Pabrik Baterai EV Dibangun, Siapa Diuntungkan?

Pabrik Baterai EV Dibangun, Siapa Diuntungkan?

Ilustrasi industri baterai EV untuk memenuhi elektrifikasi transportasi di tanah air. -dhimas fin-

Infrastruktur After-Sales Service: Jangkauan layanan purnajual yang belum merata ke pelosok Indonesia menjadi kekhawatiran. Utamanya di kota-kota kecil.

Keseimbangan Pasar: Pasar BEV di Indonesia masih didominasi merek-merek tertentu (terutama China). Sehingga perlu upaya pemerintah untuk menyeimbangkan persaingan. Tujuannya semua merek bisa survive dan konsumen punya lebih banyak pilihan.

Konsistensi Regulasi: Industri baterai dan EV membutuhkan investasi sangat besar. Konsistensi regulasi pemerintah sangat penting agar pengusaha bisa merencanakan bisnis jangka panjang.

 

Optimisme Pemerintah & Strategi TKDN 100 Persen

Pemerintah Indonesia menunjukkan optimisme tinggi terhadap masa depan kendaraan listrik dan berupaya keras mencapai target TKDN 100 persen.

Kementerian Perdagangan (Kemendag) dan Kementerian Perindustrian (Kemenperin), secara penuh mendukung proyek ekosistem baterai EV ini. 

Kepala Biro Humas Kemendag, N. M. Kusuma Dewi, menyatakan Kemendag selalu mendukung industri berorientasi ekspor dan bernilai tambah. 

“Pemerintah optimis kehadiran pabrik baterai EV ini akan menyerap nilai tambah ekonomi hingga USD 48 miliar (setara Rp 481,55 triliun). Tentu ini menjadi pendorong pertumbuhan ekonomi nasional,” jelas Kusuma Dewi.

Kemenperin juga melihat kehadiran pabrik baterai di dalam negeri sebagai langkah strategis mendorong peningkatan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) ke angka 100 persen. 

Pembina Industri Ahli Muda Tim Kerja Kendaraan Listrik Berbasis Baterai (KLBB) Kemenperin, Patia Junjungan Maningdo, menyatakan penggunaan baterai dalam negeri akan menjadi faktor terbesar untuk mencapai target TKDN 100 persen. 

"Untuk mencapai TKDN 100 persen (sektor kendaraan listrik), paling besar itu persentase-nya ya dengan penggunaan baterai dalam negeri," kata Patia. 

Roadmap pemerintah menargetkan peningkatan TKDN dari 40 persen menjadi 60 persen pada tahun 2027.  Nah, keberadaan pabrik baterai ini akan sangat membantu pencapaian target tersebut.

 

Bahan Baku untuk Pabrik Mobil EV Tersedia 

Tambang nikel di Halmahera Timur PT SDA, anak usaha milik ANTAM dan CBL, patut diperhitungkan. Kapasitasnya, hingga 13,8 juta wet metrc ton (wmt) per tahun. 

“Posisi Indonesia sebagai produsen nikel terbesar di dunia menjadi nilai tambah yang signifikan, karena memberikan kepastian pasokan bahan baku sekaligus meningkatkan daya saing baterai dari sisi harga dan keberlanjutan rantai pasok,” ujar  Corporate Secretary Division Head PT ANTAM, Syarif Faisal Alkadrie.

Disebutkannya, sejumlah perusahaan otomotif global telah menyatakan minat menjadi offtaker baterai EV dari pabrik baterai di Karawang. Terutama, yang memiliki kemitraan strategis dengan CATL dan mitra ekosistemnya.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel

Sumber:

Berita Terkait

Close Ads