Pabrik Baterai EV Dibangun, Siapa Diuntungkan?

Pabrik Baterai EV Dibangun, Siapa Diuntungkan?

Ilustrasi industri baterai EV untuk memenuhi elektrifikasi transportasi di tanah air. -dhimas fin-

 

1. Potensi Pencemaran Tinggi dari Bahan Mentah

Dampak lingkungan pabrik baterai sangat bergantung pada tahapan produksi. Jika pabrik hanya melakukan perakitan akhir baterai cell, BMS (Battery Management System), dan battery pack, dampaknya relatif minim. 

Namun, apabila pabrik memproduksi komponen baterai dari bahan mentah, potensi pencemaran bisa sangat besar.

"Yang jadi masalah besar itu dari mentah sampai komponen baterai. Dari limonite sampai jadi anoda nikel itu pencemaran tinggi," kata Dwi Sawung kepada Disway. 

Ia juga mempertanyakan jenis baterai litium dan asal bahan baku, apakah produksi katoda dan anoda juga dilakukan di Karawang, Jawa Barat, atau hanya perakitan.

 

2. Kekhawatiran Eksploitasi Nikel

Dwi Sawung khawatir peresmian pabrik baterai ini bisa menjadi pembenaran untuk eksploitasi nikel secara besar-besaran di Sulawesi. 

Indonesia memiliki cadangan nikel yang melimpah, dan permintaan untuk baterai EV global mendorong penambangan yang intensif. 

Penting bagi pemerintah untuk memastikan praktik penambangan nikel yang berkelanjutan dan bertanggung jawab.

Proyek pabrik baterai kendaraan listrik yang digadang-gadang sebagai tonggak transisi energi Indonesia itu, jangan sampai memunculkan kekhawatiran baru.

 

3. Isu Daur Ulang Baterai (Recycle)

Isu daur ulang baterai menjadi sangat penting untuk dipikirkan sejak awal. "Jangan lupa soal recycle baterainya. Dipikirkan juga dari sekarang. Jangan sampai jadi beban kemudian hari seperti industri aki bekas," papar Dwi Sawung. 

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel

Sumber:

Berita Terkait

Close Ads