Rites de Passage Akhir dan Awal Tahun Baru
Prof. Jamhari Makruf, Ph.D. - Rektor Universitas Islam Internasional Indonesia –-dok disway-
Perayaan tahun baru—baik yang dijalani secara khidmat melalui doa maupun dirayakan dengan kemeriahan musik dan kembang api—pada dasarnya adalah momen kebersamaan.
Mengutip Émile Durkheim, collective effervescence atau kegembiraan bersama merupakan prasyarat penting bagi lahirnya solidaritas sosial. Tanpa pengalaman kebahagiaan kolektif, solidaritas sulit tumbuh.
Tahun baru adalah pengingat bahwa waktu terus berjalan.
Ia ibarat lonceng penanda dalam lomba lari jarak jauh, mengajak kita berhenti sejenak untuk berefleksi: apa yang telah dicapai, janji apa yang terpenuhi, dan apa yang perlu diperbaiki.
Karena itu, perayaan tahun baru dapat dipahami sebagai cultural theatre untuk memperkuat tatanan dan solidaritas sosial.
BACA JUGA:TransJakarta Sediakan Bus Tingkat Gratis untuk Liburan Tahun Baru 2026, Cek Titik Keberangkatannya
Tidak mengherankan jika perayaan tahun baru 2025 dihimbau dilakukan tanpa kembang api sebagai bentuk solidaritas bagi masyarakat Sumatra yang tertimpa musibah, sebagaimana perayaan tahun baru 2005 yang dijadikan ajang empati bagi korban tsunami Aceh.
Yang terpenting, perayaan tahun baru menumbuhkan kepercayaan bersama bahwa masa depan tetap terbuka dan layak diperjuangkan.
George Bernard Shaw pernah berkata, “The optimist invents the aeroplane, the pessimist invents the parachute.” Keduanya, optimisme dan pesimisme, sama-sama melahirkan karya. Manusia mungkin tidak mampu memastikan hasil, tetapi tetap bisa terus berkarya. Selamat tahun baru.
Oleh: Prof. Jamhari Makruf, Ph.D.
Rektor Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII)
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel
Sumber: