Ekonomi RI Tumbuh 5,11 Persen, Celios Klaim Ada yang Janggal
Celios menilai angka pertumbuhan ekonomi nasional 5,11 persen terbilang tidak rasional, kurang data, sehingga realitanya askrn-Freepik-
JAKARTA, DISWAY.ID -- Angka pertumbuhan ekonomi yang dirilis oleh Badan Pusat Statistik (BPS) hingga kini masih terus menuai pertanyaan dan kritikan dari kalangan pengamat.
Pasalnya, angka pertumbuhan sebesar 5,11 persen dinilai cukup janggal mengingat secara kumulatif 2025, pertumbuhan konsumsi rumah tangga dan PMTB tidak melebihi angka 5,11 persen sedangkan kontribusi keduanya mencapai 82,65 persen.
Sementara itu menurut Ekonom sekaligus Direktur Ekonomi Digital Center of Economics and Law Studies (Celios) Nailul Huda turut menyoroti beberapa kejanggalan dalam angka pertumbuhan ekonomi yang dirilis BPS tersebut.
"Jika dilihat dari paparan kepala BPS, pertumbuhan tertinggi adalah ekspor dengan pertumbuhan 7,03 persen. Namun jangan lupa, ekspor tidak pernah berdiri sendiri karena ada impor (perdagangan internasional). Pun tumbuh tinggi net ekspor, kontribusinya relatif kecil, 8,47 persen, namun jadi pendorong utama?" kata Nailul ketika dihubungi oleh Disway, pada Selasa (10/02).
BACA JUGA:Serunya Imlek 2026 di Jakarta: Mulai Pentas Budaya hingga Kolosal Spektakuler
BACA JUGA:Kunker ke Merauke, Anak Buah Menkeu Purbaya Efektivitas DAK Non Fisik, Tepat Sasaran?
Lebih lanjut, Nailul turut menyoroti Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) yang meningkat tajam karena impor mesin dan perlengkapan, dengan pertumbuhan PMTB sub komponen mesin dan perlengkapan di angka 17,99 persen.
"Di sisi lain, Net ekspor diklaim menjadi pendongkrak pertumbuhan ekonomi dengan menjadi sumber pertumbuhan sebesar 0,74 persen. Jadi kita tempatkan di mana impor mesin tersebut?" ucap Nailul.
Di sisi lain, laju pertumbuhan konsumsi rumah tangga meningkat lebih tinggi dari 5,11 persen, namun pertumbuhan ekonominya tidak mencapai 5,39 persen. Pasalnya, angka ini memberi pesan ganda. Di satu sisi, Indonesia tetap bergerak, tidak sedang jatuh.
Capaian itu belum sejalan dengan ekspektasi lompatan yang dijanjikan, terutama narasi pertumbuhan lebih tinggi yang sering disampaikan sebagai tanda “mesin baru” ekonomi.
BACA JUGA:Atasi Kulit Rewel Lewat Moisturizer, Wajah Terlindungi dan Tenang Seharian
"Laju pertumbuhan konsumsi rumah tangga pernah lebih tinggi dari 5,11 persen namun pertumbuhan ekonominya tidak mencapai 5,39 persen. Maka pengungkitnya adalah PMTB," ujar Nailul.
"Pertumbuhan PMTB ini diklaim naik sebesar 6 persen yang disumbang dari sub komponen bangunan serta mesin dan perlengkapan. Lagi-lagi mesin yang diimpor menjadi pendorong utama PMTB. Pertanyaan saya bagi BPS, impor mesin dan perlengkapan apakah masuk ke PMTB atau Impor atau keduanya," tambahnya.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel
Sumber: