Disawer Eropa, Ukraina Belanja Senjata Rp162 Triliun ke AS: Rusia Bombardir Wilayah Kremenchuk

Disawer Eropa, Ukraina Belanja Senjata Rp162 Triliun ke AS: Rusia Bombardir Wilayah Kremenchuk

Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskiy dan Presiden Amerika Serikat Donald Trump.-Tangkapan layar/Twitter/X-

BRUSSEL, DISWAY.ID -- Perang Ukraina dan Rusia belum usai. Kiev dilaporkan akan menambah amunisinya yang didatangkan dari Amerika Serikat (AS).

 

Melansir Reuters, Ukraina telah membuat perjanjian membeli senjata AS, yang akan diakan dibiayai oleh Uni Eropa.

 

Pembelian senjata itu diketahui bagian dari kesepakatan untuk mendapat jaminan keamanan dari AS, setelah upaya negosiasi damai dengan Rusia.

BACA JUGA:Napoli Tak Boleh Angkut Joshua Zirkzee, Manchester United Tawarkan Opsi B

BACA JUGA:Misteri Anak Lisa Mariana dan Ridwan Kamil Akan Terjawab, Tes DNA Segera Diungkap Besok

 

Tak tanggung-tanggung, Eropa akan mengucurkan anggaran sebesar USD100 miliar (Rp162 triliun) kepada Ukraina untuk belanja senjata.

 

Financial Times dalam laporan Senin, 18 Agustus 2025 kemarin mengabarkan, Ukraina dan AS telah mencapai kesepakatan senilai USD50 miliar (Rp80 triliun) untuk memproduksi pesawat tanpa awak.

 

Seperti diketahui, Presiden AS Donald Trump telah bertemu dengan Vladimir Putin di Alaska.

 

Pertemuan berlangsung dramatis, Putin disambut oleh pesawat tempur siluman B-20 yang sempat mengebom Teheran ketika perang dengan Israel pecah.

BACA JUGA:Juventus Tolak Al Ahli Pinang Manuel Locatelli, Si Nyonya Tua: Cari yang Lain Aja!

BACA JUGA:Sinergi BRI dengan UMKM Lokal, Batik Parang Kaliurang Jadi Unggulan

 

Dalam pertemuan itu Trump memprospek Putin dengan tujuan terciptanya gencatan senjata selamanya dengan Ukraina.

 

Negosiasi perdamaian itu belum ada jawaban pasti dari Putin yang terus menerus menggempur Kiev.

 

Serangan Baru Rusia

 

Tak lama pertemuan dengan Trump, Rusia justru kembali melancarkan agresinya.

 

Menurut Wali Kota Kremenchuk, Moskow menyerang kota pada Senin malam, 18 Agustus 2025 dengan pesawat tak berawak.

 

Kubu Ukraina menyebut serangan itu merupakan sebuah pesan tegas bahwa Putin, sejatinya, tidak menginginkan perdamaian.

BACA JUGA:Apa Bedanya Emoji & Sticker WhatsApp dengan Sticker di GB WhatsApp?

BACA JUGA:Resmi! Megawati 'Megatron' Lolos Tes Medis, Siap Tempur di Liga Voli Turki Manisa BBSK

 

Serangan terbaru Rusia terjadi sehari setelah Trump bertemu dengan para pemimpin Uni Eropa dan Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskiy di Washington.

 

Di pertemuan itu Trump memberi jaminan kepada Zelenskiy keamanan bagi Ukraina.

 

Setelah pertemuan itu, Trump mengatakan bahwa dia menelepon Putin untuk mengatur kemungkinan pertemuan antara Zelenskiy dan Putin.

 

Kabarnya pertemuan puncak trilateral antara ketiga Presiden itu diharapkan dapat mencapai kesepakatan dami.

 

"Tepat pada saat Putin meyakinkan Trump melalui telepon bahwa dia menginginkan perdamaian.

 

"Dan ketika Presiden Volodymyr Zelenskiy menggelar perundingan di Gedung Putih, dengan para pemimpin Eropa, mengenai upaya damai, pasukan Putin justru melancarkan serangan besar-besaran lainya terhadap Kremenchuk," kata Votalii Maletskyi dari Poltava melalui siaran Telegram.

 

"Sekali lagi dunia telah melihat bahwa Putin tidak menginginkan perdamaian, ia ingin kehancuran bagi Ukraina," tambahnya.

 

Reuters menyebut serangan Rusia semalam terhadap Ukraina merupakan yang terbesar sejauh ini, khususnya pada Agustus.

 

Rusia disebut meluncurkan lebih dari 270 pesawat tak berawak dan 10 rudal, berdasarkan angkatan udara Ukraina.

 

Maletsekiy mengklaim kerusakan terjadi di beberapa fasilitas kota seperti infrastruktur energi dan transportasi, menyebabkan ratusan orang di wilayah Poltava kini hidup tanpa listrik.

 

Tidak Ada Korban Jiwa

 

Sementara itu, pangkalan udara Ukraina mengonfirmasi pihaknya telah menjatuhkan 230 pesawat tanpa awak dan enam rudal.

 

Hanya saja, sebelum dilumpuhkan pesawat-pesawat itu telah melancarkan serangan di 16 lokasi.

 

Gubernur Poltava Volodymyr Kohut mengatakan bahwa serangan itu merusak gedung administrasi operasi infrastruktur energi lokal.

 

"Untungnya tidak ada korban jiwa," jelasnya di Telegram.

 

Hanya saja ia menambahkan, di distrik Lubny, hampir lebih dari 1.500 kepala rumah tangga dan 119 pelanggan komersial, terdampak akibat pemadaman listrik.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel

Sumber:

Berita Terkait

Close Ads