Pasien Super Flu di Bandung Tewas, Menkes Angkat Bicara
Menkes menjelaskan bahwa virus memerlukan "inang" (manusia) untuk tetap hidup. Jika virus membunuh inangnya dengan cepat, maka virus itu sendiri tidak akan bisa bertahan lama untuk menyebar.-Istimewa-
BACA JUGA:Petugas Haji 2026 Jalani Simulasi Penanganan Darurat Kesehatan Jemaah
BACA JUGA:Prabowo: Ada Praktik Tak Sehat di Pertamina, Kepentigan Impor Jadi Sorotan
Strategi Virus: "Melemah Agar Tetap Hidup"
Secara ilmiah, Menkes memaparkan bahwa perilaku virus cenderung bermutasi menjadi lebih lemah seiring berjalannya waktu.
Ia menjelaskan bahwa virus memerlukan "inang" (manusia) untuk tetap hidup. Jika virus membunuh inangnya dengan cepat, maka virus itu sendiri tidak akan bisa bertahan lama untuk menyebar.
Fenomena inilah yang menurutnya terjadi pada Super Flu varian K (H3N2). Meski memiliki tingkat penularan yang sangat cepat mirip dengan karakteristik varian Omicron tingkat kematian atau fatalitasnya diklaim sangat rendah.
"Varian K ini penyebarannya sangat cepat tapi dia lemah sebenarnya dari tingkat kematian. Asal badan kita sehat, harusnya bisa diatasi oleh imun sistem kita sendiri," pungkas Menkes.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel
Sumber: