Judol Kian Marak, GPA Soroti Kinerja Komdigi
Ketua Umum Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda Al-Washliyah (PP GPA), Aminullah Siagian, melontarkan kritik pada Komdigi tak militan memberantas judi online (Judol)-istockphoto-
JAKARTA, DISWAY.ID — Ketua Umum Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda Al-Washliyah (PP GPA), Aminullah Siagian, melontarkan kritik pada Komdigi tak militan memberantas judi online (Judol).
Aminullah menilai belum ada action yang terlihat dari Komdigi untuk memberantas praktik judi online (judol) yang kian masif.
BACA JUGA:Kisah Nyata! Dulu Pelaku Judi Online, Pria di Madiun Insyaf Gegara Program MBG
BACA JUGA:Viral Pengusiran Pasien Rumah Singgah di Padang, Sengketa Tanah Wakaf Pasaman Kian Memanas
Aminullah menegaskan, maraknya judi online saat ini menunjukkan kegagalan serius negara dalam melindungi rakyat dari kejahatan digital terorganisir.
Padahal, Presiden Prabowo Subianto telah berulang kali menyampaikan sikap tegas dan tanpa kompromi terhadap praktik judi online, bahkan secara terbuka menyatakan perang terhadap kejahatan tersebut.
“Perintah Presiden Prabowo sangat jelas, terang, dan keras: berantas judi online tanpa toleransi. Namun fakta di lapangan, setelah hampir satu tahun Menkodigi menjabat, kita tidak melihat tanda-tanda keberhasilan yang nyata. Judi online justru semakin vulgar, semakin sistematis, dan semakin menjerat masyarakat kecil,” ujar Aminullah di Jakarta, Sabtu, 17 Januari 2026.
Menurutnya, kegagalan ini bukan sekadar persoalan teknis, melainkan mencerminkan krisis kepemimpinan dan keberanian politik di tubuh Kementerian Komunikasi dan Digital. Pemblokiran situs semata dinilai sebagai langkah kosmetik yang tidak menyentuh akar persoalan.
“Judol bukan lagi kejahatan lokal. Ini adalah kejahatan lintas negara, lintas rezim digital, dan lintas kepentingan ekonomi gelap. Kalau Menkodigi hanya sibuk memblokir domain hari ini, besok muncul seribu domain baru. Itu bukan strategi, itu reaksi panik,” tegasnya.
Aminullah juga menyoroti absennya diplomasi dan kerja sama internasional yang serius, khususnya dengan negara-negara yang dikenal sebagai pusat dan ‘surga’ industri judi online, seperti Kamboja.
BACA JUGA:Muncul ke Publik, Eggi Sudjana Beberkan Pertemuan di Solo: Demi Allah, Akhlak Jokowi Baik!
“Kami tidak melihat adanya diplomasi digital yang agresif, tidak ada tekanan bilateral yang kuat, tidak ada kerja sama intelijen siber lintas negara yang masif. Negara seolah kalah langkah dari bandar judol. Ini ironi besar,” katanya.
Lebih jauh, Aminullah menyebut judi online telah menjelma menjadi kejahatan struktural yang menghancurkan ekonomi keluarga, memicu kriminalitas, memperparah kemiskinan, dan merusak mental generasi muda. Karena itu, kegagalan negara memberantas judol sama artinya dengan membiarkan kehancuran sosial terjadi secara sistematis.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel
Sumber: