Ketegangan AS-Denmark Meningkat, Kontroversi Greenland hingga Pemanggilan Diplomat
Glacier Greenland--freepik
KOPENHAGEN, DISWAY.ID-- Hubungan antara Amerika Serikat (AS) dan Denmark, yang secara historis erat sebagai sekutu NATO, tengah menghadapi ketegangan signifikan akibat isu Greenland.
Pemerintah Denmark telah dua kali memanggil diplomat senior AS di Kopenhagen pada 2025, menyusul laporan tentang operasi pengaruh AS yang diduga bertujuan melemahkan hubungan Denmark-Greenland.
Sementara itu, pernyataan provokatif dari Presiden AS Donald Trump dan pejabat seniornya memperkeruh hubungan bilateral, meskipun kedua negara tetap terikat dalam kerja sama pertahanan dan perdagangan.
BACA JUGA:Turki Aktifkan Proyek Steel Dome, Sistem Pertahanan Udara Baru Penantang Iron Dome Israel
Kontroversi Greenland: Operasi Pengaruh AS
Pada 27 Agustus 2025, Menteri Luar Negeri Denmark Lars Løkke Rasmussen memanggil Chargé d’Affaires AS Mark Stroh setelah laporan dari penyiar nasional Denmark, DR, mengungkapkan bahwa tiga warga AS, yang diduga terkait dengan Trump, melakukan operasi pengaruh rahasia di Greenland.
Menurut DR, operasi ini mencakup penyusunan daftar warga Greenland yang pro-AS, mengidentifikasi pihak yang menentang Trump, dan menjalin kontak dengan politisi serta pelaku bisnis lokal untuk mempromosikan pemisahan Greenland dari Denmark.
Tujuannya diduga untuk mendukung ambisi Trump menguasai Greenland, pulau kaya mineral yang strategis di wilayah Arktik.
Ini merupakan pemanggilan kedua dalam beberapa bulan. Pada Mei 2025, Denmark memanggil Duta Besar AS menyusul laporan Wall Street Journal bahwa badan intelijen AS, di bawah arahan Direktur Intelijen Nasional Tulsi Gabbard, diperintahkan untuk mengumpulkan informasi tentang gerakan kemerdekaan Greenland dan sikap terhadap ekstraksi sumber daya AS.
Rasmussen menyebut tindakan ini “tidak dapat diterima” dan bertentangan dengan kerja sama antarnegara.
Pemerintah AS membantah mengendalikan operasi ini, dengan juru bicara Departemen Luar Negeri menyebut pertemuan Stroh dengan Rasmussen sebagai “percakapan produktif” yang menegaskan hubungan kuat dengan Denmark dan Greenland.
Seorang pejabat Gedung Putih, berbicara secara anonim, meminta Denmark untuk “tenang,” menyebut tuduhan tersebut berlebihan.
BACA JUGA:Misi Kemanusiaan ke Gaza Berlanjut, Hercules TNI AU Berangkatkan 1.200 Payung Udara
Ambisi AS atas Greenland
Ketegangan ini berakar pada pernyataan Trump yang berulang kali menyatakan keinginan AS untuk “menguasai” Greenland demi alasan keamanan nasional. Pada 20 Agustus 2019, Trump membatalkan kunjungan kenegaraan ke Denmark setelah Perdana Menteri Mette Frederiksen menolak tawarannya untuk membeli Greenland, dengan menyatakan bahwa pulau itu “tidak untuk dijual.”
Pada 2024, setelah terpilih kembali, Trump mengulang pernyataan di Truth Social: “Untuk tujuan Keamanan Nasional dan Kebebasan di seluruh Dunia, kepemilikan dan kendali atas Greenland adalah keharusan mutlak.”
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel
Sumber: