Produksi Massal

Produksi Massal

--

Malam sebelum meninggalkan Tarim --menuju Al Azhar, Kairo-- saya diundang bertemu para mahasiswa Indonesia di sana. Yang mengadakan acara: pengurus Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) Tarim. Ketuanya, Ahmad Fikri Syafi'i, alumnus pondok Habib Baharun, Bangil.

Tempat acaranya: di kantor Satgas Perlindungan Warga Indonesia di Tarim. Indonesia memang tidak punya lagi duta besar di Yaman. Sejak meletus perang saudara di sana. Duta besarnya dirangkap dari Oman. Kedutaan itu punya kantor satgas di Tarim. Petugas satgasnya adalah lima mahasiswa Indonesia yang kuliah di sana.

Malam itu sekitar 100 mahasiswa kumpul di gedung satgas. Mereka calon ulama semua. Calon pendakwah semua. Kami berdiskusi.


--

Saya menceritakan fakta baru banyaknya sekolah Islam di Indonesia yang mutunya tinggi-tinggi. Modern. Internasional.

Sudah banyak yang mengalahkan kehebatan sekolah-sekolah Katolik. Padahal dulu tidak ada sekolah Islam yang bisa mendekati kualitas sekolah Katolik. Hampir di semua kota seperti itu.

Itu fenomena baru. Bukan milik NU atau Muhammadiyah atau Persis atau organisasi keagamaan. Semua milik pribadi-pribadi orang NU atau Muhammadiyah.

Maka saya ajak mereka mendiskusikan: apakah perlu kita punya terlalu banyak lulusan juru dakwah. Utamanya: apakah perlu kita punya terlalu banyak sarjana agama. Seperti yang diproduksi masal oleh UIN dan universitas Islam swasta.

Negara, kalau mau maju, memerlukan lebih banyak sarjana di banyak bidang kehidupan.

Toh sudah ada Tarim, Al Azhar, Ummul Quro, dan beberapa universitas laris di Maroko dan Syria. Sudah puluhan ribu mahasiswa Indonesia ke sana tiap tahunnya. Apakah tidak mereka saja calon ulama kita. Tidak perlu lagi ada UIN dengan gaya lama. Apakah belum waktunya UIN dibubarkan, diganti dengan UIN baru.

Dengan universitas Islam model sekarang (negeri dan swasta) kita akan punya terlalu banyak sarjana agama. Yang kualitasnya umumnya nanggung. Padahal kita lebih perlu banyak sarjana apa saja di seluruh sektor kehidupan manusia masa depan.

Ternyata di forum malam itu banyak mahasiswa yang ikut bicara. Cukup blak-blakan. Berbeda dengan tipikal santri yang tidak berani bertanya.


--

Pagi sebelum meninggalkan Tarim saya masih berkunjung ke salah satu universitas di sana: Al-Ahgaff University. Hanya satu fakultas, syariah dan hukum kanun. Begitu banyak saya bertemu mahasiswa Indonesia di situ --ternyata 80 persen mahasiswanya dari Indonesia. Selebihnya dari Malaysia, Thailand, dan Brunei. Mahasiswa lokal hanya sekitar 150 orang.

Lalu saya sempatkan ke makam Ba'alawi (Sadaat Ba’alawi). Banyak yang ziarah. Hanya nisan-nisan makam ulama penting yang terlihat ditaruhi bunga di atasnya. Bunga kering. Dionggokkan bersama rantingnya yang juga kering. Itulah bunga raihan. Daunnya pun harum. Jenis bunga yang disebut dalam Quran: surah Ar-Rahman ayat 12.

Sebentar saja saya di makam itu. Lalu ke perpustakaan manuskrip yang kaya buku lama di Tarim. Saya kecantol agak lama di perpustakaan. Ini kali pertama saya melihat buku karya ilmuwan kuno Ibnu Sina di bidang kedokteran.


--

Ada juga buku unik: kalau kalimat-kalimatnya dibaca dari kanan semua mengandung pelajaran tentang kebaikan. Tapi kalau kalimat yang sama dibaca dari kiri semua bercerita tentang keburukan sifat manusia.

Penulisnya itu pasti sastrawan-ilmuwan yang luar biasa. Seluruh halaman buku bisa dibaca seperti itu.

Itu belum seberapa. Masih ada yang lebih hebat. Buku itu bisa dibaca dari atas ke bawah. Semua kata pertama di setiap kalimat bisa dibaca dari atas ke bawah. Membentuk kalimat sendiri. Dengan makna tersendiri. Yang isinya tentang cabang ilmu yang lain lagi.

Bukan hanya kata pertama. Pun kata-kata berikutnya. Bisa dibaca ke bawah. Menjadi satu kalimat tersendiri. Isinya tentang ilmu yang lain lagi.

Dengan demikian membaca satu buku ini sama dengan membaca enam buku yang berbeda cabang ilmunya. Tinggal mau membaca kalimatnya dari arah mana.

Kalau ingin tahu ilmu kebaikan Anda membaca buku itu dari kanan. Kalau ingin ilmu tata bahasa Anda baca huruf keempatnya ke bawah.

Saya belum pernah mendengar ada buku berbahasa Inggris yang ditulis dengan model seperti itu. Apalagi yang dalam bahasa Indonesia.

Tapi saya pernah mendengar ada cara serupa yang ditulis dalam bahasa Mandarin. Saya belum melihatnya sendiri. Tapi ada. Kalau itu benar berarti betapa kaya kata-kata dalam bahasa Arab dan bahasa Mandarin.


--

Waktu habis. Harus ke bandara. Tentu mampir lagi ke resto kambing bakar. Tidak hanya daging kambing yang disajikan. Juga daging onta. Bahkan ada onta yang masih diikat di depan resto. Siap disembelih.

Di situ saya baru tahu bagaimana cara mengikat onta. Bukan diikat di lehernya. Onta itu diikat di salah satu kaki belakangnya.

Penyembelihan onta itu ternyata dilakukan ketika saya sedang makan. Tidak sempat melihatnya. Tahu-tahu ada kepala onta yang dibawa masuk ke resto. Ditaruh di dekat dapur.

Saya terbelalak melihat kepala onta terpenggal itu. Saya foto. Tentu saya tidak bisa menunggu masakan kepala onta itu. Saya harus bergegas ke bandara.

Sampai di bandara, ternyata bandara masih tutup. Petugas pos keamanan memberi tahu: pesawat hari itu delay sampai jam 6 sore.

Balik ke Tarim. Masih bisa satu kambing bakar lagi --tapi masakan kepala ontanya sudah termakan orang lain semua. (Dahlan Iskan)

Komentar Pilihan Dahlan Iskan Edisi 17 Februari 2026: Puncak Gunung

Denny Herbert

Selamat Tahun Baru Imlek 2026 hari ini bagi teman-teman perusuh disway yang merayakan. Tahun ini terasa indah, karena dalam waktu yang berdekatan kita juga menyambut ibadah puasa Ramadhan ???? bagi saudara-saudara Muslim, serta Rabu Abu(18 Feb) bagi umat Katolik sebagai awal masa puasa menuju Paskah. Dalam waktu yang berdekatan, kita berbeda dalam iman, namun satu dalam kemanusiaan. Berbeda dalam cara berdoa, namun sama dalam harapan akan kebaikan. Indonesia indah karena toleransi, kuat karena persaudaraan, dan damai karena saling menghormati.

Sugi

Saya sejak dulu sudah suka sekali dengan gaya tulisan Abah. Yang seringkali memainkan kontras dalam suatu scene kehidupan. Konservatifisme vs modernisme. Rumah bata vs gedung megah real estate. Wilayah aman nan stabil vs wilayah yang masih dilanda perang. Logika rasional vs tasawuf. New Tarim vs Old Tarim. Teknik membandingkannya juga terasa sangat halus. Semuanya dikemas menjadi satu cerita apik yang mengajak pembaca berpikir lebih mendalam dan menggugah daya spiritual. Kemajuan modernisasi memang tidak akan dapat dibendung, jika kita melihat dari sisi manfaat dan maslahatnya yang jauh lebih besar, sementara tradisi lama/kuno saya yakin juga masih akan dapat bertahan hanya dan jika ia mau sedikit open minded, menyesuaikan diri, dan berkompromi dalam beberapa hal yang bersifat luaran atau kemasan.

Mbah Mars

Puncak-puncak gunung Tarim pun kelak akan jadi puncak-puncak apartemen yg jadi hiasan baru kota. Dan jika itu tiba masanya, tidak ada lagi gunung-gunung yg menyerap air. Air hujan akan meluncur ke bawah. Menjadi air bah. Wadi-wadi di bawahnya pun kehilangan sumber-sumber airnya. Semua ada konsekuensinya.

Ahmed Nurjubaedi

HP adalah pemicu revolusi sosial nan dahsyat. Mampu merubah cara berpikir. Juga menjadi alat proxy yang efektif dengan daya rusak tak terkira. Tanpa HP, yang subhat dan yang haram bisa dijauhi. Atau dihindari. Dengan HP, yang halal dan yang haram ada di genggaman. Bisa diakses kapan saja. Semoga masyarakat Tarim mampu menghadapinya....

Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺

TARIM, GUNUNG, DAN ZAMAN YANG MERAMBAT.. Tarim tampak seperti kota yang menahan napas. Debu tetap setia. Air tetap sabar. Lalu datang benda kecil bernama HP. Diam-diam lebih revolusioner daripada seminar. Khotbah pun kini punya layar cadangan di tangan kanan. Real estate di puncak gunung itu menarik. Bukan sekadar bangunan. Itu simbol. Bahwa konservatisme bisa berdamai dengan keran air panas dan plafon empat meter. Tradisi tetap di bawah. Modernitas naik sedikit ke atas. Secara harfiah. Harga USD 70.000 terasa seperti tiket emosi. Bukan hanya properti. Ada janji masa depan. Orang tua bisa berkata: anakku mondok di lembah, apartemennya di puncak. Kombinasi zuhud dan view kota. Modernisasi di Tarim tidak meledak. Ia merambat. Pelan. Seperti air dari gunung tanah. Tapi arahnya jelas. Jika damai bertahan, ekonomi akan menemukan jalannya. Dan puncak-puncak itu mungkin kelak bukan hanya gunung. Tapi juga mimpi yang punya alamat.

Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺

TRADISI YANG BELAJAR BERNEGOSIASI.. Tarim seperti kitab tua yang mulai diberi pembatas halaman digital. Tidak berubah cepat. Tapi juga tidak menolak zaman. Sinyal tersendat, tapi pesan tetap sampai. Itu metafora yang pas. Saya membayangkan gang berdebu bertemu lift apartemen. Sandal tetap di depan pintu. Namun dapur sudah pakai granit. Orang Tarim tampaknya tidak sedang meninggalkan masa lalu. Mereka hanya menambahkan fasilitas. Yang menarik justru ritmenya. Dunia berlari. Tarim berjalan. Kadang berhenti. Lalu lanjut lagi. Ada kebijaksanaan dalam tempo pelan. Tidak semua kemajuan harus berisik. HP di tangan khotib itu adegan kecil. Tapi maknanya besar. Ilmu tetap sama. Cara menyampaikan menyesuaikan. Tradisi rupanya tidak rapuh. Ia lentur. Jika damai bertahan, perubahan akan terasa seperti angin sore. Tidak mengguncang. Hanya menyejukkan. Dan mungkin suatu hari, orang datang ke Tarim bukan untuk melihat apa yang berubah. Tapi bagaimana perubahan itu dipelihara tanpa gaduh.

Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺

DISMorning – 17 FEBRUARI 2026: "Dahlan Iskan Ungkap Tradisi Imlek: Kebersamaan Keluarga yang Menginspirasi".. Pagi ini hangat. Ada Pak Dahlan. Ada Mbak Sasa sebagai host. Suasananya akrab. Seperti keluarga. Pembukaan sederhana tapi kena. Tentang mie panjang umur. Tentang tidak sendirian saat hari raya. Tentang mengajak orang lain ikut merasakan kebersamaan. Topik utamanya: "Imlek". Tapi yang dibahas bukan seremoninya. Yang ditekankan adalah komunikasi keluarga. Berkumpul. Menghormati yang tua. Mengunjungi satu sama lain. Nilai keluarga lebih penting dari keramaian. Perayaan utama itu sunyi. Reflektif. Hura-hura justru belakangan. Pendapat Pak Dahlan jelas. Imlek itu energi kebersamaan. Tradisi boleh berubah. Dari rumah ke restoran. Dari amplop ke digital. Tapi inti tidak boleh hilang. Hormat. Solidaritas. Keluarga tetap pusatnya. Bahkan saat dulu dibatasi, tradisi tetap hidup di rumah. Penutupnya sederhana. Indonesia kuat karena toleransi. Kita saling merayakan. Saling mendoakan. Rukun itu pilihan bersama. Lalu ucapan pun mengalir. Gong xi fa cai. Kebersamaan terasa sampai akhir.

Thamrin Dahlan YPTD

Konservatif lambat laun menajdi leberal. Mungkin proses di Tarim perlu waktu lama. Namun kemungkinan perubahan itu sudah dimulai dengan adanya perumahan mewah di atas gunung. Saya pikir yang tidak akan berubah adalah adab peradaban Islam Murni di Yaman. Kekuatan Iman para Ulama haqqul yaqin tidak meungkin menggerus suasana peradaban Islam nan sangat kental. Lihat saja masih banyak orang tua mengirimkan anak ke Yaman. Dari seantero negara termasuh Indonesia seperti di reportase kan Abah kemarin. Anda ketika Ketika anda Ibadah Haji atau Umroh kemudian Tawaf di Masjid Haram akan diberitahu oleh Muthowif. Salah satu sudut bangunan Kabah itu ada Rukun Yamani. Inilah petunjuk ke Arah Yaman di bagian selatan Kerajaan Saudi Arabia. . Dismorning Selasa 17 Februari 2026 mengulas perihal Angpao. Abah berjajnji akan memberikan Angpao kepada peserta Senam pagi ini. Hadiah dalam bentuk kertas merah yang dipastikan ada cuan atau fulus rupiah didalamnya. Di niatkan Hadiah atau Bisyaroh ya Abah bukan sedekah.untuk Emak Emak Mania Senam Dansa Khas Disway dibawah komando instruktur Mbak Pipit. Marhaban ya Ramadhan. Menunggu keputusan Kementerian Agama setelah melihat Bulan.untuk menegaskan kapan kepastian tanggal 1 Ramadhan 1447 Hijriah. Selamat Menunaikan Ibadah Puasa. Mohon Maaf Lahir Bathin Salamsalaman

Leong Putu

Marketing tidak menipu, tapi kita, Anda dan Saya yang kurang jeli dan kurang ukur kampuan.

Leong Putu

"Terhipnotis" promo marketing? Lebih tepatnya terhipnotis kalimat "nanti saya bantu" dari marketing. Sebab dengan harga rumah 800-900jutaan dan dengan ansuran yang "kelihatan" 6 jutaan perbulan, siapa yang memenuhi syarat KPR? Dengan angsuran 6 jutaan, berarti minimal harus berpenghasilan +/- 18 juta/bulan. Karena tidak memenuhi syarat inilah kalimat "nanti saya bantu" mulai bekerja. Menghipnotis. Dan dengan terhipnotis kalimat "nanti saya bantu" ini, posisi buyer menjadi di bawah. Kalah mental. Karena dibantu, menjadi merasa tidak berhak banyak tanya. Nurut saja, lha wong sudah dibantu. Sehingga kebanyakan menjadi pasrah bongkok'an. Sehingga saat tanda tangan dokumen apapun akan "merem" saja. Lha wong sudah dibantu. Lalu kaget saat mengalami floatin rate berjenjang itu. Lalu merasa tertipu. Saran buat anak muda /keluarga muda yg ingin punya rumah: -Ukur kemampuan jangan terbawa nafsu, agar tidak rugi dikemudian hari. -ingat Anda membeli, bukan mengemis jadi jangan merasa inferior. Tanyakan segalanya di depan agar tidak merasa tertipu kemudian.

Johannes Kitono

Happy Sincia Hari ini ( Selasa,17/2 )seluruh etnis Tionghoa di dunia menyambut Tahun Baru Imlek. Menurut mitologi Tionghoa saat hari Sincia. Sang Naga bermain hujan di Nirwana. Konon tetesan airnya jadi hujan dibumi dan membawa rezeki. Berkat jasa Presiden Gusdur, Tahun Baru Imlek telah menjadi hari libur resmi di Indonesia. Sehari sebelum hari Sin Cia atau Sa Cap Me.Semua keluarga berkumpul dan makan malam bersama. Babi Hong, Haisom dan bakmi panjang umur merupakan menu wajib. Sesudah makan, anak anak akan Kiong Hie kepada ortu dan kerabat senior. Sambil bersoja ucapkan : Kong Hie Sin Nien, Sen Thie Khian Kang artinya Selamat Tahun Baru dan Semoga Sehat Selalu.Sebagai balasannya,ortu dan kerabat akan memberikan Angpao, amplop merah berisi uang. Angpao diberikan kepada anak anak. Dan sebaliknya anak yang sudah berkeluarga memberikan Angpao kepada Ortu dan kerabat senior. Tidak ada aturan tentang isi Angpao. Dulu, anak indekost Jakarta setiap minggu selalu lunch di pesta Perkawinan di resto.Dengan kasih isi Angpao seadanya sambil ucapkan Kiong Hie. Tuan rumah tentu happy undangannya ramai, mengira dikunjungi kerabat jauh dari luar kota.Itu strategi anak indekost makan enak dengan paket hemat. Sincia tahun ini ( 17/2 ) berlangsung 15 hari yang berakhir 3 Maret 26 disebut Cap Go Meh. Festival CGM di kota Singkawang ada Naga, Barongsai dan Tatung. Dan ramai dikunjungi wisman dan turis LN. Tiket pesawat dan hotel penuh jadi harus booking dulu. Happy Sincia dan S S H B.

Hasyim Muhammad Abdul Haq

"Kelak, modernisasi mungkin akan terjadi juga di Tarim." Modernisasi PASTI terjadi di Tarim seberapa pun kuatnya warga Tarim menolak itu. Begitupun juga dalam hal beragama. Berpikir liberal dalam beragama itu adalah keniscayaan. Mungkin sekarang masih banyak yang menolak pemikiran liberal dalam ber-Islam. Namun di masa depan itu tak terhindarkan. Agama tak bisa menahan laju dunia. Untuk itu agama yang harus bisa beradaptasi dengan dunia.

Hermawan Wardhana

maaf sy tdk paham, belajar umumnya ke tmpt yg lebih advance. kalo ke tmpt yg terbelakang yg dipelajari apanya?

