. Apa hasilnya? Ya tetap saja itu tak cukup. Dan menurut saya tak akan pernah cukup. Kini mereka minta ijazah harus mereka uji forensik lagi. Semua itu tak akan pernah cukup karena ijazah palsu Jokowi itu sudah menjadi KEYAKINAN. Ijazah Jokowi bukan lagi soal pembuktian. Hasil persidangan nanti pun tak akan pernah dipercaya karena sudah yakin itu palsu atau di sisi lain sudah yakin itu asli. Mungkin kita perlu kolom tambahan di KTP kita tentang ini. Keyakinan kita terhadap ijazah Jokowi kita masukkan dalam KTP. Kita yakin ijazahnya asli, atau palsu.

Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺

PERTANDA, JANGAN-JANGAN LEBIH PENTING DARI PERISTIWANYA.. Sejarah memang sering ditulis oleh peristiwa. Tetapi sejarah juga bisa dibaca dari pertanda sebelum peristiwa itu terjadi. Jokowi datang ke pengadilan. Membawa ijazah asli. Membawa pula ribuan pendukung. Dua hal yang menarik untuk dicermati. 1) Yang pertama menyangkut pembuktian hukum. 2) Yang kedua menyangkut kekuatan politik. Tetapi ada yang lebih menarik. Mengapa ijazah yang selama ini menjadi polemik baru diperlihatkan di ruang sidang? Dan mengapa justru diiringi pengerahan massa begitu besar? ### Di sisi lain, perkara penyadapan berkembang menjadi dugaan makar. Ini bukan lagi sekadar urusan teknologi penyadapan. Sudah masuk wilayah keamanan negara. Pak Dahlan menghubungkan dua peristiwa itu dengan pertanda politik yang lebih besar. Menarik. Tetapi "pertanda" bukanlah bukti. Kecurigaan bukanlah kesimpulan. Kita perlu menunggu fakta. Siapa menyadap siapa, untuk kepentingan apa, dan siapa yang berada di belakangnya. Sebab dalam politik, yang tampak di panggung belum tentu pemain utamanya. Kadang sutradaranya justru tidak pernah muncul di panggung.

Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺

IJAZAH, MASSA, DAN SENI MEMBUAT ORANG PENASARAN.. Ada yang menarik dari sidang ijazah S1 Jokowi kemarin. Selama bertahun-tahun orang meminta ijazah asli. Ketika akhirnya dibawa ke pengadilan, yang paling bersemangat justru penontonnya. Sampai hakim harus mengingatkan bahwa ruang sidang bukan stadion sepak bola. Rupanya ijazah punya dua fungsi. Sebagai bukti akademis dan sebagai alat pembangkit adrenalin massa. Yang lebih menarik, Roy Suryo malah tertawa. Jokowi menunjukkan ijazah, Roy menunjukkan senyum. Masing-masing punya keyakinan sendiri. Bedanya, yang satu membawa dokumen, yang lain membawa dugaan. Sementara itu, ribuan pendukung datang. Lengkap dengan mobil komando dan pengeras suara. Kalau jumlah massa bisa menjadi alat ukur kebenaran, sepertinya kampus perlu mengganti ujian skripsi dengan lomba pengerahan massa. Untung hakim tidak ikut bertepuk tangan. Kalau ikut, bisa-bisa sidang berubah menjadi acara wisuda. Kesimpulannya sederhana: Ijazah harus diuji dengan ilmu forensik. Harusnya. Bukan dengan volume pengeras suara. Sebab kebenaran tidak mengenal sistem desibel.

hoki wjy

Banyak jawaban Pak Mul.. tdk sinkron dengan putusan PTUN bahkan pak Mul tdk sadar dijebak dengan pertanyaan yg sangat mudah misalnya apakah saudara waktu mendaftar langsung ke Sarjana dijawab oleh pak Mul Iya kemudian pertanyaan tsb diulang kembali dijawab Iya padahal saat itu atau jaman itu sesuai dengan perkataan rektor UGM seseorang tdk bisa mendaftar langsung ke Sarjana tapi harus mendaftar ke Sarjana muda dulu.belum lagi nanti pasti akan diselidiki bagaimana ijasah ada ditangan Pak Mul? padahal katanya telah disita kepolisian dan bagaimana bisa ijasah yg sudah 40 tahun masih terlihat kinclong dan sangat baru? ketika ditanya waktu ikut KKN apakah tahu berapa anak pak lurah didesa itu? di jawab pak pak Mul saya KKN tdk urus anaknya lurah wkkk. belum lagi hasil uji Lab ijasah Pak pak Mul ternyata sengaja disembunyikan dari DR Tifa? dan Dr Tifa akan melaporkannya ke Kejaksaan dan Presiden .belum lagi kata Pak Mul waktu mendaftar Pilkada selalu memakai ijasah yg dia pegang tapi keputusan PTUN bahwa waktu mendaftar tdk pernah diperlihatkan ijasah aslinya.sekarang Roy dan Dr Tifa sangat diuntungkan dengan terbongkarnya kasus penyadapan. INGAT KEBENARAN AKAN SELALU MENCARI JALANNYA SENDIRI.

Wilwa

Dan “penggadaian” tanah itu dimulai 11 Mar 1966 dengan sebuah Surat Perintah yang aslinya hilang entah kemana. Dan karena sejarah ditulis oleh pemenang yang sudah terkubur di dalam tanah sana maka tak ada lagi yang bisa dituntut dari dia. Itu saja. Sebuah SURAT yang ASLI nya entah kemana.

Wilwa

Sekian juta hektar tanah yang digadaikan ke foreign company itu khan seperti mengulangi sejarah Amangkurat II yang menggadaikan pesisir utara Jawa ke VOC alias Dutch East India Company untuk merebut takhta dari Trunojoyo dkk. Lucunya walau Trunojoyo distigma sebagai pemberontak selama berabad, eh kemudian namanya dimulai akan menjadi nama jalan hanya karena dia dulu melawan Company Belanda. Pokoknya yang melawan Company Belanda jadi pahlawan. Minimal jadi nama jalan. Ah sudahlah, sejarah memang selalu ditulis oleh pemenang.

Liam Then

Tentang TKW asisten rumah tangga di Singapura. Tadi malam saya menggugat netizen Singapura di dalam kolom komentar sebuah video di YouTube yang menayangkan polemik ketegangan antara Singapura vs Indonesia sekarang. Netizen asal Singapura itu menggugat keburukan sifat pemerintah Indonesia, menuduh bahwa ketegangan ini sengaja dimunculkan oleh pemerintah ditengah ketidakpuasan masyarakat Indonesia, supaya bisa ada "musuh bersama" sehingga bisa lupa, nir prestasi pemerintah dan kesulitan domestik penduduk RI beberapa tahun belakangan ini. Kata-kata mereka : Indonesia tidak hargai kontrak dlsb. Mereka tak hargai investasi asing. Saya tulis begini : kepada rekan fellow tetangga di Singapura, apakah anda tahu, negara anda adalah penampung dana terbesar under invoicing dan transfer pricing dari banyak perusahaan Indonesia? Apakah anda ada miliki saham Wilmar? yang punya konsesi ratusan ribu hektar, segitu pula jumlah hutan alam di Indonesia yang dirusak oleh perusahaan asal negara anda tersebut. ESG much? Apakah anda ada konsumsi produk minyak sawit Wilmar? Apakah anda tahu? Wilmar sudah terbukti pernah sebagai tergugat ,karena menyuap hakim dan sistem peradilan di RI dan sudah bayar denda jutaan USD karenanya? Apakah anda tahu berapa porsi saham SWF negara anda di perusahaan tersebut jika ada . ESG much? Tentang perdagangan, mari kita jujur, dalam hubungan bisnis, selalu ada yang namanya "kepentingan".

pak tani

Mengenai Crypto. Melihat chaos nya Paraguay kita jadi berpikir, amankan uang kita di bank? Kok bisa, dalam sekejap uang rakyat Paraguay 'hilang' ? Bagaimana tanggapan Bank Central Paraguay? Belum jelas. Semua ambyar. Amsyong Lalu, kalau bank konvensional dianggap tidak aman, kita simpan uang dimana? Tidak mungkin dibawah bantal kan? Masa balik ke jaman dulu ? Itulah salah satu alasan mengapa bisa muncul Crypto currency. Dengan Bitcoin sebagai mata uang andalannya. Bahkan bisa dibilag mata uang crypto itu ya Bitcoin. Berbeda dengan bank konvensional yang tersentralisasi, bitcoin sifatnya desentraslisasi. Tersimpan aman dalam dompet digital anda. Hingga saat ini, tidak ada pihak ke3 yang bisa memotong Bitcoin di wallet anda, dengan alasan apapun. Lebih aman? Ya. Tapi tidak 100%, masih ada resiko, seperti yang heboh kemarin2 ini. Binance diretas. Jumlah uang yang dicuri.... 100T lebih. Terbanyak dalam sejarah kejahatan siber. Ibaratnya dompet anda aman. Tapi saat sedang belanja di pasar ada pencuri yang sedang merampok pasar. Kalau kebetulan anda ada disitu, uang anda yang di pasar itu ikut hilang. Jadi, Pilih Bank atau Crypto? Saya ngga pilih dua2nya. Lha uangnya ngga ada.... Amsyong

Agung Bramanti

Negeriku Song by Iwan Fals ‧ 2004 Bersih, bersih, bersih, bersihlah negeriku Malu, malu, malu, malulah hati Kotornya teramat gawat, ya kotornya sangat Inilah amanat yang menjadi keramat Bersih, bersih, bersih, bersihlah diri Sebelum menyapu sampah dan debu-debu Nyanyian berkarat sampai ke liang lahat Atas nama rakyat yang berwajah pucat Negeriku, negeri para penipu Terkenal ke segala penjuru Tentu saja bagi yang tak tahu malu Inilah sorga, sorganya sorga Negeriku ngeriku Busuk, busuk, busuk, busuk bangkai tikus Yang mati karena dihakimi rakyat Adakah akhirat menerima dirinya? Adakah di sana Yang masih bisa bercanda dengan rakus? Negeriku, negeri para penipu Terkenal ke segala penjuru Tentu saja bagi yang tak tahu malu Inilah sorga, sorganya sorga Negeriku ngeriku Bersih, bersih, bersih, bersihlah negeriku

Juve Zhang

Secara ilmu pengetahuan Mummni Usia ribuan tahun bisa dikira kira umurnya kalau kertas ijazah usia puluhan tahun mestinya gampang di cek ...ilmu pengetahuan sudah jauh melampaui kisruh di kerajaan Singosari.....kita yg serba ketinggalan....yg maju ilmu korupsi.

Juve Zhang

Dibawah pak Tani merasa takut uang beliau di bank yg banyak hilang lenyap gak bisa diambil seperti Paraguay....wkwkw....pak Tani bisa bagi saja ke saya uangnya nanti ambil di tahun 2045 tahun Emas ....bunga cincay lah 1% setahun....aman pak Tani.. selamat sibuk diundang pak JKW makan malam nampak nya....

Murid SD Inpres

Saudara Dahlan Iskan ini kalau membahas Jokowi acapkali tendensius. Padahal Jokowi itu sosok penting bagi Presiden Prabowo Subianto, sosok yang Anda puja-puja. Dan sepanjang 2 tahun menjabat RI-1, BELUM PERNAH SATU KALI PUN, saya dengar / saya dapati / saya jumpai, Presiden Prabowo Subianto menyinggung / menyindir / mendiskreditkan / mem-framing Jokowi. Boleh saya tanya, ada masalah apa Anda secara personal, kepada mantan presiden ke-7 RI Jokowi? Izinkan saya mengingatkan Anda. Anda sudah dianugerahi "hati yang baru", sejak lama. Masih baik-baik saja, kan?

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel

Sumber:

Komentar: 22

  • djokoLodang
    djokoLodang
  • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    • djokoLodang
      djokoLodang
  • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
  • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
  • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
  • MZ ARIFIN UMAR ZAIN
    MZ ARIFIN UMAR ZAIN
  • my Ando
    my Ando
  • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    • my Ando
      my Ando
  • Achmad Faisol
    Achmad Faisol
    • my Ando
      my Ando
  • my Ando
    my Ando
  • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
  • DeniK
    DeniK
    • my Ando
      my Ando
  • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
  • ra tepak pol
    ra tepak pol
  • djokoLodang
    djokoLodang
  • djokoLodang
    djokoLodang
  • ra tepak pol
    ra tepak pol
  • ra tepak pol
    ra tepak pol