APTI Nilai Regulasi Pembatasan Kadar Tar dan Nikotin Bisa Matikan Petani Tembakau Indonesia

APTI Nilai Regulasi Pembatasan Kadar Tar dan Nikotin Bisa Matikan Petani Tembakau Indonesia

APTI menilai regulasi pembatasan kadar tar dan nikotin dapat mematikan petani tembakau-Istimewa-

Sementara Yudi Wahyudi selaku Ketua Kelompok Tanaman Semusim, Kementerian Pertanian menekankan bahwa tembakau adalah komoditas yang berkontribusi terhadap penerimaan negara hingga Rp217 tiliun yang signifikan terhadap perekonomian nasional.

"Di pedesaan, tembakau terbukti menggerakkan ekonomi masyarakat. Inilah mengapa tembakau menjadi penting. Namun, memang banyak hal-hal eksternal yang mempengaruhi serapan tembakau, termasuk regulasi dengan berbagai pembatasan. Mulai dari dorongan ratifikasi FCTC (Framework Convention on Tobacco Control), yang mana termasuk dorongan menurunkan kadar nikotin," papar Yudi. 

BACA JUGA:PT Sarinah Targetkan Lonjakan 15 Persen Pengunjung Saat Ramadan dan Lebaran 2026

BACA JUGA:Update Informasi Prakiraan Cuaca Jakarta Hari Kamis, 5 Maret 2026: Didominasi Hujan!

Yudi menuturkan varietas tembakau lokal tidak ada yang kadar nikotinnya bawah 1%.

"Varietas tembakau kita, rata-rata kadar nikotinnya 3% - 8%. Bisa dilihat dari varietas tembakau menyebar mulai dari barat hingga timur,"ungkapnya.

Contoh Kemloko (Temanggung): 3-8 persen Mole (Jawa Barat) :1.3-8.36 persen dan Tembakau Madura:1-4%.

Sehingga dampak pembatasan tar dan nikotin akan sangat mengganggu.

"Pada akhirnya industri hasil tembakau tidak bisa menyerap produktivitas petani tembakau.  Sementara ada jutaan rumah tangga yang bergantung pada komoditas tembakau," sebut Yudi.

BACA JUGA:Pengamat Apresiasi BHR Berbasis Kinerja dari Aplikator: Sejalan Prinsip Kemitraan

BACA JUGA:Parsel Ramadan Dompet Dhuafa Bawa Senyum Penyintas Aceh di Balik Terpal

Serangkaian regulasi yang saat ini mengelilingi tembakau, mulai dari pembatasan penjualan, pembatasan iklan, standarisasi kemasan (kemasan polos) dan pembatasan kadar tar nikotin yang sedang hangat saat ini, menurut pandangan Kementan, berdampak pada serapan varietas tembakau lokal.

"Kementan berupaya melakukan peningkatan produksi dan pemanfaatan komoditas tembakau. Strategi ke depan penting memastikan agar komoditas ini dapat dibudidayakan dengan baik, dan kemauan pemerintah memperkuat riset hilirasi sambil tetap melindungi kesejahteraan jutaan petani dan masyarakat," ujar Yudi. 

Adapun Setiari Marwanto selaku Kepala Pusat Riset Tanaman Perkebunan, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), menegaskan ada banyak faktor penentu kadar nikotin tembakau. 

Mulai dari unsur generik, posisi daun pada batang, populasi tanaman, pemupukan dan pemangkasan.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel

Sumber:

Berita Terkait

Close Ads