Jokosp Sp

Pegang ini, "Ahlul Yakin". Yang berarti : "orang-orang yang memiliki keyakinan" atau "pemilik keyakinan". Dalam konteks tasawuf dan keislaman istilah ini merujuk hamba Allah yang memiliki iman dan keyakinan teguh (tidak ada keraguan sedikitpun) terhadap Allah Swt, janji-janjiNya, dan perkara ghaib, yang didasarkan pada pengetahuan mendalam (ilm) dan persaksian hati (ainul yakin). Jadi Abah bisa cetak sejarah, bahkan sejarah dunia. Caranya?. Buat pabrik bata press di Tarim, sekaligus buat sistem pasarnya. Ini peluang langka yang belum disentuh siapapun. Merk bisa dicetak "DAHLAN ISKAN". Maka dalam 10 tahun ke depan orang Tarim akan menyebut bata dengan "DAHLAN ISKAN". Mereka menyebut seperti beli air kemasan dengan sebutan Aqua atau beli sabun detergen dengan sebutan Rinso. Penunjangnya sudah ada, dengan sudah berdirinya pabrik semen. Tinggal satu langkah : ajak kerjasama pengusaha Tarim dan pengusaha bata press di Jawa. Dana?. Boss 4T sepertinya tidak ada masalah. Maka dalam kurun 10 tahun yang akan datang dalam buku sejarah akan dicatat : "Kemajuan Tarim didukung oleh bata merah press yang dari awalnya hanya bangunan dari tanah lempung". Dan ada "DAHLAN ISKAN" dalam setiap bata press yang terpasang. Nikmat manalagi yang kau dustakan.

Liam Then

@Bang HMAH Jangan dianggap beban, anggaplah sebagai kesempatan untuk menempa ketahanan sistem usaha/keuangan abang. Mari bayangkan para bos yang pabriknya gede-gede itu, para konglomerat itu, atau Pak Bos. Mereka lalui itu apa adanya, berat rasanya pun mereka hajar, karena itu memang harga yang harus di bayar. Itu sudah natural hakekatnya alam. Setangkai batang durian, jika tak kuat tanggung beban gandulan buah di dahannya, ia akan patah. Gunakan moment setiap Ramadan, sebagai stress tess, agar abang bisa makin kuat, makin gede. Bisa diganduli buah durian lebih banyak lagi, yang akhirnya bisa dijual. Makin banyak karyawan, tanggungan, gaji, THR, memang makin berat. Tapi sisi lainnya, makin banyak orang yang bisa abang pakai, dan makin banyak pekerjaan ----> uang yang abang bisa terima. Itulah sebenarnya kunci rahasia para konglomerat, usahanya makin banyak, makin pakai banyak orang, makin besar. Gandulan durennya makin banyak. Mereka tak pernah berhenti, test stress beban dahan durian mereka, malah makin ditambah besar,besar dan lebih besar lagi. Ah..mungkin itulah bedanya. Sebabnya mereka bisa jadi konglomerat. World viewnya beda. Kita melihat orang/karyawan sebagai beban biaya. Mereka lihatnya sebagai alat untuk dapatkan lebih banyak lagi kekayaan. "Pakai orang"

Hasyim Muhammad Abdul Haq

Curhat seorang wiraswasta: Sebagai umat Islam, saya sangat menikmati Ramadan. Tapi sebagai wiraswasta, bulan puasa dan lebaran adalah masa yang berat. Selalu berat. Pusing! THR karyawan dan banyak pos pengeluaran muncul di momen puasa dan lebaran. Di sisi lain, hari kerja dan jam kerja berkurang. Revenue perusahaan pun otomatis turun. Mungkin ada bidang bisnis yang justru "panen" saat puasa dan lebaran. Misalnya kuliner, parsel, transportasi, dll. Namun untuk usaha saya, tidak seperti itu. Tidak ada penambahan omset terkait momen puasa dan lebaran.

Leong Putu

Untuk Pak Presiden. Tolong perintahkan Bank BUMN yang satu itu donk agar bunga KPRnya turun. Jangan 13, 25% /tahun seperti sekarang. Jadi 10% saja cukup meringankan, apalagi kalau bisa 8-9%. Bisa, Pak? Berani, Pak? Bank perintah, lho Pak, masa Pak Presiden gak bisa dan gak berani perintahkan? Terimakasih.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel

Sumber:

Komentar: 141

  • Johannes Kitono
    Johannes Kitono
  • Achmad Faisol
    Achmad Faisol
  • Juve Zhang
    Juve Zhang
    • Juve Zhang
      Juve Zhang
  • thamrindahlan
    thamrindahlan
  • Juve Zhang
    Juve Zhang
  • Juve Zhang
    Juve Zhang
  • Hendro Purba
    Hendro Purba
  • Ibnu Shonnan
    Ibnu Shonnan
    • MULIYANTO KRISTA
      MULIYANTO KRISTA
  • Gregorius Indiarto
    Gregorius Indiarto
  • Liam Then
    Liam Then
  • siti asiyah
    siti asiyah
  • Mbah Mars
    Mbah Mars
    • MULIYANTO KRISTA
      MULIYANTO KRISTA
  • Juve Zhang
    Juve Zhang
    • Juve Zhang
      Juve Zhang
    • Udin Salemo
      Udin Salemo
  • Juve Zhang
    Juve Zhang
  • Juve Zhang
    Juve Zhang
  • Juve Zhang
    Juve Zhang
  • Juve Zhang
    Juve Zhang
  • Juve Zhang
    Juve Zhang
  • Murid SD Internasional
    Murid SD Internasional
  • Murid SD Internasional
    Murid SD Internasional
  • Murid SD Internasional
    Murid SD Internasional
    • Murid SD Internasional
      Murid SD Internasional
    • MULIYANTO KRISTA
      MULIYANTO KRISTA
  • Juve Zhang
    Juve Zhang
    • MZ ARIFIN UMAR ZAIN
      MZ ARIFIN UMAR ZAIN
  • Liam Then
    Liam Then
    • Liam Then
      Liam Then
  • Liam Then
    Liam Then
    • Achmad Faisol
      Achmad Faisol
    • Liam Then
      Liam Then
  • Liáng - βιολί ζήτα
    Liáng - βιολί ζήτα
  • Everyday Mandarin (Study in Taiwan & China)
    Everyday Mandarin (Study in Taiwan & China)
    • Muhammad Zainuddin
      Muhammad Zainuddin
    • Nusantara Hijau
      Nusantara Hijau
  • Nusantara Hijau
    Nusantara Hijau
    • Muhammad Zainuddin
      Muhammad Zainuddin
  • mario handoko
    mario handoko
    • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
      Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    • Udin Salemo
      Udin Salemo
    • MZ ARIFIN UMAR ZAIN
      MZ ARIFIN UMAR ZAIN
  • Ja'far Syahidan
    Ja'far Syahidan
    • Muhammad Zainuddin
      Muhammad Zainuddin
    • Muhammad Zainuddin
      Muhammad Zainuddin
    • MZ ARIFIN UMAR ZAIN
      MZ ARIFIN UMAR ZAIN
  • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
      Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    • Muhammad Zainuddin
      Muhammad Zainuddin
  • Nusantara Hijau
    Nusantara Hijau
  • Muhammad Zainuddin
    Muhammad Zainuddin
    • Muhammad Zainuddin
      Muhammad Zainuddin
    • MZ ARIFIN UMAR ZAIN
      MZ ARIFIN UMAR ZAIN
  • Eksan Susanto
    Eksan Susanto
  • Saifudin Rohmaqèŕqqqààt
    Saifudin Rohmaqèŕqqqààt
    • Muhammad Zainuddin
      Muhammad Zainuddin
  • Hasyim Muhammad Abdul Haq
    Hasyim Muhammad Abdul Haq
    • MZ ARIFIN UMAR ZAIN
      MZ ARIFIN UMAR ZAIN
  • Muhammad Zainuddin
    Muhammad Zainuddin
    • Muhammad Zainuddin
      Muhammad Zainuddin
  • Ahmed Nurjubaedi
    Ahmed Nurjubaedi
  • Muh Nursalim
    Muh Nursalim
    • Muhammad Zainuddin
      Muhammad Zainuddin
    • MZ ARIFIN UMAR ZAIN
      MZ ARIFIN UMAR ZAIN
    • Muhammad Zainuddin
      Muhammad Zainuddin
  • Muhammad Zainuddin
    Muhammad Zainuddin
    • Muhammad Zainuddin
      Muhammad Zainuddin
    • DeniK
      DeniK
    • Muhammad Zainuddin
      Muhammad Zainuddin
    • Muhammad Zainuddin
      Muhammad Zainuddin
    • Muhammad Zainuddin
      Muhammad Zainuddin
    • MZ ARIFIN UMAR ZAIN
      MZ ARIFIN UMAR ZAIN
    • Muhammad Zainuddin
      Muhammad Zainuddin
  • Jokosp Sp
    Jokosp Sp
    • MZ ARIFIN UMAR ZAIN
      MZ ARIFIN UMAR ZAIN
  • IZHAR FRANDY KUSUMA
    IZHAR FRANDY KUSUMA
    • MZ ARIFIN UMAR ZAIN
      MZ ARIFIN UMAR ZAIN
  • Muhammad Zainuddin
    Muhammad Zainuddin
    • MZ ARIFIN UMAR ZAIN
      MZ ARIFIN UMAR ZAIN
    • Muhammad Zainuddin
      Muhammad Zainuddin
  • ikhwan guru sejarah
    ikhwan guru sejarah
    • Muhammad Zainuddin
      Muhammad Zainuddin
    • MZ ARIFIN UMAR ZAIN
      MZ ARIFIN UMAR ZAIN
    • Muhammad Zainuddin
      Muhammad Zainuddin
    • ikhwan guru sejarah
      ikhwan guru sejarah
    • Muhammad Zainuddin
      Muhammad Zainuddin
    • MZ ARIFIN UMAR ZAIN
      MZ ARIFIN UMAR ZAIN
    • Muhammad Zainuddin
      Muhammad Zainuddin
  • ikhwan guru sejarah
    ikhwan guru sejarah
  • Juve Zhang
    Juve Zhang
    • Rashad Alvarado
      Rashad Alvarado
  • Sugi
    Sugi
    • MZ ARIFIN UMAR ZAIN
      MZ ARIFIN UMAR ZAIN
  • Achmad Faisol
    Achmad Faisol
  • Denny Herbert
    Denny Herbert
    • Denny Herbert
      Denny Herbert
    • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
      Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
  • Juve Zhang
    Juve Zhang
    • Jokosp Sp
      Jokosp Sp
  • Juve Zhang
    Juve Zhang
  • sense habibie
    sense habibie
  • Achmad Faisol
    Achmad Faisol
    • xiaomi fiveplus
      xiaomi fiveplus
  • MULIYANTO KRISTA
    MULIYANTO KRISTA
    • Jokosp Sp
      Jokosp Sp
    • MULIYANTO KRISTA
      MULIYANTO KRISTA
  • Echa Yeni
    Echa Yeni
    • Echa Yeni
      Echa Yeni
  • Achmad Faisol
    Achmad Faisol
    • Achmad Faisol
      Achmad Faisol
    • MZ ARIFIN UMAR ZAIN
      MZ ARIFIN UMAR ZAIN
  • Jhel_ng
    Jhel_ng
    • Achmad Faisol
      Achmad Faisol
    • xiaomi fiveplus
      xiaomi fiveplus
    • Jhel_ng
      Jhel_ng
  • alasroban
    alasroban
  • DeniK
    DeniK
  • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
  • Mbah Mars
    Mbah Mars
    • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
      Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    • Echa Yeni
      Echa Yeni
  • Lègég Sunda
    Lègég Sunda
  • rid kc
    rid kc
    • DeniK
      DeniK
  • Joko Wito
    Joko Wito
  • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
  • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
  • MZ ARIFIN UMAR ZAIN
    MZ ARIFIN UMAR ZAIN
    • MZ ARIFIN UMAR ZAIN
      MZ ARIFIN UMAR ZAIN
  • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    • Thamrin Dahlan YPTD
      Thamrin Dahlan YPTD
    • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
      Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
  • bitrik sulaiman
    bitrik sulaiman
    • bitrik sulaiman
      bitrik sulaiman
  • ra tepak pol
    ra tepak pol
    • bitrik sulaiman
      bitrik sulaiman
    • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
      Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    • ra tepak pol
      ra tepak pol