IMF: Ekonomi Indonesia Jauh dari Ancaman Krisis, Simak Penjelasannya

IMF: Ekonomi Indonesia Jauh dari Ancaman Krisis, Simak Penjelasannya

IMF pastikan perekonomian Indonesai jauh dari ancaman Krisis global-ilustrasi-

JAKARTA, DISWAY.ID - Direktur Pelaksana Dana Moneter Internasional (IMF), Kristalina Georgieva memastikan, bahwa Pemerintah Indonesia secara mandiri masih bisa bertahan dari ancaman situasi geopolitik akibat perang Rusia-Ukraina. 

Artinya, Indonesia cenderung aman dari ancaman krisis ekonomi.

Hal itu dikatakan langsung Kristalina Georgieva di hadapan Menteri BUMN Erick Thohir dan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Uno, saat mengunjungi Gedung Sarinah, Jakarta, beberapa waktu lalu. 

"Indonesia sudah menuju pada arah yang baik dengan memiliki fondasi ekonomi yang kuat dengan kemajuan pembangunan infrastruktur dan pemberdayaan kepada UMKM," kata Georgieva.

BACA JUGA:Miris! Siswa SD Dibully Cabuli Kucing Sambil Direkam Video, Korban Depresi dan Akhirnya Meninggal Dunia

IMF memilai, bahwa ekonomi Indonesia masih akan tetap positif di tengah tekanan geopolitik akibat perang Rusia dan Ukraina.

"Ada tiga hal yang disampaikan, pertama dia meyakinkan Indonesia tidak berada dalam jurang krisis seperti yang digembar-gemborkan," kata Menteri BUMN Erick Thohir.

Kendati begitu, kata Eric, khal tersebut tidak menurunkan kewaspadaan Indonesia meski secara internal ekonomi Indonesia dalam posisi kuat. 

"Secara eksternal, yang namanya geopolitik, global ekonomi bisa saja berdampak," ujarnya.

Bulan lalu, Sri Lanka menjadi negara pertama di kawasan Asia Pasifik dalam 20 tahun yang gagal membayar utang luar negerinya.

Para pejabat Sri Lanka telah bernegosiasi dengan IMF untuk paket bailout USD 3 miliar. Namun pembicaraan tersebut saat ini terhenti di tengah masalah politik.

BACA JUGA:Titik Terang Masa Depan Ronaldo Diungkap Sang Anak, Ternyata Kesini

Berkaca dari kejadian ini, Dana Moneter Internasional (IMF) mengatakan bahwa krisis ekonomi di Sri Lanka merupakan peringatan bagi ekonomi di negara-negara Asia lainnya.

"Negara-negara dengan tingkat utang yang tinggi dan ruang kebijakan yang terbatas akan menghadapi tekanan tambahan. Tidak terabaikan lagi Sri Lanka menjadi tanda peringatan," kata Direktur Pelaksana IMF Kristalina Georgieva, dikutip dari BBC.

Sumber: