Ukraina Gigit Jari, China Ketiban Pulung Pasca Pertemuan Trump dan Putin di Alaska

Ukraina Gigit Jari, China Ketiban Pulung Pasca Pertemuan Trump dan Putin di Alaska

Pasca pertemuan Trump dan Putin di Alaska membuat Ukraina gigit jari karena tidak adanya kesepakatan untuk mengakhiri invasi Rusia ke Ukraina.-dok disway-

Perang tersebut telah menewaskan atau melukai lebih dari satu juta orang dari kedua belah pihak, termasuk ribuan warga sipil yang sebagian besar warga Ukraina, menurut para analis.

Mengemparkan Karpet Merah

Zelenskiy telah menolak untuk menyerahkan wilayah kepada Moskow secara resmi dan juga mengupayakan jaminan keamanan yang didukung oleh Amerika Serikat. 

Trump mengatakan akan menghubungi Zelenskiy dan para pemimpin NATO untuk memberikan informasi terbaru mengenai perundingan Alaska.

Sementara kedua pemimpin tersebut berbincang, perang terus berkecamuk, dengan sebagian besar wilayah Ukraina timur berada di bawah peringatan serangan udara. 

Gubernur wilayah Rostov dan Bryansk di Rusia melaporkan bahwa beberapa wilayah mereka berada di bawah serangan pesawat tak berawak Ukraina.

BACA JUGA:Satgas Damai Cartenz Tangkap Anggota KKB Konara Enumbi di Puncak Jaya

BACA JUGA:Promo Indomaret 16-17 Agustus 2025 Spesial HUT RI Harga Minyak Goreng-Gula Pasir Mulai Rp16.000

Anggota parlemen oposisi Ukraina, Oleksiy Honcharenko, mengatakan melalui aplikasi perpesanan Telegram.

"Sepertinya Putin telah mengulur waktu. Tidak ada gencatan senjata atau de-eskalasi yang disepakati,” tulisnya.

Akhir yang antiklimaks dari pertemuan puncak yang diawasi ketat ini sangat kontras dengan kemegahan dan suasana meriah di awal pertemuan. 

Ketika Putin tiba di pangkalan Angkatan Udara di Alaska, karpet merah menantinya, di mana Trump menyambut Putin dengan hangat sementara pesawat militer Amerika terbang di atasnya.

Putin dicari oleh Mahkamah Pidana Internasional (ICC), dituduh melakukan kejahatan perang dengan mendeportasi ratusan anak dari Ukraina. 

Rusia membantah tuduhan tersebut, dan Kremlin telah menolak surat perintah ICC sebagai batal demi hukum karena Rusia dan Amerika Serikat bukan anggota ICC.

BACA JUGA:Jadi Tersangka Kasus Kredit Sritex, Iwan Kurniawan Lukminto Ngaku Tak Terlibat

BACA JUGA:Media Italia Yakin Jay Idzes Jadi Starter Utama di Sassuolo, Pelatih Venezia Curhat Kehilangan El Capitano

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel

Sumber:

Berita Terkait

Close Ads