Pabrik Baterai EV Dibangun, Siapa Diuntungkan?

Pabrik Baterai EV Dibangun, Siapa Diuntungkan?

Ilustrasi industri baterai EV untuk memenuhi elektrifikasi transportasi di tanah air. -dhimas fin-

Pembangunan peleburan recycle baterai di Halmahera, yang disebutkan Dwi Sawung, harus diawasi ketat agar tidak menimbulkan masalah lingkungan baru suatu hari. 

Solusi berkelanjutan untuk limbah baterai EV adalah kunci untuk memastikan revolusi hijau ini benar-benar ramah lingkungan.

Antam, selaku bagian yang terkait bahan baku pembuatan baterai EV, yakni Nikel, menyatakan komitmennya.

Nikel berasal dari PT SDA, anak usaha milik ANTAM dan CBL yang beroperasi di Halmahera Timur. 

Tidak sekadar memproduksi, ANTAM melalui pernyataan Corporate Secretary Division Head-nya, Syarif Faisal Alkadrie, menegaskan proyek pembangunan pabrik baterai ini juga mengusung visi jangka panjang melalui pembangunan fasilitas daur ulang baterai. 

Dengan kapasitas pengolahan mencapai 18.000 ton spent battery per tahun, fasilitas ini akan dibangun di kawasan industri Buli, Halmahera Timur, dan akan menjalankan pengujian baterai berstandar internasional. Demikian guna memastikan kualitas dan ketahanan produk yang dihasilkan.

Fasilitas daur ulang ini tidak sekadar pelengkap. Namun tulang punggung strategi ekonomi sirkular nasional. 

“Daur ulang menjadi solusi strategis untuk mengelola limbah baterai secara bertanggung jawab, sekaligus memungkinkan pemulihan logam-logam bernilai ekonomis,” jelas Syarif kepada Disway. 

“Untuk digunakan kembali dalam produksi baterai baru,” imbuhnya.

Keberadaan fasilitas ini vital untuk memastikan siklus hidup baterai tidak berhenti di produk akhir, melainkan terus berputar lewat pemulihan logam bernilai tinggi seperti nikel, kobalt, dan litium. 

Upaya ini mendukung visi besar pemerintah dalam menciptakan industri hijau yang mandiri dan efisien. 

Dengan menekan ketergantungan pada impor bahan baku dan mengurangi potensi limbah berbahaya, daur ulang menjadi solusi konkret yang menempatkan Indonesia di garis depan revolusi energi bersih, menjadikan negeri ini bukan hanya produsen, tetapi juga pelindung masa depan energi berkelanjutan.

“Dalam memastikan ketahanan pasokan bahan baku, mengurangi ketergantungan impor, dan menciptakan industri baterai yang berkelanjutan dari hulu hingga hilir,” paparnya.

 

Tantangan Adopsi Mobil Listrik

Harga Mahal: Masih menjadi penghalang utama bagi daya beli masyarakat di Indonesia.

Range Anxiety dan Ketersediaan Charging Station: Kekhawatiran konsumen tentang jarak tempuh dan sulitnya menemukan stasiun pengisian daya. Terutama di luar kota besar.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel

Sumber:

Berita Terkait

Close Ads