Gak Pakai Larangan, Begini Cara Menkes Budi Kampanyekan Pola Hidup Sehat

Gak Pakai Larangan, Begini Cara Menkes Budi Kampanyekan Pola Hidup Sehat

Baginya, tugas pemerintah saat ini adalah menyusun taktik dan strategi komunikasi yang bisa masuk ke hati masing-masing individu. Harapannya, masyarakat bisa memilih hidup sehat demi umur panjang, bukan karena takut pada aturan.-Disway/Hasyim Ashari-

JAKARTA, DISWAY.ID-- Menteri Kesehatan, Budi Gunadi Sadikin memiliki cara unik untuk mengubah pola hidup sehat masyarakat. 

Alih-alih membuat aturan dan cukai minuman kemasan berpemanis, ia lebih memilih untuk membuat konten edukasi di media sosial.

BACA JUGA:Cetak Sejarah Nasional! Vinilon Group Borong Dua Rekor MURI Lewat Produksi Pipa Terbesar di Indonesia

BACA JUGA:Real Madrid Dominasi Deloitte Football Money League, Manchester United Makin Terpuruk

Menurut Menkes Budi, mengubah pola hidup masyarakat tidak harus dipaksakan. Melainkan, berawal dari kesadaran masing-masing individu.

Ia mengibaratkan urusan kesehatan seperti urusan ibadah; paksaan tidak akan pernah mengalahkan keinginan yang muncul dari niat sendiri.

"Gaya hidup itu enggak bisa dipaksa. Teman-teman ngerasa kan? Paksa salat sama ingin salat sendiri itu beda. Jadi yang kita dorong itu kesadaran masyarakat," ujar Budi saat ditemui di kantor Kementerian Kesehatan, Kamis 22 Januari 2026.

Kemudian, Menkes Budi Gunadi menceritakan bahwa konten yang ia buat di media sosial soal kampanye makanan rebusan sukses disambut positif publik.

BACA JUGA:Beasiswa LPDP 2026 Dibuka, Kamu Bisa Kuliah di Luar Negeri GRATIS! Cek Jadwal dan Persyaratan

BACA JUGA:Kenalan dengan Caleb, Siswa BINUS School Simprug yang Peduli Lingkungan dari Satwa hingga Mangrove

Mulai dari situ, Menkes Budi menilai strategi komunikasi visual yang menunjukkan manfaat nyata jauh lebih ampuh daripada deretan aturan yang melarang ini-itu.

"Di media sosial saya, yang paling laku itu yang makan rebus-rebusan. Begitu dijalani, ternyata sederhana dan orang mau ikut," tuturnya.

Menkes Budi secara blak-blakan menyebut bahwa edukasi yang menyentuh sisi emosional warga lebih powerful ketimbang memberikan hukuman finansial atau financial punishment.

Ia mencontohkan bagaimana kampanye bahaya merokok akan lebih efektif jika menyentuh kesadaran personal daripada sekadar menaikkan harga setinggi langit.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel

Sumber:

Berita Terkait

Close Ads