Tanpa Dana APBN, Stasiun Jatake Resmi Beroperasi lewat Skema TOD
Peresmian ini menegaskan arah kebijakan pembangunan transportasi nasional yang berfokus pada penguatan ekosistem transportasi massal melalui kolaborasi lintas sektor, integrasi kawasan, serta keberlanjutan mobilitas masyarakat.-Istimewa-
BACA JUGA:Onad Ingin Sambangi Habib Jafar Usai 3 Bulan Rehab: Sudah Pasti Itu!
Peresmian ini menegaskan arah kebijakan pembangunan transportasi nasional yang berfokus pada penguatan ekosistem transportasi massal melalui kolaborasi lintas sektor, integrasi kawasan, serta keberlanjutan mobilitas masyarakat.
Dalam sambutannya, Menteri Perhubungan Dudy Purwagandi menyampaikan bahwa pembangunan transportasi publik diarahkan untuk membentuk ekosistem mobilitas yang terhubung, efisien, dan tertata.
Pendekatan ini mendorong sinergi antara pemerintah pusat, KAI Group, pemerintah daerah, dan badan usaha swasta agar transportasi massal berkembang sejalan dengan pertumbuhan kawasan permukiman dan pusat kegiatan ekonomi.
Sejalan dengan kebijakan tersebut, Stasiun Jatake dibangun melalui skema kolaborasi tanpa menggunakan dana APBN.
Model ini mencerminkan dorongan pemerintah terhadap pembangunan infrastruktur transportasi yang akuntabel, adaptif, dan berkelanjutan.
BACA JUGA:Kejaksaan Diminta Bongkar Persoalan Kuota Pupuk
BACA JUGA:Le Eminence Jadi Andalan, Eminence Global Siap Perluas Jaringan Properti
Sementara itu, Gubernur Provinsi Banten Andra Soni menyampaikan bahwa kehadiran Stasiun Jatake memperkuat konektivitas regional sekaligus meningkatkan daya saing kawasan BSD sebagai aglomerasi berbasis Transit Oriented Development (TOD).
Menurutnya, pengalaman Provinsi Banten menunjukkan bahwa pengembangan jaringan perkeretaapian berdampak langsung terhadap pertumbuhan ekonomi yang lebih merata.
Oleh karena itu, Pemerintah Provinsi Banten berharap dukungan pemerintah pusat dan KAI untuk mendorong pemerataan pembangunan perkeretaapian hingga wilayah selatan Banten, termasuk pengaktifan kembali jalur Rangkasbitung–Pandeglang–Labuan, guna membuka pusat-pusat pertumbuhan ekonomi baru dan memperluas akses ke kawasan pariwisata.
“Kereta api memiliki pengaruh besar bagi pertumbuhan wilayah. Setiap simpul perkeretaapian yang aktif berpotensi menjadi pusat aktivitas ekonomi masyarakat,” ujar Andra Soni.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel
Sumber: