Cara China Basmi Virus Chikungunya, 300.000 Kasus Sejak Awal 2025, Momok Bagi Global!
Virus Chikungunya yang dipicu gigitan nyamuk ini menjadi isu global dalam masalah kesehatan. Setidak hampir 300.000 kasus ditemukan, tertinggi di Amerika Serikat.-Freepik-
Virus ini juga telah menyebar secata masif ke negara lain, termasuk Madagaskar, Somalia dan Kenya.
Bahkan tanda-tanda penularan tingkat epidemi di beberapa wilayah Asia Tenggara, serta Inda. Sejak Juli, Mumbai mengalami lonjakan kasus virus ini.
WHO telah menyuarakan keprihatinannya mengenai meningkatnya jumlah kasus Chikungunya "impor" di Eropa.
Sejak 1 Mei lalu sekitar 800 kasus penularan secara impor dilaporkan di daratan Prancis. ECDC menyebut, sebagian wilayah Amerika telah melaporkan jumlah tinggi kasus Chikungunya, tertinggi secara global.
Sampai pertengah Juli 2025, negara-negara dengan kasus terbanyak di kawasan ini antara lain Brasil (185.553), Bolivia (4.721), Argentina (2.836) dan Peru (55).
Di China sendiri, infeksi akibat virus ini, sedikitnya terjadi di 12 kota di Provinsi Guangdong selatan, selain Foshan.
Otoritas Tiongkok menegaskan meluasnya penyebaran wabah Chikungunya disebabkan kiriman yang memicu penularan secara lokal sepanjang Juli.
"Tetapi tidak ada rincian dari mana infeksi akibat virus ini berasal," tulis Al Jazeera.
Menurut para ahli kenaikan suhu global telah memicu cuaca yang lebih hangat dan lembab, yang memungkinkan nyamuk berkembang biak.
Secara terpisah pada Sabtu lalu, Hong Kong mengonfirmasi kasus Chikungunya yang pertama, dialami seorang anak laki-laki berusia 12 tahun yang mengalami gejala demam, ruam dan nyeri sendi sejak 31 Juli, setelah mengunjungi Foshan.
Ini adalah kasus pertama virus tersebut di wilayah itu dalam enam tahun terakhir.
Lantas Bagaimana Cara China dan Negara Lain Mengatasi Virus Chikungunya?
Menurut laporan Bloomberg, China telah berjanji akan mengambil tindakan cepat dan tegas untuk menahan penyebaran virus chikungunya.
Sebuah drone digunakan untuk menemukan tempat-tempat nyamuk berkembang biak.
Pada saat yang sama, para ilmuwan melepaskan "nyamuk gajah" berukuran besar, sekitar 2 cm, yang larvanya memakan nyamuk-nyamuk kecil yang menyebarkan virus ini.
Kini para ahli kesehatan berharap nyamuk-nyamuk penolong ini akan memainkan peran penting dalam menghentikan penyebaran wabah.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel
Sumber: