Khusnul Nusakambangan

Khusnul Nusakambangan

Chusnul Chotimah berdialog dengan Dahlan Iskan di acara Dialog Kebangsaan di Surabaya. -Harian Disway-

MUNGKIN baru Khusnul Chotimah korban parah bom teror menemui para terorisnya: Amrozi, Muklas, Ali Imron. Khusnul berangkat ke Nusakambangan. Ke Lamongan. Ke Jakarta. 

Dari Sidoarjo Khusnul ke Cilacap. Naik sepeda motor. Bonek asli. Itu November 2008. Enam tahun setelah bom Bali. Lalu menyeberang laut ke pulau penjara itu.

"Ongkos penyeberangan, waktu itu, baru Rp 10.000," ujar Khusnul.

Secara fisik, Khusnul sudah kuat. Luka bakar 60 persen akibat bom Bali sudah tinggal bekasnya. 

Lebih kuat lagi tekadnyi untuk ''balas dendam'' kepada para teroris. Operasi berkali-kali atas wajah, badan, dan kakinyi relatif berhasil. Skar bekas operasi itu kian samar. Tapi sumber penghidupannyi yang masih belum jelas.

BACA JUGA:Khusnul Bomiyah

Saat ke Nusakambangan itu mereka berbekal uang Rp 150.000: untuk bensin, makan, dan penyeberangan. Kalau malam mereka tidur di masjid.

Khusnul sempat kecewa. Tiba di penjara Nusakambangan Khusnul ditolak petugas. Napi hukuman mati tidak boleh ditemui siapa pun. Khusnul lantas menceritakan susah payahnyi perjalanan naik sepeda motor ke Nusakambangan. Dia juga menceritakan maksudnyi untuk hanya bisa melihat Muklas dan Amrozi.

Akhirnya diizinkan. Sendirian. Suami Khusnul diminta menunggu di luar. Muklas pun didatangkan ke ruang kunjungan. Dipisahkan dengan jeruji baja. Saat itulah Khusnul menumpahkan kejengkelannyi. Juga menceritakan penderitaannyi. Termasuk kesulitan ekonominyi.

Ternyata reaksi Muklas di luar dugaan Khusnul. "Ia justru menyalah-nyalahkan saya," ujar Khusnul.

"Apa yang ia ucapkan," tanya saya.

"Saya justru disalahkan kenapa malam itu berada di tempat orang kafir," ujar Khusnul. "Muklas juga memaki-maki saya mengapa saya tidak pakai jilbab. Justru saya disuruh bertaubat," tambahnyi.

"Bagaimana dengan sikap Amrozi?" tanya saya.

"Sama saja. Biar pun sejak TK, SD, SMP, sampai SMA saya ini di sekolah Muhammadiyah, tetap saja saya dikafirkan," kata Khusnul.

Khusnul pun menceritakan pertemuan dengan teroris itu kepada suami. Sang suami emosi. Ia mengajak Khusnul ke Lamongan. Ia berniat membunuh siapa pun keluarga Amrozi yang bisa ditemui di Paciran, Lamongan.

Maka di lain kesempatan sang suami mengajak Khusnul berangkat ke Lamongan. Khusnul setuju. Khusnul mendukung yang direncanakan suami: membunuh siapa pun keluarga Amrozi. "Biar merasakan penderitaan itu seperti apa," ujarnya.

"Akan dibunuh dengan cara apa?" tanya saya.

"Dengan bensin. Kami akan membeli bensin. Disiramkan ke rumah salah satu keluarga. Kami bakar," jawab Khusnul. 

Mereka pun naik sepeda motor ke Lamongan. Tiba di Gresik mereka berhenti makan. Saat itulah Khusnul merasakan ada panggilan nurani: kalau suaminyi membunuh pasti keduanya akan masuk penjara. "Saya berpikir kasihan anak-anak saya. Siapa yang memelihara," ujar Khusnul. Apalagi dia tahu sang suami sangat sayang pada putra keduanya.

Suara hati itu dia sampaikan ke suami. Sang suami bisa menerima. Terutama setelah ingat anak nomor dua mereka.

Waktu itu sang anak kedua sudah kuliah di Untag Surabaya. Ambil jurusan sastra Inggris. Tapi harus berhenti kuliah. Tidak ada biaya untuk melanjutkan. Drop out.

Anak itu mencoba mencari pekerjaan. Melamar ke mana-mana. Tidak ada panggilan wawancara.

Suatu hari sang anak minta kepada ibunya: tolong kenalkan dengan jaringan teroris. "Untuk apa?" tanya sang ibu. "Saya mau ikut mereka. Jadi teroris lebih enak," ujar sang anak.

Rupanya sang anak mendengar teroris itu, kalau ditangkap, mendapat santunan yang baik. Asal mau bertobat. 

Sang ibu tentu miris mendengar permintaan sang anak. Dia sendiri  korban teroris. Dan anaknyi ingin jadi teroris. 

Lebih menderita lagi sang ayah. Belum lama ia mau membunuh keluarga teroris. Kini anak kesayangannya justru ingin jadi teroris. 

Khusnul mendengar ada teroris yang insyaf. Karena itu ia tidak dihukum mati. Ali Imron. Ia dihukum seumur hidup. 

Khusnul bertekad menemui Ali Imron. Ia lagi ditahan di Polda Metro Jaya, Jakarta. Khusnul ingin anaknya bertemu Ali Imron. Agar diberi nasihat. Agar jangan jadi teroris.

Maka suami-istri ini ke Surabaya dulu. Sang anak diajak. Mereka ke Pasar Keputran. Dari pasar itu selalu ada truk ke Jakarta. Membawa sayur dan bahan makanan.

Khusnul, suami dan anak kedua pun cari nunutan truk ke Jakarta. Sambil jaga barang. Khusnul masih tetap tomboi. Kini dia sudah punya anak ketiga. Masih bayi. Itulah anak yang lahir setelah jadi korban bom Bali. Juga laki-laki.

Kepada Ali Imron, Khusnul bercerita banyak tentang penderitaannyi, nasib anaknyi, dan segala macam kesulitan setelah bom Bali. Ali mau memberi nasihat yang diinginkan. Mereka pun pamitan.

Saat pamit itulah Ali Imron memberi sangu Khusnul. Khusnul kaget. Nilainya Rp 1,5 juta. 

"Kok Ali Imron banyak uang ya?" tanya saya. 

"Saya juga heran, di penjara kok punya banyak uang," ujar Khusnul.

Mereka pun pulang ke Surabaya. Tidak naik truk lagi. Mereka punya uang untuk naik kereta.

Uang habis. Juga tidak cukup untuk membayar uang kuliah Sang anak. Pekerjaan juga tidak kunjung didapat. Sang anak sudah hampir dua tahun tidak bisa kuliah. Sang ayah belum menemukan sumber penghasilan yang bisa untuk menyekolahkan anaknya. 

Suatu sore rumah kontrakan Khusnul di Sidoarjo digerebek polisi. Sang suami tidak di rumah. Khusnul tidak tahu ke mana suami pergi. Yang jelas, tadi masih salat  Jumat. Pulang dari masjid ia pamit pergi.

Rumah Khusnul digeledah. Di lemari ditemukan uang Rp 15 juta. "Uang apa ini?" tanya polisi seperti ditirukan Khusnul pada saya. "Itu uang suami. Baru kemarin didapat. Itu untuk bayar uang kuliah anak kedua kami," jawab Khusnul.

Penggeledahan diteruskan ke bagian bawah lemari. Ditemukanlah serbuk putih. Beberapa kilogram. Polisi menyitanya.

Bagaimana dengan uang Rp 15 juta itu?

“Kalau uang itu disita, anak saya tidak bisa kuliah," ujar Khusnul pada polisi. Uang itu pun dikembalikan ke Khusnul. Pesan polisi: agar dipakai bayar kuliah anaknyi.

Khusnul tahu suaminyi tersangkut perkara narkoba. Sang suami sudah bercerita dua hari sebelumnya. Yakni ketika mendapat uang Rp 15 juta itu. Itulah untuk pertama kalinya sang suami pulang membawa uang banyak. Harapannya: anak kesayangannya bisa kuliah lagi.

Malam harinya Pak RT datang ke rumah Khusnul. Pak RT memberitahukan berita duka: Sang suami tewas ditembak polisi. (Dahlan Iskan)

Komentar Pilihan Dahlan Iskan pada Tulisan Berjudul: Khusnul Bomiyah

Mirza Mirwan

Beberapa tahun setelah tragedi Bom Bali 1 sineas Nia Dinata mengangkat tragedi itu ke layar lebar dengan judul "Long Road to Heaven". Nia bersama Constantin Papadimitriou menjadi produser film yang penggarapannya dipercayakan kepada Enison Sinaro sebagai sutradara. Film tersebut dibintangi antara lain Surya Saputra (sebagai Hambali), Sudibyo JS (Amrozi), Hestu Wreda (Ali Imron), dan Endris Sukmana (Mukhlas). Ada juga Alex Komang dan Joshua Pandelaki yang memerankan tokoh yang tak masuk pemberitaan. Komang memerankan Wayan Diya, sedang Joshua memerankan Haji Ismail. Bintang lainnya adalah orang bule, antara lain Mirrah Faulkes dan John O'Hare. Bahasa yang digunakan dalam film itu juga Indonesia dan Inggris. Durasi film itu hampir 2 jam. Dialog Hambali, Amrozi, dkk, mungkin berdasarkan pengakuan dalam sidang pengadilan. Selebihnya berdasarkan kesaksian tokoh nyata seperti dialog antara Hannah Catrele (diperankan Mirrah Faulkes) dengan Haji Ismail (diperankan Joshua Pandelaki). "Kenapa sih orang Islam suka membantai orang-orang non-muslim?" begitu kurang lebih tanya Catrele kepada Haji Ismail. "Jangan digeneralisir, Nona. Apa yang mereka, para teroris, lakukan itu tak dibenarkan menurut ajaran Islam dan Quran." Sayangnya, seingat saya, film itu kurang laku di Indonesia. Mungkin penonton tidak tahu bahwa itu film tentang Bom Bali. Sebaliknya cukup laku di luar negeri, terutama di Australia. Maklum, dari 200-an korban tewas, 88 orang dari Australia.

Leong putu

Semut :" Cak, manusia itu kejam banget ya Cak ? Dikit² main bunuh aja ". Cicak :" iya Mut, padahal aku udah berusaha membantu mereka. Dengan mengurangi jumlah Nyamuk". Semut :" kawan kawanku mereka semprot, gara gara berebut gula yang jatuh di lantai...hiks hiks hiks". Cicak :" nyamuk makanan ku juga di semprot, membuat aku g ada makanan...". Semut :"..............." ( semut tidak terdengar lagi suaranya untuk selama )

bramantio sukardi

jadi offset-nya kebangetan kalo LDNU menghubungan wahabi dengan terorisme, lha wong iku demo aja gak boleh, haram kok sampe meledakkan bom. kalau mau deradikalisasi sebernya simpel, tangkapin semua simpatisan imam samudara,, gak banyak kok, bredel web arrahmah.com dan simpatisan yag sealiran

bramantio sukardi

LDNU dan mungkin abah gak tau atau pura-pura gak tahu. bahwa yang diundang BNPT buat men-DEradikalisasi para napi teroris, bom bali itu syeikh ali hasan al halaby, gurunya guru para wahabi nusantara. mengapa yang diundang ulama wahabi bukan kyai NU, tanya kenapa. 

Juve Zhang

Daripada Amrozi.ImamSamodra dkk. Saya lebih "respek" sama mereka yg pergi ke Suriah gabung ISIS. Langsung terjun ke medan pertempuran. Dari pada berbuat onar di dalam negeri. Yg mereka lawan jelas sama sama pegang senjata .seimbang. lah di sini orang yg gak tahu apa apa pada mati.cacat seumur hidup.dsbnya. jadi kalau ada yg mau tempur ke LN seyogyanya pemerintah mengijinkan .bila perlu kasih uang "dinas" . PDL. Perjalanan Dinas Luar negeri.wkwkwkkw

Liam Then

Premis yang saya pakai Tuhan Maha Adil. Ke-Maha-an Tuhan atas keadilan, berlaku rata kesemua mahluk hidup. Bukan hanya orang yang menyembahNya. Segala kejadian dan perbuatan semua mahluk di dalam dan diatas muka bumi. Sudah sesuai dengan hukum natural yang di gariskan oleh Tuhan. Manusia di beri keistimewaan, berupa akal dan kesadaran. Karena itu manusia bisa berhasil mendominasi di muka bumi ini. Tapi tunggu dulu, benar kah, manusia mendominasi di bumi ini? Apakah ini cuma pengertian, akal nya manusia yang terbatas. Belum tentu benar bukan? Tapi manusia percaya. Ia yang utama. #makin bingung kan ? Wkwkwkk

hoki wjy

saya sering membaca kalimat Tuhan memang tdk akan memberi cobaan diluar kemampuan seseorang utuk menanggungnya. yg saya tdk mengerti umpama ada seseorang bernama Jarot ketika mulai berbisnis dg uang pinjaman namun dalam perjalanannya dia ditipu dan bangkrrut tdk kuat menanggung beban tsb maka Jarotpun bunuh diri dan mati, bukan kah semestinya Tuhan sudah mengetahui bahwa pak Jarot ini kalau dikasih cobaan usahanya bangkrut dia pasti bunuh diri lalu mengapa Tuhan masih memberinya cobaan seperti itu? atau umpama seorang wanita bernama Resti dia berpacaran dg seorang pria yg sangat di cintainya namun setelah menghamilinya sang priapun kabur entah kemana merasa malu karena sudah hamil diluar nikah maka Resti pun memilih minum racun serangga dan tewas pertanyaannya bukankah Tuhan sudah mengetahui kalau si Resti dikasih cobaan hamil diluar nikah dia akan minum racun serangga lalu mengapa Tuhan masih memberinya cobaan yg demikian? bukankah katanya Tuhan tdk akan memberi cobaan diluar kemampuan seseorang untuk menanggungnya?

Leong putu

Pagi pagi sikat gigi / Gigi bersih nafas wangi / Sodara sodari selamat pagi / Sehat jasmasi juga rohani / #mekso

munawir syadzali

Lapor Juragan Disway, dr kemarin mau nderek komen loginya gag pernah berhasil. Pdhl pas lagi beol ada ide2 cemerlang utk menyemarakkan komen pilihan. Cuma mau usul, tolong orang2 seperti Pak Mirza diberi panggung utk menulis catatan harian di Disway. Sepertinya ilmunya gak kalah sama juragan Disway. Dr perpolitikan sampe dunia pengeboran minyak kok tau ya. Sangking penasarannya, Sy cari profile Pak Mirza di google kok ketemu ya. Wah, misterius jg ternyata Pak Mirza ini. Ngoten mawon. Suwun

Rihlatul Ulfa

Kita akan kehilangan banyak 'ikan besar' jika kasus pembunuhan brigadir J gagal diungkap diawal. melihat drama persidangan kemarin, sampai hakim dan jaksa geram dengan keterangan art Susi. memang dari potongan detail kamera yg mengarah ke wajah Susi saat bersaksi ekspresi Susi seperti 'menganga' seperti sedang mendengarkan intruksi saat otaknya mencoba memperosesnya saat itu. maka saat jaksa mengatakan apakah Susi memakai 'handsfree' juga pertanyaan dasar yang ternyata tidak bisa dijawab lugas dengan Susi. maka hakim dan jaksa menilai, Susi memang harus dipisahkan dengan saksi-saksi lain, agar dikonfrontasi keterangannya dengan saksi-saksi lain. keputusan disidang kemarin para saksi bersaksi sendiri-sendiri lebih baik, karena memutus komunikasi mereka jika 'bersekongkol dalam keterangan' dan Susi bisa saja menjadi saksi yg menguntungkan nantinya 'jika benar kesaksian ia dipersidangan bohong' melihat kubu Sambo benar-benar seperti ingin membuat mereka tidak bersalah begitu kuat. untungnya sisi psikologis dipersidangan, hakim dan jaksa yg berbicara dengan lugas dan to the point membuat saksi bisa saja 'buyar' dalam mekanisme yg sebelumnya mereka coba susun.

Sama Konomaharu

Waktunya memotong, dan mencabik-cabik anggaran kepolisian sampai 30% untuk memberantas narco boy, dan terorisme. Adapun anggaran harus di serahkan ke ustad dan kyiai baik dari NU maupun Muhammadiyah. Di mana kedua ormas ini terbukti mampu membersihkan gejolak kekocakan antara sayap kanan, dan sayap kiri.

Johan

Jadi ingat, teman saya orang Bali yang begitu emosional ketika menonton berita penyambutan jenazah para bomber setelah di eksekusi. Jenazah disambut bak pahlawan. Saat itu pas lagi makan siang. Piring dan gelas dibantingnya sampai hancur berantakan. Kami yang duduk bersamanya hanya bisa diam. Tidak ada satu katapun yang bisa kami ucapkan. Perasaan malu, miris, geram bercampur aduk jadi satu.

 

 

 

 

Sumber:

Komentar: 186

  • Adhyka Setyadi
    Adhyka Setyadi
  • Rezeki Berkah
    Rezeki Berkah
  • Leong putu
    Leong putu
    • mzarifin umarzain
      mzarifin umarzain
    • mzarifin umarzain
      mzarifin umarzain
    • mzarifin umarzain
      mzarifin umarzain
  • Mirza Mirwan
    Mirza Mirwan
    • mzarifin umarzain
      mzarifin umarzain
    • Legeg Sunda
      Legeg Sunda
    • Legeg Sunda
      Legeg Sunda
    • Sama Konomaharu
      Sama Konomaharu
    • Leong putu
      Leong putu
  • bitrik sulaiman
    bitrik sulaiman
  • yea aina
    yea aina
  • Leong putu
    Leong putu
  • Ahmad Zuhri
    Ahmad Zuhri
  • Pryadi Satriana
    Pryadi Satriana
    • Wong Tjoekir
      Wong Tjoekir
    • mzarifin umarzain
      mzarifin umarzain
    • Pryadi Satriana
      Pryadi Satriana
    • Mahmud Al Mustasyar
      Mahmud Al Mustasyar
    • Sama Konomaharu
      Sama Konomaharu
    • Sama Konomaharu
      Sama Konomaharu
    • Er Gham
      Er Gham
    • Komentator Spesialis
      Komentator Spesialis
    • yea aina
      yea aina
  • Komentator Spesialis
    Komentator Spesialis
  • Komentator Spesialis
    Komentator Spesialis
  • yohanes hansi
    yohanes hansi
  • Komentator Spesialis
    Komentator Spesialis
  • Prakarsa dj
    Prakarsa dj
  • Johan
    Johan
    • yea aina
      yea aina
    • yohanes hansi
      yohanes hansi
  • Jimmy Marta
    Jimmy Marta
  • Fenny Wiyono
    Fenny Wiyono
  • Fenny Wiyono
    Fenny Wiyono
  • Giyanto Cecep
    Giyanto Cecep
    • AnalisAsalAsalan
      AnalisAsalAsalan
    • Pryadi Satriana
      Pryadi Satriana
    • AnalisAsalAsalan
      AnalisAsalAsalan
    • Pryadi Satriana
      Pryadi Satriana
    • AnalisAsalAsalan
      AnalisAsalAsalan
    • Pryadi Satriana
      Pryadi Satriana
  • Chei Samen
    Chei Samen
  • Amat Kasela
    Amat Kasela
  • Dodik Wiratmojo
    Dodik Wiratmojo
  • Jimmy Marta
    Jimmy Marta
    • yea aina
      yea aina
    • Chei Samen
      Chei Samen
  • Leong putu
    Leong putu
    • Amat Kasela
      Amat Kasela
    • Chei Samen
      Chei Samen
    • mzarifin umarzain
      mzarifin umarzain
    • yea aina
      yea aina
    • Leong putu
      Leong putu
    • Amat Kasela
      Amat Kasela
  • Leong putu
    Leong putu
  • alasroban
    alasroban
  • Legeg Sunda
    Legeg Sunda
  • Rihlatul Ulfa
    Rihlatul Ulfa
  • Rihlatul Ulfa
    Rihlatul Ulfa
  • Impostor Among Us
    Impostor Among Us
  • Dismas Raka
    Dismas Raka
    • Dismas Raka
      Dismas Raka
    • Dismas Raka
      Dismas Raka
    • Dismas Raka
      Dismas Raka
    • Sama Konomaharu
      Sama Konomaharu
  • Movie Malang
    Movie Malang
    • mzarifin umarzain
      mzarifin umarzain
  • Sama Konomaharu
    Sama Konomaharu
    • Sama Konomaharu
      Sama Konomaharu
    • Jimmy Marta
      Jimmy Marta
  • Hendro Purba
    Hendro Purba
  • Pryadi Satriana
    Pryadi Satriana
    • mzarifin umarzain
      mzarifin umarzain
    • Mahmud Al Mustasyar
      Mahmud Al Mustasyar
    • bramantio sukardi
      bramantio sukardi
    • Budi Utomo
      Budi Utomo
    • suhartono suhartono
      suhartono suhartono
    • Mahmud Al Mustasyar
      Mahmud Al Mustasyar
    • mzarifin umarzain
      mzarifin umarzain
    • Budi Utomo
      Budi Utomo
    • Budi Utomo
      Budi Utomo
    • Mahmud Al Mustasyar
      Mahmud Al Mustasyar
    • Mahmud Al Mustasyar
      Mahmud Al Mustasyar
    • Er Gham
      Er Gham
    • Pryadi Satriana
      Pryadi Satriana
    • mzarifin umarzain
      mzarifin umarzain
  • Yuli Triyono
    Yuli Triyono
    • Gianto Kwee
      Gianto Kwee
  • Wong Nganggur
    Wong Nganggur
    • bramantio sukardi
      bramantio sukardi
    • mzarifin umarzain
      mzarifin umarzain
  • Zulfikhar Zulmi
    Zulfikhar Zulmi
  • Herman Gunawan
    Herman Gunawan
  • Saifudin Rohmaqèŕqqqààt
    Saifudin Rohmaqèŕqqqààt
  • Leong putu
    Leong putu
    • Leong putu
      Leong putu
  • Fauzan Samsuri
    Fauzan Samsuri
  • Fauzan Samsuri
    Fauzan Samsuri
  • Gianto Kwee
    Gianto Kwee
    • Juve Zhang
      Juve Zhang
  • Rahma Huda Putranto
    Rahma Huda Putranto
    • mzarifin umarzain
      mzarifin umarzain
  • Eko Darwiyanto
    Eko Darwiyanto
  • Saifudin Rohmaqèŕqqqààt
    Saifudin Rohmaqèŕqqqààt
    • Zulfikhar Zulmi
      Zulfikhar Zulmi
  • DeniK
    DeniK
  • Fauzan Samsuri
    Fauzan Samsuri
  • Arala Ziko
    Arala Ziko
  • Sama Konomaharu
    Sama Konomaharu
    • Sama Konomaharu
      Sama Konomaharu
  • Fantra Salahuddin
    Fantra Salahuddin
    • Rihlatul Ulfa
      Rihlatul Ulfa
  • Bambang Nursusanto
    Bambang Nursusanto
  • Ibnu Shonnan
    Ibnu Shonnan
  • Wahyudi Kando
    Wahyudi Kando
  • Mirza Mirwan
    Mirza Mirwan
  • Zakaria Chen fu
    Zakaria Chen fu
  • Chei Samen
    Chei Samen
  • Pryadi Satriana
    Pryadi Satriana
    • Budi Utomo
      Budi Utomo
    • bramantio sukardi
      bramantio sukardi
    • mzarifin umarzain
      mzarifin umarzain
    • Budi Utomo
      Budi Utomo
    • EVMF
      EVMF
    • Pryadi Satriana
      Pryadi Satriana
    • Pryadi Satriana
      Pryadi Satriana
    • EVMF
      EVMF
    • Chei Samen
      Chei Samen
  • Mirza Mirwan
    Mirza Mirwan
    • Budi Utomo
      Budi Utomo
  • yea aina
    yea aina
  • Cahyo Nugroho
    Cahyo Nugroho
  • A fa
    A fa
  • Jo Neka
    Jo Neka
    • Pakdhe joyo Kertomas
      Pakdhe joyo Kertomas
  • bitrik sulaiman
    bitrik sulaiman
    • Chei Samen
      Chei Samen
    • Chei Samen
      Chei Samen
  • Sama Konomaharu
    Sama Konomaharu
    • Sama Konomaharu
      Sama Konomaharu
    • yea aina
      yea aina
  • HANVINCY ADNOV
    HANVINCY ADNOV
  • rid kc
    rid kc
  • anak rantau
    anak rantau
  • Amat Kasela
    Amat Kasela
  • Amat Kasela
    Amat Kasela
  • Leong putu
    Leong putu
    • Leong putu
      Leong putu
    • Otong Sutisna
      Otong Sutisna
    • Leong putu
      Leong putu
    • Otong Sutisna
      Otong Sutisna
    • Leong putu
      Leong putu
    • mzarifin umarzain
      mzarifin umarzain
    • Amat Kasela
      Amat Kasela
    • mzarifin umarzain
      mzarifin umarzain
    • Leong putu
      Leong putu
    • Jo Neka
      Jo Neka
    • Otong Sutisna
      Otong Sutisna
    • Amat Kasela
      Amat Kasela
  • Leong putu
    Leong putu
  • Amat Kasela
    Amat Kasela
  • Leong putu
    Leong putu
  • mzarifin umarzain
    mzarifin umarzain
    • mzarifin umarzain
      mzarifin umarzain
    • mzarifin umarzain
      mzarifin umarzain
  • ra tepak pol
    ra tepak pol
    • Azza Lutfi
      Azza Lutfi
  • Otong Sutisna
    Otong Sutisna
    • Otong Sutisna
      Otong Sutisna
  • Amat Kasela
    Amat Kasela
    • Leong putu
      Leong putu
    • Amat Kasela
      Amat Kasela
  • Otong Sutisna
    Otong Sutisna
    • Otong Sutisna
      Otong Sutisna
    • Leong putu
      Leong putu
    • Amat Kasela
      Amat Kasela
    • Otong Sutisna
      Otong Sutisna