Berani! Greta Thunberg Pimpin Puluhan Armada Kapal Internasional Tembus Blokade Gaza

Berani! Greta Thunberg Pimpin Puluhan Armada Kapal Internasional Tembus Blokade Gaza

Aktivis iklim ternama Greta Thunberg tersorot saat Israel menyergap Global Sumud Flotilla--PBS News

JAKARTA, DISWAY.ID — Aktivis iklim ternama Greta Thunberg kembali jadi sorotan dunia, kali ini bukan karena aksi prolingkungannya, melainkan karena keberaniannya memimpin sebuah armada internasional yang berencana menembus blokade laut Israel terhadap Gaza.

Puluhan kapal dari lebih dari 40 negara dijadwalkan akan berlayar menuju Jalur Gaza pada 31 Agustus mendatang dalam sebuah misi yang disebut “Global Sumud Flotilla.”

Thunberg, dalam video yang diunggah ke Instagram pada hari Minggu, menyatakan bahwa mereka “akan berlayar lagi untuk memecah pengepungan.”

Dalam video tersebut, ia muncul bersama sejumlah tokoh lain, termasuk aktor Liam Cunningham dan Mandla Mandela, cucu dari ikon perjuangan anti-apartheid Nelson Mandela dilansir dari Jerussalem Post.

Organisasi di balik misi ini menuduh pihak militer Israel (IDF) dan Gaza Humanitarian Foundation telah menghambat pengiriman bantuan melalui jalur darat.

Karena itu, mereka menilai bahwa jalur laut menjadi satu-satunya cara untuk memastikan bantuan kemanusiaan bisa masuk ke wilayah yang terisolasi tersebut.

“Kami membawa bukan hanya bantuan, tapi juga pesan moral kepada dunia: pengepungan ini harus diakhiri,” tulis pernyataan resmi di situs Flotilla.

Meski begitu, pihak militer Israel menanggapi ancaman tersebut dengan serius. IDF menyatakan siap menghadapi berbagai skenario dan menegaskan kembali bahwa penutupan akses laut ke Gaza dilakukan demi alasan keamanan nasional.

BACA JUGA:Tragis, Israel Bunuh Anas al-Sharif dan 4 Jurnalis Al Jazeera di Gaza, Dunia Berkabung

Misi ini bukan yang pertama. Sebelumnya, Greta Thunberg sudah pernah mencoba menerobos blokade Gaza pada 9 Juni dengan kapal Madleen, namun dideportasi setelah diamankan oleh otoritas Israel.

Beberapa aktivis lainnya menolak dideportasi dan menjalani proses hukum.

Sementara itu, beberapa kapal dari Freedom Flotilla Coalition juga mengalami insiden pada bulan Mei dan Juli, termasuk dugaan sabotase drone dan penyergapan oleh angkatan laut Israel.

Insiden paling berdarah terjadi pada tahun 2010, ketika flotilla Mavi Marmara diserbu oleh pasukan elite Shayetet 13. Sepuluh aktivis tewas, dan sepuluh tentara Israel terluka dalam bentrokan sengit tersebut.

Peristiwa itu menjadi titik balik hubungan diplomatik Israel dengan banyak negara, terutama Turki.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel

Sumber:

Berita Terkait

Close Ads