Ancaman Siber di Era AI, Siapkah Dunia Bisnis Siap Menghadapinya?
Menurut Clara Hsu, Indonesia Country Manager di Synology Inc., perusahaan yang bergerak di bidang penyediaan solusi manajemen data, perkembangan AI telah mengubah secara signifikan cara serangan siber dilakukan saat ini.--Synology
“AI menghilangkan banyak tanda peringatan yang dulu sering digunakan orang untuk mengenali phishing,” kata Clara. “Pesan yang dikirim bisa terdengar alami, profesional, dan sesuai konteks.”
BACA JUGA:Angka Mencengangkan 2025! Kapolda Metro Jaya Ungkap Kecelakaan Maut hingga Serbuan Kejahatan Siber
AI Mempercepat Serangan terhadap Kredensial
Kekhawatiran lain yang semakin meningkat adalah pencurian atau penyalahgunaan kredensial akun yang didukung oleh AI.
Secara tradisional, pelaku serangan mencoba menebak kata sandi atau memanfaatkan kredensial yang bocor dari insiden pelanggaran data sebelumnya.
Dengan AI, proses ini menjadi jauh lebih cepat dan efisien.
Model machine learning dapat menganalisis pola kata sandi, memprediksi variasi yang sering digunakan, lalu mengujinya dalam skala besar. Sistem ini bahkan dapat belajar dari percobaan login yang gagal dan menyesuaikan strategi serangan secara real-time.
Dalam beberapa kasus, pelaku serangan juga meniru pola perilaku pengguna untuk menghindari deteksi. Percobaan login bisa terjadi pada jam kerja yang terlihat normal atau berasal dari lokasi yang tampak sah, sehingga sistem keamanan sulit mengidentifikasinya sebagai aktivitas mencurigakan.
Jika akses berhasil diperoleh, dampaknya dapat berkembang dengan cepat. Kredensial yang dicuri dapat digunakan untuk menjelajahi sistem internal, mengakses data sensitif, hingga meluncurkan serangan ransomware.
BACA JUGA:Polda Metro Terima LP Dugaan Penghinaan Suku Sunda oleh Resbob: Ditangani Direktorat Siber
Ransomware Menjadi Semakin Terencana
Serangan ransomware juga terus berkembang. Jika sebelumnya ransomware langsung mengenkripsi file setelah berhasil masuk ke sistem, kini beberapa varian modern justru memilih untuk bersembunyi terlebih dahulu.
Selama periode ini, malware akan memetakan lingkungan jaringan dan mengidentifikasi data yang paling bernilai. Serangan baru dijalankan ketika pelaku merasa waktunya paling tepat.
Hal ini bisa terjadi saat libur panjang, ketika perusahaan sedang menjalankan acara besar, atau pada periode ketika tim IT kemungkinan tidak dapat merespons dengan cepat.
“Serangan seperti ini semakin terencana,” ujar Clara.
“Penjahat siber tidak hanya fokus untuk masuk ke sistem, tetapi juga memaksimalkan dampaknya setelah berhasil mendapatkan akses.”
BACA JUGA:Angka Mencengangkan 2025! Kapolda Metro Jaya Ungkap Kecelakaan Maut hingga Serbuan Kejahatan Siber
Mengapa Cyber Resilience Semakin Penting
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel
Sumber: