Nyinyir Itu Tua dan Media Sosial Membuatnya Terlihat Muda

Nyinyir Itu Tua dan Media Sosial Membuatnya Terlihat Muda

Nyinyir bukan anak zaman sekarang. Ia sudah tua, bahkan jauh lebih tua dari kata “media sosial”.-freepik-

JAKARTA, DISWAY.ID - Nyinyir bukan anak zaman sekarang. Ia sudah tua, bahkan jauh lebih tua dari kata “media sosial”.

Ia lahir jauh sebelum jempol kita mengenal layar. Ia lahir dari rasa lelah yang tidak sempat diceritakan. Dulu nyinyir hidup sederhana.

Ia beredar di warung kopi, di bangku hajatan, di pos ronda, di sela kalimat yang dibuka dengan senyum. Umurnya pendek. Mati bersama kopi yang dingin. Hari ini nyinyir menemukan rumah baru bernama kolom komentar. Ia tidak lagi menguap.

Ia menetap. Direkam. Dibagikan. Diadili ramai ramai. Media sosial bukan pencipta nyinyir. Ia hanya pengeras suara. Yang berubah bukan manusianya, melainkan jarak jangkau lidahnya.

Setiap masyarakat mengenal nyinyir sejak lama. Ada sindiran yang halus tapi mengiris. Ada gunjingan yang berjalan tanpa wajah.

Ada cemooh dan celaan yang merasa diri paling lurus. Bahkan seni rakyat mengenalnya lewat satir dan olok olok. Semua itu bukan semata keburukan. Ia adalah katup sosial.

Cara manusia meluapkan rasa tidak nyaman tanpa benturan langsung. Masalahnya, katup itu kini bocor ke mana mana.

BACA JUGA:Akhirnya, Yaqut Ditetapkan Tersangka Kasus Dugaan Kuota Haji 2024: Stafnya Juga Kena!

BACA JUGA:Kementerian PU Gerak Cepat Tangani Sungai Muara Pisang, Cegah Banjir Susulan di Maninjau

Saya menemukan sebuah petunjuk dari Psikologi sosial. Sejak 1954 Leon Festinger menjelaskan bahwa manusia menilai dirinya dengan membandingkan diri dengan orang lain.

Dulu pembandingnya terbatas. Tetangga, rekan kerja, saudara dekat. Kini pembandingnya tak berbatas. Ribuan kehidupan hadir di satu layar kecil.

Semuanya tampak rapi. Semua tampak melaju. Dan di situlah kelelahan bermula. Media sosial bukan panggung hidup. Ia etalase. Yang dipamerkan adalah hasil akhir, bukan proses. Senyum, bukan air mata. Puncak, bukan tanjakan.

Penelitian ilmiah menunjukkan bahwa paparan terus menerus terhadap unggahan keberhasilan berkorelasi dengan meningkatnya rasa iri, kecemasan, dan kelelahan batin. Terutama ketika hidup kita sedang berjalan pelan, sementara hidup orang lain tampak berlari.

Di titik itulah nyinyir berganti fungsi. Bukan lagi sekadar komentar. Ia menjadi alat bertahan hidup emosional.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel

Sumber:

Berita Terkait

Close Ads