Ekonomi Global di Ambang Kehancuran, Inflasi Meledak Imbas Konflik Timur Tengah
Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali memuncak berdampak pada perekonomian.--Istimewa
"Dampak tekanan pada rantai pasok akan bertambah buruk. Serangan Houthi di Laut Merah tahun 2023, misalnya, memaksa kapal dagang menghindari rute utama dan memutar lewat Tanjung Harapan. Akibatnya, indeks biaya angkut kontainer sempat melonjak hingga 260 persen dalam waktu singkat,” papar Achmad kepada Disway.
Ia menambahkan, jika skenario perang skala luas benar-benar terjadi, maka pengiriman logistik akan terganggu parah.
Penutupan jalur energi utama dunia akan mengerek biaya distribusi dan memperpanjang siklus produksi di berbagai negara.
“Konsumen di hampir semua negara akan terpaksa mengurangi belanja. Perusahaan-perusahaan pun menunda investasi, dan kepercayaan pelaku usaha bisa jatuh drastis. Banyak proyek infrastruktur dan ekonomi berskala besar kemungkinan besar akan dibatalkan,” lanjutnya.
Dampak jangka pendek ini juga bisa menjadi pemicu resesi global.
Menurut simulasi ekonomi NiGEM, kenaikan 10 persen biaya angkut laut akan berkontribusi pada lonjakan inflasi konsumen sebesar 0,5 poin persentase.
Namun yang lebih mengkhawatirkan adalah efek jangka panjangnya.
Sejumlah studi memperkirakan bahwa perang global akan mendorong negara-negara meningkatkan anggaran militer secara drastis, mengorbankan investasi pada infrastruktur dan produktivitas.
“Banyak pemerintah akan melewati batas defisit untuk membiayai perang. Jika ekonomi dunia yang sudah lesu dipaksa menanggung beban ini, maka resesi berkepanjangan bukan hanya kemungkinan, tapi hampir pasti terjadi,” imbuh Achmad.
Jika kondisi terus memburuk, bukan tak mungkin kita menghadapi krisis energi baru.
Apalagi jika negara-negara OPEC kembali memangkas produksi seperti pada krisis minyak tahun 1973, yang menyebabkan lonjakan inflasi global dan resesi tajam.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel
Sumber: