Peringatan Keras Pakar: Krisis Iklim Sudah Jadi 'Realitas Keuangan' Bisnis Global!

Peringatan Keras Pakar: Krisis Iklim Sudah Jadi 'Realitas Keuangan' Bisnis Global!

Chief Sustainability Officer DBS Bank, Helge Muenkel-ist-

JAKARTA, DISWAY.ID Perekonomian dunia berada di persimpangan jalan akibat krisis iklim yang semakin parah, ditandai dengan peningkatan suhu ekstrem, cuaca yang tidak terprediksi, dan erosi garis pantai.

Para pakar kini memperingatkan bahwa membangun pertumbuhan ekonomi yang tangguh tanpa merusak planet adalah sebuah keharusan.

Di tengah urgensi ini, konsep ekonomi hijau (green economy) dan ekonomi biru (blue economy) muncul sebagai fondasi baru yang harus diadopsi pemerintah dan investor di seluruh dunia.

BACA JUGA:Pembahasan Panja BPIH, Wamenhaj Pastikan Biaya Haji 2026 Turun

Chief Sustainability Officer DBS Bank, Helge Muenkel, menegaskan bahwa pembiayaan berkelanjutan kini melampaui sekadar pendanaan proyek hijau.

Ia harus mencakup dukungan terhadap sektor-sektor yang sedang berjuang melakukan transisi menuju praktik yang lebih ramah lingkungan dan sosial.

“Kita perlu segera bertindak menghadapi krisis alam, karena krisis iklim tidak akan terselesaikan tanpa mengatasi hilangnya keanekaragaman hayati. Dampak finansial dari krisis ini sudah terasa, mulai dari terganggunya rantai pasok hingga menurunnya hasil pertanian,” jelas Helge dalam pemaparan daring pada Senin (27/10/2025).

Menurut Helge, bagi sektor-sektor yang sangat bergantung pada sumber daya alam, seperti pangan, pertanian, dan pertambangan, krisis iklim telah menjadi "realitas keuangan saat ini," bukan lagi risiko yang akan datang.

"Karena itu, pembiayaan berkelanjutan bukan lagi sekadar tren, tetapi kebutuhan mendesak untuk menjaga ketahanan bisnis jangka panjang dan stabilitas ekonomi," tambahnya.

BACA JUGA:RI Borong Keuntungan Besar di AZEC! Airlangga: Pintu Dana Transisi Energi dan Pasar Karbon Raksasa Terbuka Lebar

Helge Muenkel menekankan perlunya perubahan mendasar dalam cara pandang terhadap kemajuan untuk menciptakan kesejahteraan jangka panjang bagi manusia dan alam.

Salah satu tren utama yang ia soroti adalah tumbuhnya keyakinan bahwa keberlanjutan bukan sekadar kewajiban moral, melainkan "pendorong utama keberhasilan bisnis jangka panjang".

Perusahaan yang mengintegrasikan pertimbangan iklim dan sosial (Environmental, Social, and Governance/ ESG) ke dalam strateginya tidak hanya dipandang baik, tetapi juga terbukti membangun organisasi yang lebih kuat dan adaptif di tengah volatilitas global.

Data dari Corporate Governance Institute memperkuat pandangan ini, menunjukkan bahwa perusahaan yang menerapkan prinsip ESG cenderung memiliki risiko operasional yang lebih rendah, loyalitas pelanggan yang lebih tinggi, serta daya tarik investasi yang lebih besar.

"Tidak selalu ada kompromi antara imbal hasil dan keberlanjutan. Jika kita percaya pada megatren seperti perubahan iklim, maka memasukkan aspek keberlanjutan ke inti bisnis justru akan membuat perusahaan lebih tangguh dalam jangka panjang," tutup Helge.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel

Sumber:

Berita Terkait

Close Ads