Harga Emas Cetak Rekor Tembus Rp3 jutaan per gram, Pakar Ungkap Penyebab Utamanya!

Harga Emas Cetak Rekor Tembus Rp3 jutaan per gram, Pakar Ungkap Penyebab Utamanya!

Harga emas saat ini kembali cetak rekor lagi hingga tembus Rp3,1 juta. Apa penyebabnya?-Bianca/Disway.id-

JAKARTA, DISWAY.ID -- Dalam kurun waktu beberapa minggu ini, kenaikan harga emas PT Aneka Tambang (Antam) yang terus melambung tinggi turut menjadi perhatian banyak pihak. Terlebih lagi terkini, harga emas terpantau kembali naik sentuh Rp 3,1 juta per gram.

Menurut Research Director lembaga Prasasti Center for Policy, Gundy Cahyadi, kenaikan harga emas ini menjadi bukti daya tarik emas sebagai aset pelindung nilai di tengah meningkatnya ketidakpastian ekonomi dan geopolitik global.

"Emas bukan sekadar komoditas biasa, tetapi penyimpan nilai yang dipercaya lintas generasi, lintas zaman, dan lintas siklus ekonomi,” ucap Gundy kepada Disway, pada Rabu (28/01).

Gundy menambahkan, terdapat tiga faktor yang turut menjadi faktor di balik pergerakan harga emas, yakni inflasi, suku bunga global, dan ketidakpastian geopolitik.

BACA JUGA:Panduan Cara Cek Saldo Haji dan Nilai Manfaatnya Lewat Aplikasi BPKH

"Ketika konflik meningkat dan risiko sistemik naik, kepercayaan terhadap stabilitas keuangan global melemah. Di saat itulah investor mencari aset yang tidak bergantung pada satu negara atau mata uang tertentu, dan emas mengambil peran tersebut," tuturnya.

Kendati begitu, Gundy sendiri juga turut menambahkan bahwa suku bunga global masih tetap menjadi faktor penting. Dalam hal ini, suku bunga yang tinggi memang menahan minat terhadap emas dalam jangka pendek karena emas tidak memberikan imbal hasil.

"Namun ketika pasar melihat siklus pengetatan mendekati puncaknya atau risiko resesi meningkat, emas kembali relevan sebagai lindung nilai," ucap Gundy.

Di sisi lain, harga emas sendiri tercatat naik lebih dari 30 persen sejak awal Januari 2026. Hal itu didorong oleh meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah serta tekanan terhadap dolar AS.

BACA JUGA:Sempat Terhenti, Tim SAR Gabungan Bawa Dua Kantong Jenazah Korban Longsor di Bandung Barat

Kombinasi risiko politik dan melemahnya kepercayaan pada mata uang utama global kembali mengangkat daya tarik emas di mata investor.

Oleh karena itulah, Gundy menegaskan bahwa emas kini tidak hanya diposisikan sebagai alat spekulasi jangka pendek, melainkan sebagai insurance asset untuk menjaga daya beli dan stabilitas portofolio.

"Ketika ketidakpastian menjadi norma, nilai kepercayaan menjadi semakin mahal. Dan selama itu terjadi, emas akan tetap relevan," tutup Gundy.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel

Sumber:

Berita Terkait

Close Ads