Dunia Berubah Cepat, Sekolah Didorong Fokus Bangun Ketangguhan Siswa
Head of School North Jakarta Intercultural School (NJIS), Ezra Alexander, menilai perlu adanya perubahan metode pendidikan seiring cepatnya perubahan dunia-Istimewa-
JAKARTA, DISWAY.ID - Dunia makin cepat berubah, diikuti dengan pesatnya perkembangan teknologi dan kecerdasan buatan (AI), serta tingginya arus informasi.
Hal ini mengubah banyak pola kehidupan manusia, termasuk anak dan remaja, di mana mereka tumbuh di tengah tekanan akademik, sosial, dan emosional yang makin kompleks.
BACA JUGA:Peraih Emas SEA Games Diguyur Bonus Rp1 Miliar, Disimpan di Rekening BRI
BACA JUGA:Tips Cuan 2026 Buat Trader Crypto: Cara Cepat Temukan Sinyal Trading Tanpa Ribet
Dalam konteks ini peran sekolah dewasa ini ikut berubah. Pendidikan tidak lagi tentang pencapaian nilai akademik, tetapi perlu menjadi ruang aman bagi siswa untuk belajar menghadapi tantangan, mengelola emosi, dan beradaptasi dengan perubahan.
Head of School North Jakarta Intercultural School (NJIS), Ezra Alexander, menilai perlu adanya penyesuaian cara pandang dalam melihat tujuan pendidikan. Jika selama ini tolok ukur kesuksesan siswa ditentukan oleh nilai, kini standar tersebut tidak lagi relevan.
“Anak dianggap sukses di sekolah bukan sekadar saat dia meraih nilai A, tetapi ketika mereka akhirnya mampu menghadapi situasi sulit, beradaptasi dengan perubahan, mengelola emosi, serta memandang tantangan sebagai bagian dari proses belajar dan bertumbuh,” ujar Ezra.
Ia menjelaskan bahwa ketangguhan (resilience) dan fleksibilitas (adaptability) perlu dibangun melalui pengalaman belajar yang nyata, baik di sekolah maupun di rumah. “Anak perlu dibiasakan untuk mencoba, menghadapi kegagalan, lalu merefleksikannya sebagai momen evaluasi dan perbaikan sehingga kepercayaan diri dan daya tahan mental terbentuk,” ucapnya.
Pendekatan ini, lanjut Ezra, sejalan dengan berbagai kajian global. Laporan World Economic Forum (WEF) menunjukkan bahwa kemampuan seperti pemecahan masalah, pengelolaan diri, dan adaptabilitas menjadi keterampilan utama yang dibutuhkan di dunia kerja masa depan, terutama di tengah pesatnya perkembangan teknologi dan AI.
“Nah, untuk membangun ketangguhan itu tidak bisa terlepas dari kesejahteraan emosional (wellbeing) siswa,” katanya. Ezra menyoroti tekanan digital yang semakin dirasakan generasi muda, mulai dari paparan layar yang berlebihan hingga distraksi media sosial yang memengaruhi fokus, relasi sosial, dan kesehatan mental.
Untuk merespons hal tersebut, NJIS menerapkan lingkungan belajar bebas ponsel. Kebijakan ini bertujuan memberi ruang bagi siswa untuk berinteraksi secara langsung, bekerja sama, dan membangun hubungan sosial yang lebih baik di lingkungan sekolah.
“Kami ingin siswa belajar mengelola teknologi secara sadar, agar kehidupan digital tidak mengambil alih ruang belajar dan relasi mereka,” ungkap Ezra.
BACA JUGA:Laga Persib vs Persija Dipimpin Wasit asal Korea Selatan Ko Hyung Jun
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel
Sumber: