Perokok Pasif Juga Bisa Kena Kanker Paru, Screening Sebelum Timbul Gejala Sesak dan Batuk
Kanker Paru bisa dicegah dengan deteksi dini--Istimewa
Menurut dr. Sita, kelompok yang masuk kategori berisiko tinggi dan perlu melakukan screening antara lain usia di atas 45 tahun dengan riwayat merokok aktif atau pasif.
Pernah bekerja di lingkungan dengan paparan bahan kimia. Punya riwayat fibrosis paru atau tuberculosis. Usia di atas 40 tahun dan memiliki riwayat keluarga dengan kanker
BACA JUGA:Jadwal Bioskop Trans TV Hari Ini 19 Mei 2025 Lengkap Sinopsis, Nonton Film Laga Gratis!
"Walaupun kanker paru bukan penyakit keturunan, tapi kerentanan atau risiko (vulnerability) bisa lebih tinggi jika ada anggota keluarga yang pernah mengidap kanker," ujarnya.
Prosedur screening kanker paru dilakukan dengan pemeriksaan Low Dose CT Scan thorax tanpa kontras.
Pemeriksaan ini aman karena menggunakan radiasi dosis rendah dan bisa dilakukan di rumah sakit tipe C ke atas.
Dari hasil CT Scan ini, dokter bisa melihat adanya nodul atau tanda awal kanker paru. Bahkan bisa juga mendeteksi penyakit paru lainnya sebelum muncul gejala.
Selain itu, tersedia juga kuesioner NARU, yakni alat skrining untuk menilai apakah seseorang tergolong rendah, sedang, atau tinggi risikonya terkena kanker paru. Jika hasilnya sedang atau tinggi, dokter akan merekomendasikan pemeriksaan lanjutan berupa CT scan thorax.
Jika kanker paru terdeteksi sejak awal, pengobatan bisa dilakukan melalui operasi dan pasien berpeluang sembuh total.
Namun jika sudah masuk stadium lanjut, pengobatan tergantung pada jenis kanker dan hasil pemeriksaan molekuler seperti mutasi EGFR, ALK, dan PD-L1.
BACA JUGA:Bikin Resah! Maling Motor di Bekasi Lancarkan Aksinya di Siang Hari
Pengobatannya bisa berupa tablet (targeted therapy), kemoterapi, imunoterapi, atau kombinasi semuanya.
"Seluruh jenis pengobatan kanker paru saat ini sudah tersedia di Indonesia," tegas dr. Sita.
Lebih lanjut, Dokter Spesialis Patologi Anatomi MRCCC Siloam Hospitals Semanggi, dr. Fajar Lamhot Gultom, SpPA, menjelaskan, jenis yang paling umum, yaitu Non-Small Cell Lung Cancer (NSCLC), kini memerlukan pendekatan yang lebih presisi dalam diagnosis dan pengobatannya.
Di era kedokteran molekuler, pemeriksaan biomarker menjadi penentu utama keberhasilan terapi.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel
Sumber: