Jelang Lebaran 2026, Momentum Obral 'Limbah' Thrifting: Untung atau Rugi?
Mendekati momentum lebaran 2026, stok para pedagang thrifting kian melimpah. Alhasil banyak limbah-limbah lama yang tak terjual akhirnya diobral.-Cahyono/Disway.id-
"Semoga aja seminggu mau lebaran banyak lah yang beli," pungkas Ibu dua anak tersebut.
Hal serupa dirasakan pedagang thrifting lainnya, Nurdin (56). Kata dia, jika berkaca dari bulan puasa tahun lalu, omzetnya mengalami penurunan lebih dari 60 persen.
Pada pekan pertama bulan puasa tahun lalu, ucap Nurdin, pengunjung sudah banyak berseliweran di area thrifting.
Namun bulan puasa tahun ini terasa sangat berbeda. Sudah hampir dua jam dirinya menggelar dagangannya, belum ada satupun pengunjung yang datang ke lapaknya.
“Sepi banget mas, ini belum layanin satupun,” kata Nurdin.
Jika kondisinya terus begini, Nurdin berencana membanting harga seperti yang pernah dia lakukan sebelumnya.
Agar tidak mengalami kerugian yang cukup besar, Nurdin pernah menjual seluruh barang dagangannya dengan harga Rp5 ribu per potong.
Paling gak kan bisa balik modal, untuk belanja lagi, tutupnya.
Thrifting Tak Bisa Dilihat Hitam atau Putih
Praktik ini dinilai memiliki dua sisi yang berbeda, membawa dampak positif bagi lingkungan dan konsumen, namun juga berpotensi mengancam industri tekstil dalam negeri.
Pakar Ekonomi, Suardi Bakri mengatakan barang thrifting pada dasarnya merupakan fenomena yang tidak bisa dilihat secara hitam-putih.
“Sebenarnya khusus thrifting itu sebagai fenomena yang memiliki dampak positif dan negatif,” ujarnya kepada Disway.id .
Di sisi positifnya, thrifting dinilai mampu membantu mengurangi limbah tekstil yang selama ini menjadi permasalahan lingkungan.
Selain itu, tren ini juga meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap konsumsi berkelanjutan, terutama dalam penggunaan pakaian agar tidak mubazir.
Tak hanya itu, thrifting juga membuka peluang bagi masyarakat menengah ke bawah untuk mendapatkan pakaian layak dengan harga yang jauh lebih terjangkau.
“Thrifting bisa membantu mengurangi limbah tekstil, meningkatkan kesadaran konsumsi berkelanjutan, dan memberikan peluang bagi masyarakat menengah ke bawah untuk memperoleh pakaian layak dengan harga terjangkau,” jelasnya.
Menggerus Produk Lokal Potensial
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel
Sumber: