PMI Bukan Segalanya, Menperin Tegaskan IKI Jadi Pegangan Utama Industri Nasional
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita -ist-
JAKARTA, DISWAY.ID — Meskipun sektor manufaktur Indonesia terus menunjukkan tren positif pada awal kuartal keempat 2025, Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menegaskan bahwa Purchasing Managers’ Index (PMI) bukan pegangan utama dalam membaca kondisi industri maupun merumuskan kebijakan nasional.
Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita menyatakan, PMI hanya menyajikan data makro yang belum menggambarkan secara rinci kinerja tiap subsektor industri.
“Saya ingin mengajak semua pihak untuk cermat menggunakan data PMI dari S&P Global tiap bulannya. Sampel industri dalam survei itu lebih sedikit dibandingkan Indeks Kepercayaan Industri (IKI) yang kami gunakan,” ujar Agus dalam konferensi daring, Selasa (4/11/2025).
BACA JUGA:Prabowo Pastikan Utang Whoosh Dibayar Rp1,2 Triliun per Tahun: Nggak Usah Khawatir!
Menurut Agus, Indeks Kepercayaan Industri (IKI) yang dikembangkan Kemenperin dinilai lebih komprehensif karena mencakup lebih banyak responden dari berbagai subsektor industri dalam negeri.
“Dinamika tiap subsektor industri berbeda-beda. Karena itu, Kemenperin menggunakan data IKI untuk membaca situasi makro industri dan merumuskan kebijakan. Data PMI bukan data utama kami,” tegasnya.
Kemenperin, kata Agus, akan terus memantau perkembangan berbagai indikator manufaktur agar kebijakan yang diambil tetap sesuai dengan realitas lapangan.
Manufaktur Tetap Jadi Motor Ekonomi
Agus optimistis sektor manufaktur akan terus menjadi penggerak utama ekonomi nasional. Pemerintah akan menjaga iklim usaha tetap kondusif, memperkuat daya saing, serta mempercepat transformasi menuju industri hijau dan berkelanjutan.
“Kami juga fokus pada efisiensi produksi, peningkatan nilai tambah, serta pelatihan tenaga kerja industri melalui program upskilling dan reskilling,” ujar Agus.
Ia menambahkan, serapan tenaga kerja di sektor manufaktur bahkan meningkat pada laju tercepat sejak Mei 2025, menandakan aktivitas industri mulai pulih dan menciptakan lapangan kerja baru.
Secara regional, PMI manufaktur ASEAN naik ke level 51,6 pada Oktober 2025. Indonesia (51,2) masih berada di zona ekspansi bersama Thailand (56,6), Vietnam (54,5), dan Myanmar (53,1).
Sementara secara global, Tiongkok (51,2) dan India (57,7) juga menunjukkan ekspansi moderat—menandakan stabilisasi aktivitas manufaktur dunia.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel
Sumber: